Ada bbrp tulisan di blog2 yg menyudutkan bahwa dalil2 ttg bendera Nabi itu dha'if, munkar, bahkan maudhu'.
Maka dlm kesempatan ini sy mencoba ulang kembali bbrp hadits utk memperkuat hujjah tentang permasalahan tsb.
Sebuah hadits riwayat Imam Thobroni dlm Kitab Al-Mu'jam al-awsath, juz 1, bab Min Ismuhu Ahmad, no.219, hal.201-202 :
حدثنا احمد بن رشدين قال: نا عبد الغفار بن داود ابو صالح الحراني قال: نا حيان بن عبيد الله قال: نا ابو مجلز ﻻحق بن هميد ، عن ابن عباس قال :
كانت راية رسول الله صلى الله عليه و سلم سوداء ولواؤه ابيض مكتوب عليه : ﻻ إله إﻻ الله محمد رسول الله
Dlm hadits tsb Ibnu Abbas menerangkan bahwa royah nabi itu berwarna hitam dan liwanya berwarna putih, tertulis padanya "Lâ ilàha illallàh"
Dlm kitab Al-Mu'jamul Ausath ini Imam Thabrani rah.a. menuliskan sekitar 170-an hadits dari gurunya, Syaikh Ahmad b. Risydin rah.a.
Juga sebuah hadits riwayat Imam Ashbahani dlm Kitab Akhlaq an-Nabi saw. bab Karakteristik Kostum Rasulullah saw. sub bab Memori dari Rayah-nya (Nabi) saw. no.420, hal.153 :
ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺯﻧﺠﻮﻳﻪ ﺍﻟﻤﺨﺮﻣﻲ ، ﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﺴﺮﻱ ﺍﻟﻌﺴﻘﻼﻧﻲ ، ﻧﺎ ﻋﺒﺎﺱ ﺑﻦ ﻃﺎﻟﺐ ، ﻋﻦ ﺣﻴﺎﻥ ﺑﻦ ﻋﺒﻴﺪ ﺍﻟﻠﻪ ، ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻣﺠﺎﺯ ، ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ، ﻗﺎﻝ :
ﻛﺎﻧﺖ ﺭﺍﻳﺔ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺳﻮﺩﺍﺀ ﻭﻟﻮﺍﺀﻩ ﺃﺑﻴﺾ ، ﻣﻜﺘﻮﺏ ﻓﻴﻪ : ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﺤﻤﺪ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ
Satu hadits lg dikeluarkan Imam Ashbahani dlm kitab yg sama, bab dan sub bab yg sama, halaman yg sama, hanya beda nomor hadits dan jalur sanadnya, yaitu no.421, dg sanad :
ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺯﻧﺠﻮﻳﻪ ، ﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﺴﺮﻱ ، ﻧﺎ ﺍﺑﻦ ﻭﻫﺐ ، ﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺣﻤﻴﺪ ، ﻋﻦ ﺍﻟﺰﻫﺮﻱ ، ﻋﻦ ﺳﻌﻴﺪ ﺑﻦ ﺍﻟﻤﺴﻴﺐ ، ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ
Selanjutnya dlm Kitab Al- Anwar fi Syama-il an-Nabi al-Mukhtar, bab ke-72 Mengingati Royah dan Liwa nya Nabi saw., hal.590-591, No.894
ﻭﺣﺪﺛﻨﺎ ﺃﺑﻮ ﻃﺎﻫﺮ ، ﺃﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ، ﺃﻧﺎ ﺃﺑﻮ ﺍﻟﺸﻴﺦ ، ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺯﻧﺠﻮﻳﻪ ﺍﻟﻤﺨﺮﻣﻲ ، ﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﺴﺮﻱ ﺍﻟﻌﺴﻘﻼﻧﻲ ، ﻧﺎ ﻋﺒﺎﺱ ﺑﻦ ﻃﺎﻟﺐ ، ﻋﻦ ﺣﻴﺎﻥ ﺑﻦ ﻋﺒﻴﺪ ﺍﻟﻠﻪ ، ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻣﺠﻠﺰ ، ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻨﻬﻤﺎ ، ﻗﺎﻝ : ﻛﺎﻧﺖ ﺭﺍﻳﺔ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ، ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ، ﺳﻮﺩﺍﺀ ، ﻭﻟﻮﺍﺅﻩ ﺃﺑﻴﺾ ، ﻣﻜﺘﻮﺏ : ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ،
ﻣﺤﻤﺪ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ
Dan diterangkan dlm hadits selanjutnya di No.897, nama benderanya Nabi saw. itu "العقاب - Al 'Uqab"
Kemudian dlm Kitab Al-Kamil nya Ibnu 'Adi
Dari Abdullah b. Umar ra. :
ﺛﻨﺎ ﺛﻨﺎ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ ﺑﻦ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ﺑﻦ ﺣﻴﺎﻥ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩﻱ , ﻭﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺍﻟﻤﻤﺘﻨﻊ , ﻗﺎﻻ : ﺛﻨﺎ ﺃﺑﻮ ﻳﺤﻴﻰ ﺍﻟﻮﻗﺎﺭ , ﺣﺪﺛﻨﻲ ﺍﻟﻌﺒﺎﺱ ﺑﻦ ﻃﺎﻟﺐ ﺍﻷﺯﺩﻱ , ﻋﻦ ﺣﻴﺎﻥ ﺑﻦ ﻋﺒﻴﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺯﻫﻴﺮ ﺍﻟﻌﺪﻭﻱ , ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻣﺨﻠﺪ , ﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ , ﻗﺎﻝ : " ﻛﺎﻧﺖ ﺭﺍﻳﺔ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺳﻮﺩﺍﺀ , ﻣﻜﺘﻮﺑﺎ ﻓﻴﻬﺎ : ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﺤﻤﺪ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ
Lebih kurang ada 120-an kitab telah dituliskan dan dibahas ttg benderanya Nabi saw., termasuk 30-an kitab yg bendera tsb tertulis kalimat tauhid.
Ini yg sy temukan. Tapi bagi yg lebih teliti lagi, sy yakin akan ditemukan kitab2nya lebih banyak lagi.
Tahqiq yg disampaikan dlm bbrp tulisan yg menyudutkan bendera Nabi tsb bertuliskan kalimat tauhid tsb sy nilai gak adil karena hanya disampaikan sisi jarh nya saja.
Kemudian dikunci dg pesan "jangan lupa kaidah kalau ada jarh dan ta'dil, dahulukan jarh nya"
Ini sy kira termasuk pemaksaan pemahaman.
Pertanyaannya,, bagaimana kalo yg menyampaikan jarh itu org yg tergolong dhoif ? Atau org yg punya permusuhan ?
Baik utk meringkas diskusi ini, kt bahas langsung ttg ta'dilnya Hayyan b. Ubaidillah. Karena inti dari maqbul mardudnya hadits ini mengerucutnya pada rawi tsb.
Penilaian dari Imam Abu Ya'la, Hayyan b. Ubaidillah "Tsiqah".
Ini ditulis dlm Kitab Majma'uz-Zawaid, juz 5, hal.321
Jg ditulis dlm Kitab Tharh at-Tatsrib fi Syarh at-Taqrib, juz 7, hal.220
Selanjutnya kita buka Kitab al-Jarh wa al-Ta'dil karya Al Imam Al Hafizh Syaikhul-Islam Abi Hatim ar-Razi, Juz 3, hal.246, No.1093 :
"Shaduq"
Ada yg menulis dg menerangkannya dlm Jarh III : 246. "Shaduq" itu spt digolongkan dlm golongan "Jarh" dg memotong nama kitab aslinya. Padahal "Shaduq" itu termasuk "al-Ta'dil"
Istilah "Shaduq" itu sendiri menunjukkan bahwa perawi tsb jujur dan dpt dipercaya.
Dan kita sama ketahui bahwa Kitab al-Jarh wa al-Ta'dil karya Imam Ibnu Abi Hatim al-Razi itu adalah salah satu kitab utama sbg rujukan bagi para peneliti hadits di zamannya di abad ke 2-3 hijriyah hingga sekarang.
Kemudian selanjutnya penilaian dari Abu Bakar al-Bazar yg mengatakan bahwa Hayyan b. Ubaidillah "Masyhur dan Laisa bihi ba’sa"
Setelah kt ketahui pujian2 yg diistilahkan "al-ta'dil" dari para ulama ahli hadits kpd rowi Hayyan b. 'Ubaidillah,,
Maka kt ketahui hadits2 tsb termasuk hadits mudhtharib.
Sebagian ada yg menguatkan sebagian ada yg melemahkan.
Terus kalo ada yg bilang dlm masalah bendera dg tulisan kalimah tauhid ini semuanya "dhaif" ,,,
Jawabannya : yaaaa dhaif menurut siapa, hasan menurut siapa, shahih menurut siapa ?
Kalo ngotot pokoknya dhaif semua,,, berarti org ini gak mau ngerti ttg ikhtilaf nya ulama.
Dan di banyak keterangan, ditulis
" وهو ظاهر فى التغاير "
Kemudian ditambahkan keterangan
" لعل التفرقة بينهما عرفية "
Pada kitab :
- Fath al-Bari, Juz 7, hal.477
- Al-Muwahib al-Laduniyah bi al-Minah al-Muhammadiyah, Juz 1, hal.201
Dan kitab2 lainnya.
Ini menunjukkan bahwa sudah dimaklumi semenjak dahulu pertentangan di kalangan ulama tentang hadits tsb.
Sampai di sini sy tdk akan mengambil istinbath utk membenarkan atau menyalahkan pendapat dari sebagian kalangan ulama dari sebagiannya lagi.
Karena sy hanya seorng muqallid yg cuma mengikuti pendapat para ulama panutan sy.
Baik di sini akan sy sampaikan kitab2 para ulama yg menerangkan royah dan liwa' Nabi saw. itu tertulis kalimah
ﻻ اله اﻻ الله محمد رسول الله
- Kitab Inaratud-Duja fi Maghzi Khair al-Waraya atau lebih populer dg sebutan Kitab Al-Maghzi al-Waqidi, Bab Ar-Rayah wa al-Liwa', Juz 1, hal.543.
Kitab ini termasuk kitab sejarah Islam terawal dan terpopuler.
- Kitab Subul al-Huda wa al-Rasyad fi Sirah Khairil 'Ibad, Bab Ke-6 tentang Liwa' , Rayah, dan Kemahnya Nabi saw. Juz 7, hal.371
- Kitab Taisir al-'Aziz al-Hamid fi Syarh Kitab al-Tauhid, Bab Seruan kepada Syahadat Laa ilaha illallah, Juz 1, hal.103
- Kitab Syarh Kitab al-Tauhid, karya Syaikh Abdullah b. Muhammad al-Ghunaiman, Bab Mengambil Bendera ketika Perang, Juz 25, hal.14.
- Kitab Fathul-Majid Syarh Kitab al-Tauhid, Bab Dakwah kepada Syahadat Laa ilaha illallah, Juz 1, hal.89
- Kitab Bada-i' al-'Umur fi Waqaa-i’ ad-Duhur, karya Imam Suyuthi, lembar ke-286
Dan masih banyak lagi kitab2nya, tetapi sy kira sdh cukup sebagai rujukan bagi yg mempunyai keyakinan bahwa bendera Nabi saw. itu tertulis kalimah
ﻻ اله اﻻ الله محمد رسول الله
Sebagaimana keyakinannya ulama2 terdahulu,, maka seperti jg keyakinannya ulama2 kita zaman ini :
Ust. Abd. Somad, Ust. Adi Hidayat, Ust. Aa Gym, Habib Rizieq Shihab, dan yg lain2nya.
Dan bukankah ada keterangan bahwa wali yg dulu dakwah di nusantara ini, diutus oleh Sulthan Turki - Sulthan Muhammad (Mehmed) I dan II, membawa bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid,, yg masih tersimpan di museum kraton jogjakarta.
Dan bagaimana dg bendera merah putih bertuliskan Laa ilaha illallah yg dikibarkan para pejuang kemerdekaan pasukan Hizbullah dahulu ?
Ulama2 nusantara ketika itu pasti punya referensi ttg aqidah tsb.
Kalau keterangan itu semua bisa diterima,, maka bentuk khath sebagaimana yg dikritik Didin Sirojuddin AR. utk menuliskan kalimah
ﻻ اله اﻻ الله محمد رسول االه
pada kain bendera tsb menjadi tdk perlu dipersoalkan lagi.
Karena kalau ketika itu Nabi saw. biasa mengirimkan surat kpd raja2 utk berdakwah,,, maka bukanlah suatu yg mustahil utk menuliskannya di sebuah bendera.
Maka tdk berlebihan kalau kami berprasangka bahwa ada yg mengkaburkan aqidah ttg panji hitam Rasulullah.
Ini salah satu fitnah dikalangan ummat, yg nantinya mengarah pada penolakan Al-Mahdi sbg Khalifah akhir zaman.
Ada jg pemahaman bahwa panji hitam Al-Mahdi itu berupa kendaraan "Jet", bukan "Ar-Rayah"
Bahkan ada jg pemahaman bahwa Al-Mahdi itu hanyalah sifat2 kebaikan, bukanlah wujud zhahir.
Lengkap sudah rangkaian fitnah tsb yg saling kait mengait.
اللهم احفظنا من الفتن ما ظهر منها وما بطن
والله اعلم بالصواب
Jumat, 23 November 2018
Selasa, 06 November 2018
PENTINGNYA ADAB
Kyai H. Uzairon Thoifur Abdillah berwashiat :
"Sholat di masjid itu penting.. tapi adab dalam masjid itu lebih penting.. Sholat itu penting.. namun adab dlm sholat itu lebih penting.. Membaca Alquran itu penting..
namun adab membaca Al quran itu lebih penting..
Karena amalan tanpa adab tidak akan ada keberkahannya.. Sebagaimana ada seseorang yang ingin memberikan hadiah yang besar kepada raja namun dengan pakaian yang tidak sopan, dgn tangan kiri.. tentu saja raja akan marah dan menolak hadiah tersebut karena hakikatnya raja tidak perlu pemberian.
Namun sebaliknya walaupun pemberiaan yang kecil namun dengan adab yang baik akan membuat seorang raja senang dan menerima pemberian tersebut walaupun hakikatnya raja tidak perlu dengan pemberian tersebut.
Adab adalah menganggungkan segala sesuatu yang berhubungan dengan agama.
Lahirnya para ulama tidak lepas karena orang tuanya memuliakan Adab.
Muhammad Al fatih, panglima besar penakluk konstantinopel (istanbul) tidak lepas karena orang tuanya sangat memuliakan adab. Dikisahkan orang tuanya tidak pernah duduk apabila dirumahnya ada alquran.. Dalam kitab ihya, Seseorang yang menghormati orang dunia lebih daripada orang akhirat maka anaknya tidak akan pernah jadi anak sholeh apalagi ulama
Raja Romawi mendapatkan keberkahan karena adab, Ketika dikirim surat oleh Baginda Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wa sallam dia menjaga surat dan menyimpannya maka Baginda Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wa sallam berkata bahwa kerajaan romawi (eropa) tidak akan runtuh sampai hari kiamat.
Sebaliknya Raja persia ketika dikirimi surat oleh Baginda Nabi Sallallahu 'Alaihi Wa sallam dia menyobek dan membuangnya maka Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wa sallam berkata kerajaan dia akan runtuh. Maka runtuhlah kerajaan persia.
Dengan adab amal kecil akan bernilai besar dan sebaliknya tanpa adab amal besar bisa tidak bernilai... Semoga kita bisa menjaga adab2 dalam setiap amal perbuatan kita.. Semoga hari2 kita diberkahi oleh Allah Swt dengan adab..
Aamiin."
"Sholat di masjid itu penting.. tapi adab dalam masjid itu lebih penting.. Sholat itu penting.. namun adab dlm sholat itu lebih penting.. Membaca Alquran itu penting..
namun adab membaca Al quran itu lebih penting..
Karena amalan tanpa adab tidak akan ada keberkahannya.. Sebagaimana ada seseorang yang ingin memberikan hadiah yang besar kepada raja namun dengan pakaian yang tidak sopan, dgn tangan kiri.. tentu saja raja akan marah dan menolak hadiah tersebut karena hakikatnya raja tidak perlu pemberian.
Namun sebaliknya walaupun pemberiaan yang kecil namun dengan adab yang baik akan membuat seorang raja senang dan menerima pemberian tersebut walaupun hakikatnya raja tidak perlu dengan pemberian tersebut.
Adab adalah menganggungkan segala sesuatu yang berhubungan dengan agama.
Lahirnya para ulama tidak lepas karena orang tuanya memuliakan Adab.
Muhammad Al fatih, panglima besar penakluk konstantinopel (istanbul) tidak lepas karena orang tuanya sangat memuliakan adab. Dikisahkan orang tuanya tidak pernah duduk apabila dirumahnya ada alquran.. Dalam kitab ihya, Seseorang yang menghormati orang dunia lebih daripada orang akhirat maka anaknya tidak akan pernah jadi anak sholeh apalagi ulama
Raja Romawi mendapatkan keberkahan karena adab, Ketika dikirim surat oleh Baginda Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wa sallam dia menjaga surat dan menyimpannya maka Baginda Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wa sallam berkata bahwa kerajaan romawi (eropa) tidak akan runtuh sampai hari kiamat.
Sebaliknya Raja persia ketika dikirimi surat oleh Baginda Nabi Sallallahu 'Alaihi Wa sallam dia menyobek dan membuangnya maka Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wa sallam berkata kerajaan dia akan runtuh. Maka runtuhlah kerajaan persia.
Dengan adab amal kecil akan bernilai besar dan sebaliknya tanpa adab amal besar bisa tidak bernilai... Semoga kita bisa menjaga adab2 dalam setiap amal perbuatan kita.. Semoga hari2 kita diberkahi oleh Allah Swt dengan adab..
Aamiin."
Senin, 22 Oktober 2018
KEUTAMAAN SHOLAT SHUBUH ☆ 2
Sungguh, orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan (di dunia) dan akan berada dalam neraka (di akhirat
Pada hari mereka diseret ke neraka pada wajahnya. (Dikatakan kepada mereka), “Rasakanlah sentuhan api neraka.”
Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran
Dan perintah Kami hanyalah (dengan) satu perkataan seperti kejapan mata.
Dan sungguh, telah Kami binasakan orang yang serupa dengan kamu (kekafirannya). Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?
Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan.
Dan segala (sesuatu) yang kecil maupun yang besar (semuanya) tertulis.
Sungguh, orang-orang yang bertakwa berada di taman-taman dan sungai-sungai
di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Mahakuasa
Allah bersumpah dalam Al Fajr :
والفجر
“Demi fajar (waktu Subuh)”.
Kemudian dalam Al Falaq Allah mengingatkan: “Katakanlah! aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai waktu subuh”.
Ada apa dibalik waktu Subuh?
Mengapa Allah bersumpah demi waktu Subuh?
Mengapa harus berlindung kepada yang menguasai waktu Subuh? Apakah waktu Subuh sangat berbahaya?
Ya, ternyata waktu Subuh benar-benar sangat berbahaya!
Waktu Subuh lebih kejam dari sekawanan perampok bersenjata api.
Waktu Subuh lebih menyengsarakan dari derita kemiskinan.
Waktu Subuh lebih berbahaya dari kobaran api yang disiram bensin…
Jika ada sekawanan perampok menyatroni rumah anda, dan mengambil paksa semua barang anda. Emas dan semua perhiasan di gondolnya. Uang cash puluhan juta ditilepnya. Laptop, yang berisi data-data penting anda juga diembatnya. Eh, mobil yang belum lunas juga digasaknya. Bagaimana rasa pedih hati anda menerima kenyataan ini?
Ketahuilah, bahwa waktu Subuh lebih kejam dari perampok itu. Karena jika anda tertindas sang waktu Subuh sampai melalaikan shalat fajar, maka anda akan menderita kerugian lebih besar dari sekedar laptop dan mobil. Anda kehilangan dunia dan segala isinya. Ingat,
“Dua rakaat fajar lebih baik dari dunia dan segala isinya” (HR Muslim).
Waktu Subuh juga lebih menyengsarakan dari sekedar kemiskinan dunia. Karena bagi orang-orang yang tergilas waktu Subuh hingga mengabaikan shalat Subuh berjamaah di masjid, maka hakikatnya, merekalah orang-orang miskin sejati
Barangsiapa yang shalat Subuh berjamaah, maka ia bagaikan shalat semalam suntuk” (HR Muslim). Shalat semalam suntuk adalah shalat yang dikerjakan mulai dari tenggelamnya matahari sampai terbit fajar.
Betapa agung fadilah shalat Subuh berjamaah ini. Betapa malangnya orang yang tergilas waktu Subuh, orang-orang yang mengabaikan shalat subuh berjamaah di masjid.
Apa lagi sholat subuhnya di depan ka'bah di makkah
Subhanalloh
Waktu Subuh juga lebih berbahaya dari kobaran api yang disiram bensin.
Mengapa demikian? Tahukah anda bahwa nabi menyetarakan dengan orang munafik bagi yang tidak mampu melaksanakan shalat Subuh berjamaah?
“Sesungguhnya tiada yang dirasa berat oleh seorang munafik, kecuali melaksanakan shalat Isya dan shalat Subuh.
Sekiranya mereka tahu akan keagungan pahalanya, niscaya mereka bakal mendatanginya (ke masjid, shalat berjamaah) sekalipun harus berjalan merangkak-rangkak” (HR Bukhari Muslim).
Orang yang tergerus waktu Subuh hingga tak mampu mendatangi masjid untuk shalat berjamaah adalah orang yang dalam keadaan bahaya, karena disetarakan dengan orang munafik. Padahal, ancaman bagi orang munafik adalah neraka Jahannam.
“Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam” (An Nisa:140).
Bukankah Jahannam lebih berbahaya dari sekedar kobaran api yang disiram bensin?
Nah, agar tidak merasakan tindasan waktu Subuh yang lebih kejam dari perampokan, agar tidak terkena gilasan waktu Subuh yang lebih menyengsarakan dari derita kemiskinan, dan agar tidak tertelan gerusan waktu Subuh yang lebih berbahaya dari kobaran api, maka: “Katakanlah!
قل أعوذ برب الفلق
aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai waktu subuh” (Al Falaq:1). Yaitu dengan memanfaatkan waktu Subuh sebaik-baiknya. Lakukan shalat sunnah (shalat fajar) dan shalat berjamaah di masjid.
Pada hari mereka diseret ke neraka pada wajahnya. (Dikatakan kepada mereka), “Rasakanlah sentuhan api neraka.”
Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran
Dan perintah Kami hanyalah (dengan) satu perkataan seperti kejapan mata.
Dan sungguh, telah Kami binasakan orang yang serupa dengan kamu (kekafirannya). Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?
Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan.
Dan segala (sesuatu) yang kecil maupun yang besar (semuanya) tertulis.
Sungguh, orang-orang yang bertakwa berada di taman-taman dan sungai-sungai
di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Mahakuasa
Allah bersumpah dalam Al Fajr :
والفجر
“Demi fajar (waktu Subuh)”.
Kemudian dalam Al Falaq Allah mengingatkan: “Katakanlah! aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai waktu subuh”.
Ada apa dibalik waktu Subuh?
Mengapa Allah bersumpah demi waktu Subuh?
Mengapa harus berlindung kepada yang menguasai waktu Subuh? Apakah waktu Subuh sangat berbahaya?
Ya, ternyata waktu Subuh benar-benar sangat berbahaya!
Waktu Subuh lebih kejam dari sekawanan perampok bersenjata api.
Waktu Subuh lebih menyengsarakan dari derita kemiskinan.
Waktu Subuh lebih berbahaya dari kobaran api yang disiram bensin…
Jika ada sekawanan perampok menyatroni rumah anda, dan mengambil paksa semua barang anda. Emas dan semua perhiasan di gondolnya. Uang cash puluhan juta ditilepnya. Laptop, yang berisi data-data penting anda juga diembatnya. Eh, mobil yang belum lunas juga digasaknya. Bagaimana rasa pedih hati anda menerima kenyataan ini?
Ketahuilah, bahwa waktu Subuh lebih kejam dari perampok itu. Karena jika anda tertindas sang waktu Subuh sampai melalaikan shalat fajar, maka anda akan menderita kerugian lebih besar dari sekedar laptop dan mobil. Anda kehilangan dunia dan segala isinya. Ingat,
“Dua rakaat fajar lebih baik dari dunia dan segala isinya” (HR Muslim).
Waktu Subuh juga lebih menyengsarakan dari sekedar kemiskinan dunia. Karena bagi orang-orang yang tergilas waktu Subuh hingga mengabaikan shalat Subuh berjamaah di masjid, maka hakikatnya, merekalah orang-orang miskin sejati
Barangsiapa yang shalat Subuh berjamaah, maka ia bagaikan shalat semalam suntuk” (HR Muslim). Shalat semalam suntuk adalah shalat yang dikerjakan mulai dari tenggelamnya matahari sampai terbit fajar.
Betapa agung fadilah shalat Subuh berjamaah ini. Betapa malangnya orang yang tergilas waktu Subuh, orang-orang yang mengabaikan shalat subuh berjamaah di masjid.
Apa lagi sholat subuhnya di depan ka'bah di makkah
Subhanalloh
Waktu Subuh juga lebih berbahaya dari kobaran api yang disiram bensin.
Mengapa demikian? Tahukah anda bahwa nabi menyetarakan dengan orang munafik bagi yang tidak mampu melaksanakan shalat Subuh berjamaah?
“Sesungguhnya tiada yang dirasa berat oleh seorang munafik, kecuali melaksanakan shalat Isya dan shalat Subuh.
Sekiranya mereka tahu akan keagungan pahalanya, niscaya mereka bakal mendatanginya (ke masjid, shalat berjamaah) sekalipun harus berjalan merangkak-rangkak” (HR Bukhari Muslim).
Orang yang tergerus waktu Subuh hingga tak mampu mendatangi masjid untuk shalat berjamaah adalah orang yang dalam keadaan bahaya, karena disetarakan dengan orang munafik. Padahal, ancaman bagi orang munafik adalah neraka Jahannam.
“Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam” (An Nisa:140).
Bukankah Jahannam lebih berbahaya dari sekedar kobaran api yang disiram bensin?
Nah, agar tidak merasakan tindasan waktu Subuh yang lebih kejam dari perampokan, agar tidak terkena gilasan waktu Subuh yang lebih menyengsarakan dari derita kemiskinan, dan agar tidak tertelan gerusan waktu Subuh yang lebih berbahaya dari kobaran api, maka: “Katakanlah!
قل أعوذ برب الفلق
aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai waktu subuh” (Al Falaq:1). Yaitu dengan memanfaatkan waktu Subuh sebaik-baiknya. Lakukan shalat sunnah (shalat fajar) dan shalat berjamaah di masjid.
Sabtu, 20 Oktober 2018
DUNIA SEMENTARA AKHIRAT SELAMA-LAMANYA ☆ 3
Manusia yang diciptakan seorang diri haruslah waspada bahwa ia juga akan mati seorang diri. Namun selama hidupnya, ia hampir selalu hidup untuk memenuhi segala keinginannya. Tujuan utamanya dalam hidup adalah untuk memenuhi hawa nafsunya. Namun, tidak seorang pun dapat membawa harta bendanya ke dalam kuburan. Jenazah dikuburkan hanya dengan dibungkus kain kafan yang dibuat dari bahan yang murah. Tubuh datang ke dunia ini seorang diri dan pergi darinya pun dengan cara yang sama. Modal yang dapat di bawa seseorang ketika mati hanyalah amal-amalnya saja.
Para ulama berkata, manusia itu terbagi menjadi empat bagian, yaitu:
1. Orang yang tenggelam dalam kenikmatan dunia dan tak pernah mengingat maut, karena maut dapat menyebabkan orang meninggalkan kesenangan dan kelezatan. Kalaupun mengingat maut, ia hanya mengingatnya dengan terpaksa.
2. Orang yang kembali kepada Allah Ta'ala hanya dalam tahap permulaan. Ia takut kepada Allah ketika mengingat mati, dan ia juga tetap dalam tobat. Ia takut mati bukan karena meninggalkan dunia dan kelezatannya, tetapi karena belum sempurna tobatnya. Ia tidak ingin mati terlebih dahulu agar dapat memperbaiki amalannya.
Maka, orang semacam ini kebenciannya terhadap mati dapat dimaafkan. Ia tidak termasuk di dalam golongan manusia sebagaimana yang disebutkan dalam hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang artinya, "Barangsiapa benci berjumpa dengan Allah, maka Allah benci berjumpa dengannya."
Sebenarnya, orang ini tidak benci berjumpa dengan Allah, tetapi ia takut terhadap hal yang harus dihadapi sesudahnya. Orang ini seperti gadis yang bersiap-siap untuk menjumpai kekasihnya, agar kekasihnya itu senang kepadanya. Orang ini hanya sibuk dengan apa yang mesti dipersiapkan, bukan sibuk dengan yang lain. Kalau tidak, maka keadannya sama dengan orang yang pertama, yakni tenggelam dalam kesenangan dunia.
3. Seorang arif yang telah sempurna tobatnya. Orang ini menyukai mati, bahkan menginginkan kematian, karena bagi seorang kekasih tidak ada waktu yang lebih indah selain berjumpa dengan orang yang dikasihinya. Dan kematian baginya merupakan saat perjumpaan yang dirindukannya. Orang yang sedang dimabuk rindu tentu tidak akan pernah melupakan waktu kencannya.
Mereka itu ingin segera mati, karena disitu akan terbukti mana yang setia dan mana yang durhaka, serta apa yang akan didapatkannya. Dalam suatu riwayat disebutkan, ketika maut datang hendak menjemput Hudzaifah, ia berkata, "Kekasih datang pada saat kemiskinan, tidak akan beruntung orang yang menyesal. Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan dari fitnah."
4. Orang yang berada pada tingkatan yang tertinggi. Orang ini dalam keadaan rela, yakni segala seuatu yang dimilikinya dipersembahkan untuk Allah saja. Ia tidak mempunyai keinginan untuk mati ataupun hidup. Inilah puncak kerinduan, maqam rida dan pasrah.
Setiap saat orang ini selalu mengingat mati. Bahkan, bagi orang yang sibuk dalam keduniaan hendaknya mengingat mati, karena dengan mengingat mati akan menyebabkan seseorang mampu meninggalkan kelezatan dunia dan menjauhinya.
Para ulama berkata, manusia itu terbagi menjadi empat bagian, yaitu:
1. Orang yang tenggelam dalam kenikmatan dunia dan tak pernah mengingat maut, karena maut dapat menyebabkan orang meninggalkan kesenangan dan kelezatan. Kalaupun mengingat maut, ia hanya mengingatnya dengan terpaksa.
2. Orang yang kembali kepada Allah Ta'ala hanya dalam tahap permulaan. Ia takut kepada Allah ketika mengingat mati, dan ia juga tetap dalam tobat. Ia takut mati bukan karena meninggalkan dunia dan kelezatannya, tetapi karena belum sempurna tobatnya. Ia tidak ingin mati terlebih dahulu agar dapat memperbaiki amalannya.
Maka, orang semacam ini kebenciannya terhadap mati dapat dimaafkan. Ia tidak termasuk di dalam golongan manusia sebagaimana yang disebutkan dalam hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang artinya, "Barangsiapa benci berjumpa dengan Allah, maka Allah benci berjumpa dengannya."
Sebenarnya, orang ini tidak benci berjumpa dengan Allah, tetapi ia takut terhadap hal yang harus dihadapi sesudahnya. Orang ini seperti gadis yang bersiap-siap untuk menjumpai kekasihnya, agar kekasihnya itu senang kepadanya. Orang ini hanya sibuk dengan apa yang mesti dipersiapkan, bukan sibuk dengan yang lain. Kalau tidak, maka keadannya sama dengan orang yang pertama, yakni tenggelam dalam kesenangan dunia.
3. Seorang arif yang telah sempurna tobatnya. Orang ini menyukai mati, bahkan menginginkan kematian, karena bagi seorang kekasih tidak ada waktu yang lebih indah selain berjumpa dengan orang yang dikasihinya. Dan kematian baginya merupakan saat perjumpaan yang dirindukannya. Orang yang sedang dimabuk rindu tentu tidak akan pernah melupakan waktu kencannya.
Mereka itu ingin segera mati, karena disitu akan terbukti mana yang setia dan mana yang durhaka, serta apa yang akan didapatkannya. Dalam suatu riwayat disebutkan, ketika maut datang hendak menjemput Hudzaifah, ia berkata, "Kekasih datang pada saat kemiskinan, tidak akan beruntung orang yang menyesal. Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan dari fitnah."
4. Orang yang berada pada tingkatan yang tertinggi. Orang ini dalam keadaan rela, yakni segala seuatu yang dimilikinya dipersembahkan untuk Allah saja. Ia tidak mempunyai keinginan untuk mati ataupun hidup. Inilah puncak kerinduan, maqam rida dan pasrah.
Setiap saat orang ini selalu mengingat mati. Bahkan, bagi orang yang sibuk dalam keduniaan hendaknya mengingat mati, karena dengan mengingat mati akan menyebabkan seseorang mampu meninggalkan kelezatan dunia dan menjauhinya.
Jumat, 19 Oktober 2018
KEUTAMAAN SHOLAT TAHAJUD
وكان صلة بن أشيم رحمه الله يصلي الليل كله فإذا كان في السحر قال: إلهي ليس مثلي يطلب الجنة ولكن أجرني برحمتك من النار
Shilah bin Asy-yam melaksanakan qiyamullail sepanjang malam. Pada waktu sahur ia berkata: “Wahai Tuhanku, aku tak layak meminta surga kepada-Mu. Akan tetapi aku memohon selamatkanlah aku dari neraka-Mu dengan rahmat-Mu”
وقال الربيع: بت في منزل الشافعي رضي الله عنه ليالي كثيرة فلم يكن ينام من الليل إلا يسيراً.
Ar-Rabi’ berkata: “Saya sering tidur di rumah Imam Syafi’i, ia tidur hanya sebentar saja”
Kita banyak tidur kalo imam syafii sedikit tidur
Kalo kita sedikit sediktit tidur ayoooo bangun
وقال أبو الجويرية. لقد صحبت أبا حنيفة رضي الله عنه ستة أشهر فما فيها ليلة وضع جنبه على الأرض.
Abu al-Juwairiyah berkata: “Saya berteman dengan Imam Hanafi selama enam bulan, tidak pernah satu malam pun ia berbaring di lantai”
إن وهب بن منبه اليماني ما وضع جنبه إلى الأرض ثلاثين سنة وكان يقول: لأن أرى في بيتي شيطاناً أحب إلي من أن أرى في بيتي وسادة لأنها تدعو إلى النوم
Imam Wahab bin Munabbih al-Yamani berkata: “Lebih baik aku melihat setan di rumahku daripada melihat bantal, karena bantal itu mengajak tidur”
Orang yang tahajjud keutamaannya :
Diberi Tempat Yang Terpuji.
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودا
“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”. (Qs. Al-Isra’ [17]: 79).
Mendapat Naungan Allah Swt.
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ …وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah Swt pada hari tidak ada naungan kecuali naungan Allah Swt … seseorang yang berzikir dalam keadaan sepi hingga menetes air matanya. (Hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim).
Mendapatkan Syafaat (Pertolongan).
الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَىْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. قَالَ فَيُشَفَّعَانِ
Puasa dan al-Qur’an memberi syafaat pada seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata: “Wahai Tuhanku, aku mencegahnya dari makanan dan syahwat di waktu siang, beri aku syafaat untuknya”. Al-Qur’an berkata: “Aku mencegahnya untuk tidur di waktu malam, beri aku syafaatnya untuknya”. Puasa dan al-Qur’an memberikan syafaat untuknya. (Hadits riwayat Ahmad).
Mata Tidak Tersentuh Api Neraka.
عَيْنَانِ لاَ تَمَسُّهُمَا النَّارُ عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ“Dua mata tidak disentuh api neraka; mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang berjaga pada jihad fi sabilillah”. (Hadits riwayat Imam at-Tirmidzi).
Mendapat Cinta Allah Swt.
وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ
“Tidaklah Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepadaku dengan amalan-amalan sunnah, hingga Aku mencintainya”. (Hadits riwayat al-Bukhari). Diantara amalan-amalan sunnah yang utama adalah Qiyamullail.
Permohonan Dikabulkan.
فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ
Jika Aku telah mencintainya, Aku akan menjadi pendengarannya dengan itu ia mendengar. Aku akan menjadi penghlihatannya dengan itu ia melihat. Aku akan menjadi tangannya dengan itu ia menggenggam. Aku akan menjadi kakinya dengan itu ia berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, maka Aku pasti memberinya. Jika ia meminta perlindungan, maka pasti Aku melindunginya”. (Hadits riwayat al-Bukhari).
Waktu Tenang Untuk Muhasabah.
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِى الدُّنْيَا.
“Muhasabahlah diri kamu sebelum kamu dihisab, timbang-timbanglah diri kamu pada hari ditampakkannya amal. Hisab akan ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab dirinya di dunia”. (Hadits riwayat at-Tirmidzi).
Mendapat Sifat Orang Bertakwa.
وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ“Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar”. (Qs. Adz-Dzariyat [51]: 18).
Waktu Terkabulnya Doa.
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ
“Rahmat Allah Swt turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir, Allah berfirman: “Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku perkenankan untuknya. Siapa yang memohon kepada-Ku, maka akan Aku beri. Siapa yang memohon ampun, maka Aku ampuni”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).”.
عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – أَنَّ نَبِىَّ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ فَقَالَتْ عَائِشَةُ لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ « أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا »
Dari Aisyah, Rasulullah Saw shalat malam hingga bengkak kedua kakinya. Aisyah bertanya: “Mengapa engkau melakukan ini wahai Rasulullah, padahal Allah telah mengampuni dosamu yang lalu dan yang akan datang?”. Rasulullah Saw menjawab: “Aku ingin menjadi hamba Allah yang bersyukur”. (HR. Al-Bukhari)
وكان ابن معسود رضي الله عنه إذا هدأت العيون قام فيسمع له دوي كدوي النحل حتى يصبح Ketika mata manusia telah lelap, Ibnu Mas’ud bangun, terdengar suara dengungan seperti suara dengungan tawon, hingga shubuh tiba
Saking suara munajat beliau mengis kepada alloh
.إن سفيان الثوري رحمه الله شبع ليلة فقال: إن الحمار إذا زيد في علفه زيد في عمله فقام تلك الليلة حتى أصبح
Imam Sufyan ats-Tsauri makan sampai kenyang pada suatu malam, lalu ia berkata: “Jika seekor keledai ditambah makanannya, maka ditambah juga bebannya”. Maka ia qiyamullail malam itu sampai shubuh.
Perlu kita meningkatkan amal kita tengok orang sholeh sebelum kita
الصالحين من سفره فمهد له فراش فنام عليه حتى فاته ورده فحلف ألا ينام بعدها على فراش أبداً.
Ada seorang orang yang shaleh tiba dari perjalanan jauh, lalu ia diberi kasur, maka ia pun tertidur pulas hingga ketinggalan qiyamullail. Maka ia bersumpah tidak akan tidur di atas kasur selamanya.
وكان عبد العزيز بن رواد إذا جن عليه الليل يأتي فراشه فيمد يده عليه ويقول: إنك للين ووالله إن في الجنة لألين منك ولا يزال يصلي الليل كله
Abdul Aziz bin Rawad, jika malam tiba, ia datang ke kasurnya sambil mengulurkan tangannya: “Wahai kasur, engkau empuk, demi Allah di dalam surga ada yang lebih empuk dari mu”. Ia pun shalat sepanjang malam.
الحسن: إن الرجل ليذنب الذنب فيحرم به قيام الليل.
Imam al-Hasan berkata: “Seseorang melakukan perbuatan dosa, maka ia pun tidak diperkenankan mendapat qiyamullail”.
Jadi kalo kita ngak bisa tahajjud itu sebabnya karna di hari iti ada dosa yang kaliat perbuat sehingga terhalang dari menghadap kepada alloh di malam hari
Malam hari itu malam munajat malam tenang malam istighfar malam doa malam malam yang penuh anugrah
Makanya orang sholeh zaman dulu faham urusan ini
Imam achmad bilang saya heran kepada pencari akhirat tapi ia tidur nyenyak di malam hari dia tidak tahajjud
Setan telah kencingi telinga orang yang dia tidak bangun dari tidurnya untuk sholat
Shilah bin Asy-yam melaksanakan qiyamullail sepanjang malam. Pada waktu sahur ia berkata: “Wahai Tuhanku, aku tak layak meminta surga kepada-Mu. Akan tetapi aku memohon selamatkanlah aku dari neraka-Mu dengan rahmat-Mu”
وقال الربيع: بت في منزل الشافعي رضي الله عنه ليالي كثيرة فلم يكن ينام من الليل إلا يسيراً.
Ar-Rabi’ berkata: “Saya sering tidur di rumah Imam Syafi’i, ia tidur hanya sebentar saja”
Kita banyak tidur kalo imam syafii sedikit tidur
Kalo kita sedikit sediktit tidur ayoooo bangun
وقال أبو الجويرية. لقد صحبت أبا حنيفة رضي الله عنه ستة أشهر فما فيها ليلة وضع جنبه على الأرض.
Abu al-Juwairiyah berkata: “Saya berteman dengan Imam Hanafi selama enam bulan, tidak pernah satu malam pun ia berbaring di lantai”
إن وهب بن منبه اليماني ما وضع جنبه إلى الأرض ثلاثين سنة وكان يقول: لأن أرى في بيتي شيطاناً أحب إلي من أن أرى في بيتي وسادة لأنها تدعو إلى النوم
Imam Wahab bin Munabbih al-Yamani berkata: “Lebih baik aku melihat setan di rumahku daripada melihat bantal, karena bantal itu mengajak tidur”
Orang yang tahajjud keutamaannya :
Diberi Tempat Yang Terpuji.
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودا
“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”. (Qs. Al-Isra’ [17]: 79).
Mendapat Naungan Allah Swt.
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ …وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah Swt pada hari tidak ada naungan kecuali naungan Allah Swt … seseorang yang berzikir dalam keadaan sepi hingga menetes air matanya. (Hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim).
Mendapatkan Syafaat (Pertolongan).
الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَىْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. قَالَ فَيُشَفَّعَانِ
Puasa dan al-Qur’an memberi syafaat pada seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata: “Wahai Tuhanku, aku mencegahnya dari makanan dan syahwat di waktu siang, beri aku syafaat untuknya”. Al-Qur’an berkata: “Aku mencegahnya untuk tidur di waktu malam, beri aku syafaatnya untuknya”. Puasa dan al-Qur’an memberikan syafaat untuknya. (Hadits riwayat Ahmad).
Mata Tidak Tersentuh Api Neraka.
عَيْنَانِ لاَ تَمَسُّهُمَا النَّارُ عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ“Dua mata tidak disentuh api neraka; mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang berjaga pada jihad fi sabilillah”. (Hadits riwayat Imam at-Tirmidzi).
Mendapat Cinta Allah Swt.
وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ
“Tidaklah Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepadaku dengan amalan-amalan sunnah, hingga Aku mencintainya”. (Hadits riwayat al-Bukhari). Diantara amalan-amalan sunnah yang utama adalah Qiyamullail.
Permohonan Dikabulkan.
فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ
Jika Aku telah mencintainya, Aku akan menjadi pendengarannya dengan itu ia mendengar. Aku akan menjadi penghlihatannya dengan itu ia melihat. Aku akan menjadi tangannya dengan itu ia menggenggam. Aku akan menjadi kakinya dengan itu ia berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, maka Aku pasti memberinya. Jika ia meminta perlindungan, maka pasti Aku melindunginya”. (Hadits riwayat al-Bukhari).
Waktu Tenang Untuk Muhasabah.
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِى الدُّنْيَا.
“Muhasabahlah diri kamu sebelum kamu dihisab, timbang-timbanglah diri kamu pada hari ditampakkannya amal. Hisab akan ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab dirinya di dunia”. (Hadits riwayat at-Tirmidzi).
Mendapat Sifat Orang Bertakwa.
وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ“Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar”. (Qs. Adz-Dzariyat [51]: 18).
Waktu Terkabulnya Doa.
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ
“Rahmat Allah Swt turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir, Allah berfirman: “Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku perkenankan untuknya. Siapa yang memohon kepada-Ku, maka akan Aku beri. Siapa yang memohon ampun, maka Aku ampuni”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).”.
عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – أَنَّ نَبِىَّ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ فَقَالَتْ عَائِشَةُ لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ « أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا »
Dari Aisyah, Rasulullah Saw shalat malam hingga bengkak kedua kakinya. Aisyah bertanya: “Mengapa engkau melakukan ini wahai Rasulullah, padahal Allah telah mengampuni dosamu yang lalu dan yang akan datang?”. Rasulullah Saw menjawab: “Aku ingin menjadi hamba Allah yang bersyukur”. (HR. Al-Bukhari)
وكان ابن معسود رضي الله عنه إذا هدأت العيون قام فيسمع له دوي كدوي النحل حتى يصبح Ketika mata manusia telah lelap, Ibnu Mas’ud bangun, terdengar suara dengungan seperti suara dengungan tawon, hingga shubuh tiba
Saking suara munajat beliau mengis kepada alloh
.إن سفيان الثوري رحمه الله شبع ليلة فقال: إن الحمار إذا زيد في علفه زيد في عمله فقام تلك الليلة حتى أصبح
Imam Sufyan ats-Tsauri makan sampai kenyang pada suatu malam, lalu ia berkata: “Jika seekor keledai ditambah makanannya, maka ditambah juga bebannya”. Maka ia qiyamullail malam itu sampai shubuh.
Perlu kita meningkatkan amal kita tengok orang sholeh sebelum kita
الصالحين من سفره فمهد له فراش فنام عليه حتى فاته ورده فحلف ألا ينام بعدها على فراش أبداً.
Ada seorang orang yang shaleh tiba dari perjalanan jauh, lalu ia diberi kasur, maka ia pun tertidur pulas hingga ketinggalan qiyamullail. Maka ia bersumpah tidak akan tidur di atas kasur selamanya.
وكان عبد العزيز بن رواد إذا جن عليه الليل يأتي فراشه فيمد يده عليه ويقول: إنك للين ووالله إن في الجنة لألين منك ولا يزال يصلي الليل كله
Abdul Aziz bin Rawad, jika malam tiba, ia datang ke kasurnya sambil mengulurkan tangannya: “Wahai kasur, engkau empuk, demi Allah di dalam surga ada yang lebih empuk dari mu”. Ia pun shalat sepanjang malam.
الحسن: إن الرجل ليذنب الذنب فيحرم به قيام الليل.
Imam al-Hasan berkata: “Seseorang melakukan perbuatan dosa, maka ia pun tidak diperkenankan mendapat qiyamullail”.
Jadi kalo kita ngak bisa tahajjud itu sebabnya karna di hari iti ada dosa yang kaliat perbuat sehingga terhalang dari menghadap kepada alloh di malam hari
Malam hari itu malam munajat malam tenang malam istighfar malam doa malam malam yang penuh anugrah
Makanya orang sholeh zaman dulu faham urusan ini
Imam achmad bilang saya heran kepada pencari akhirat tapi ia tidur nyenyak di malam hari dia tidak tahajjud
Setan telah kencingi telinga orang yang dia tidak bangun dari tidurnya untuk sholat
Kamis, 18 Oktober 2018
HIJRAH
Nasehat Syaikhuna alm. KH.Uzairon TA
(Pengasuh Ponpes Alfatah Temboro)
Senantiasa kita mengingati dan menyadari, bahwa kita ini dalam satu perjalanan yang sangat jauh dan sangat panjang, perjalanan menuju akhirat, tambah hari tambah dekat kita kepada akhirat, oleh karena itu tambah hari, tambah hari, semestinya tambah kita mengingati akhirat, tambah menyiapkan diri kita untuk kehidupan diakhirat, menghabiskan fikir kita tenaga kita dan seluruh apa yang Alloh berikan kepada kita untuk membangun akhirat kita, tambah hari, tambah hari, tambah dekat perpisahan kita dengan dunia, maka semestinya tambah hari tambah berkurang kecintaan kita dan kesibukan kita untuk dunia ini.
Sebentar lagi kita akan berjumpa dengan Alloh, menghadap kepada Alloh, kemudian Alloh akan bertanya kepada kita mengenai amal-amal kita, maka semestinya orang yang beriman tambah hari tambah mempersiapkan diri untuk pertemuan yang besar ini, pertemuan dengan Alloh SWT
Orang kafir, karena mereka tidak kenal dengan Alloh, tidak kenal dengan akhirat, siang dan malam yang difikirkan adalah hartanya, hartanya dan hartanya. Orang beriman, yang sudah kenal kepada Alloh, sudah kenal dengan kehidupan akhirat, yang dia pikirkan siang dan malam adalah amalnya, amalnya dan amalnya.
Tanpa terasa tiba-tiba sudah tahun baru hijriyah. Sayyidina Umar Ra yang telah memulai tahun penanggalan islam dengan hijriyah ini.
Banyak orang usul pada waktu itu dalam musyawaroh, ini umat islam mau memulai penanggalan dari mana, maka sebagian usul, hendaknya penanggalan islam ini dimulai dari kelahiran Nabi SAW, karena tidak ada nikmat yang lebih besar yang telah Alloh berikan pada umat ini, melebihi diutusnya baginda Muhammad SAW kepada umat ini. Sebagian ada yang mengusulkan bahwa tahun baru islam ini hendaknya dimulai dari kenabian Baginda Nabi SAW ketika beliau menerima wahyu yang pertama, karena tidak ada anugerah yang lebih besar kepada umat ini, melebihi di turunkanya wahyu dari langit untuk membimbing umat ini yaitu Al-Quran, macam-macam usulan pada waktu itu. Tetapi Sayyidina Umar bin Khotob Ra memutuskan bahwa penanggalan islam ini dimulai dari hijrah.
Yang di kehendaki oleh Sayyidina Umar Ra, untuk memberikan pelajaran kepada umat, karena hijrah ini adalah suatu amalan yang di kerjakan oleh semua umat. Kalau hari penanggalan ini dimulai dari kelahiran Baginda Nabi SAW atau turunnya wahyu, maka seolah-olah kita ini diajari hanya untuk mengingati Baginda Nabi SAW saja. Tetapi dengan penanggalan dimulai dari hijrah ini, kita diingatkan oleh Sayidina Umar Ra kepada perjuangan Baginda Nabi SAW dan perjuangan umat seluruhnya. Baginda Nabi hijrah, para sahabat hijrah, laki-laki hijrah, wanita hijrah, anak-anak hijrah, ke Madinah Al Munawaroh, maksud daripada hijrah ini hanya satu saja, yaitu ingin bisa mengamalkan agama secara sempurna.
Dan untuk bisa mengamalkan agama secara sempurna ini, tidak cukup dengan pengorbanan Nabi saja, tetapi harus pengorbanan umat, karena yang berhajat kepada agama ini adalah umat, maka harus pengorbanan umat. Tidak ada keraguan bahwa Baginda Nabi semulia-mulianya para Nabi, semulia-mulianya para Rosul, tidak ada makhluk yang membandingi beliau.
Hadirin yang dimuliakan Alloh SWT, tetapi masalahnya bukan masalah itu, agama ini keperluan umat, maka yang berkorban juga harus umat. Baginda Nabi korban, para sahabat korban, laki-laki korban, wanita korban, meninggalkan segalanya menuju Madinah Al munawaroh, sampai di Madinah Al Munawaroh, maka Alloh SWT bangkitkan orang-orang Madinah untuk menjadi pembela-pembela mereka.
طَلَعَ الْبَدْرُ عَلَيْنَا مِنْ ثَنِيَّةِ الْوَدَاعِ
وَجَبَ الشُّكْرُ عَلَيْنَا مَا دَاعَ لِلَّهِ الدَّاعٍ
Telah terbit purnama di atas kita.
Muncul dari Tsaniyatul Wada’.
Wajib bersyukur atas kita.
Selagi Da’i yang mengajak kepada Alloh masih ada.
Laki-laki, wanita, anak-anak, semua mereka bersatu, untuk membela orang-orang muhajirin, Baginda Nabi dan para sahabatnya.
Akhirnya timbulah suatu kerjasama yang luar biasa, kerjasama yang hanya semata-mata karena Alloh, kerjasama yang semata-mata karena agama Alloh, kerjasama yang semata-mata hanya untuk bagaimana mengamalkan agama Alloh, maka ini betul-betul mengesan dalam hati Sayyidina Umar dan para sahabat pada waktu itu, sehingga diputuskan bahwa tahun baru penanggalan umat islam dimulai daripada hijrah, setiap hari kita melihat tanggalan, maka kita teringat hijrah, bahwa agama ini perlu hijroh, tanpa hijrah kita tidak bisa mengamalkan agama.
Hijrah ini ada dua, ada hijrah tempat, hijrah materi, hijrah tempat dari Makah ke Madinah, tapi hijrah yang sesungguhnya adalah hijrah amalan.
Baginda Nabi SAW mengatakan :
وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَاجَرَ عَمَّا نَهَى اللهُ عَنْهُ
“Orang yang hijroh yang sebenar-benarnya hijroh, adalah orang-orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Alloh”.
Itulah hijrah yang sebenarnya. Maka setiap hari kita mesti hijrah, hijrah dari kekufuran menuju keimanan, hijrah daripada kemaksiatan menuju ketaatan, hijrah daripada kelalaian menuju dzikrulloh, hijrah dari kebodohan menuju ilmu Alloh, hijrah dari keburukan menuju kebaikan, senantiasa kita ini harus berusaha hijrah, usaha perubahan-perubahan amalan, amalan yang buruk mesti kita tinggalkan, karena amalan-amalan yang buruk nanti akan menjadi masalah selama-lamanya yang tidak ada habis-habisnya apabila kita tidak hijrah, tidak bertobat daripada amalan-amalan yang buruk itu.
مَنْ لَزِمَ اْلإِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ
“Barang siapa senantiasa istighfar dan istighfar ini bagian daripada hijroh, bahkan keburukan-keburukan menuju kebaikan, maka Alloh SWT akan memberikan jalan keluar dari kesulitan-kesulitannya dan Alloh akan memberikan kepadanya rizki dari tempat yang tidak disangka-sangka.”
Maka hari jum’at ini juga hari hijrah, bagaimana kita tinggalkan keburukan-keburukan menuju kebaikan-kebaikan, keburukan apa saja, keburukan yang berkaitan dengan keluarga, bagaimana didalam keluarga kita ada suasana hijrah, perkara-perkara yang buruk kita tinggalkan, sehingga suasana rumah sahabat ada dirumah-rumah kita, di kampung kitapun harus ada suasana hijrah, bagaimana amalan-amalan yang buruk ditinggalkan dan amalan yang haq ditegakkan.
Seluruh umat hijrah bersama-sama untuk meninggalkan keburukan-keburukan dan menegakkan kebenaran.pengasuh ponpes Alfatah Temboro)
Senantiasa kita mengingati dan menyadari, bahwa kita ini dalam satu perjalanan yang sangat jauh dan sangat panjang, perjalanan menuju akhirat, tambah hari tambah dekat kita kepada akhirat, oleh karena itu tambah hari, tambah hari, semestinya tambah kita mengingati akhirat, tambah menyiapkan diri kita untuk kehidupan diakhirat, menghabiskan fikir kita tenaga kita dan seluruh apa yang Alloh berikan kepada kita untuk membangun akhirat kita, tambah hari, tambah hari, tambah dekat perpisahan kita dengan dunia, maka semestinya tambah hari tambah berkurang kecintaan kita dan kesibukan kita untuk dunia ini.
Sebentar lagi kita akan berjumpa dengan Alloh, menghadap kepada Alloh, kemudian Alloh akan bertanya kepada kita mengenai amal-amal kita, maka semestinya orang yang beriman tambah hari tambah mempersiapkan diri untuk pertemuan yang besar ini, pertemuan dengan Alloh SWT
Orang kafir, karena mereka tidak kenal dengan Alloh, tidak kenal dengan akhirat, siang dan malam yang difikirkan adalah hartanya, hartanya dan hartanya. Orang beriman, yang sudah kenal kepada Alloh, sudah kenal dengan kehidupan akhirat, yang dia pikirkan siang dan malam adalah amalnya, amalnya dan amalnya.
Tanpa terasa tiba-tiba sudah tahun baru hijriyah. Sayyidina Umar Ra yang telah memulai tahun penanggalan islam dengan hijriyah ini.
Banyak orang usul pada waktu itu dalam musyawaroh, ini umat islam mau memulai penanggalan dari mana, maka sebagian usul, hendaknya penanggalan islam ini dimulai dari kelahiran Nabi SAW, karena tidak ada nikmat yang lebih besar yang telah Alloh berikan pada umat ini, melebihi diutusnya baginda Muhammad SAW kepada umat ini. Sebagian ada yang mengusulkan bahwa tahun baru islam ini hendaknya dimulai dari kenabian Baginda Nabi SAW ketika beliau menerima wahyu yang pertama, karena tidak ada anugerah yang lebih besar kepada umat ini, melebihi di turunkanya wahyu dari langit untuk membimbing umat ini yaitu Al-Quran, macam-macam usulan pada waktu itu. Tetapi Sayyidina Umar bin Khotob Ra memutuskan bahwa penanggalan islam ini dimulai dari hijrah.
Yang di kehendaki oleh Sayyidina Umar Ra, untuk memberikan pelajaran kepada umat, karena hijrah ini adalah suatu amalan yang di kerjakan oleh semua umat. Kalau hari penanggalan ini dimulai dari kelahiran Baginda Nabi SAW atau turunnya wahyu, maka seolah-olah kita ini diajari hanya untuk mengingati Baginda Nabi SAW saja. Tetapi dengan penanggalan dimulai dari hijrah ini, kita diingatkan oleh Sayidina Umar Ra kepada perjuangan Baginda Nabi SAW dan perjuangan umat seluruhnya. Baginda Nabi hijrah, para sahabat hijrah, laki-laki hijrah, wanita hijrah, anak-anak hijrah, ke Madinah Al Munawaroh, maksud daripada hijrah ini hanya satu saja, yaitu ingin bisa mengamalkan agama secara sempurna.
Dan untuk bisa mengamalkan agama secara sempurna ini, tidak cukup dengan pengorbanan Nabi saja, tetapi harus pengorbanan umat, karena yang berhajat kepada agama ini adalah umat, maka harus pengorbanan umat. Tidak ada keraguan bahwa Baginda Nabi semulia-mulianya para Nabi, semulia-mulianya para Rosul, tidak ada makhluk yang membandingi beliau.
Hadirin yang dimuliakan Alloh SWT, tetapi masalahnya bukan masalah itu, agama ini keperluan umat, maka yang berkorban juga harus umat. Baginda Nabi korban, para sahabat korban, laki-laki korban, wanita korban, meninggalkan segalanya menuju Madinah Al munawaroh, sampai di Madinah Al Munawaroh, maka Alloh SWT bangkitkan orang-orang Madinah untuk menjadi pembela-pembela mereka.
طَلَعَ الْبَدْرُ عَلَيْنَا مِنْ ثَنِيَّةِ الْوَدَاعِ
وَجَبَ الشُّكْرُ عَلَيْنَا مَا دَاعَ لِلَّهِ الدَّاعٍ
Telah terbit purnama di atas kita.
Muncul dari Tsaniyatul Wada’.
Wajib bersyukur atas kita.
Selagi Da’i yang mengajak kepada Alloh masih ada.
Laki-laki, wanita, anak-anak, semua mereka bersatu, untuk membela orang-orang muhajirin, Baginda Nabi dan para sahabatnya.
Akhirnya timbulah suatu kerjasama yang luar biasa, kerjasama yang hanya semata-mata karena Alloh, kerjasama yang semata-mata karena agama Alloh, kerjasama yang semata-mata hanya untuk bagaimana mengamalkan agama Alloh, maka ini betul-betul mengesan dalam hati Sayyidina Umar dan para sahabat pada waktu itu, sehingga diputuskan bahwa tahun baru penanggalan umat islam dimulai daripada hijrah, setiap hari kita melihat tanggalan, maka kita teringat hijrah, bahwa agama ini perlu hijroh, tanpa hijrah kita tidak bisa mengamalkan agama.
Hijrah ini ada dua, ada hijrah tempat, hijrah materi, hijrah tempat dari Makah ke Madinah, tapi hijrah yang sesungguhnya adalah hijrah amalan.
Baginda Nabi SAW mengatakan :
وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَاجَرَ عَمَّا نَهَى اللهُ عَنْهُ
“Orang yang hijroh yang sebenar-benarnya hijroh, adalah orang-orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Alloh”.
Itulah hijrah yang sebenarnya. Maka setiap hari kita mesti hijrah, hijrah dari kekufuran menuju keimanan, hijrah daripada kemaksiatan menuju ketaatan, hijrah daripada kelalaian menuju dzikrulloh, hijrah dari kebodohan menuju ilmu Alloh, hijrah dari keburukan menuju kebaikan, senantiasa kita ini harus berusaha hijrah, usaha perubahan-perubahan amalan, amalan yang buruk mesti kita tinggalkan, karena amalan-amalan yang buruk nanti akan menjadi masalah selama-lamanya yang tidak ada habis-habisnya apabila kita tidak hijrah, tidak bertobat daripada amalan-amalan yang buruk itu.
مَنْ لَزِمَ اْلإِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ
“Barang siapa senantiasa istighfar dan istighfar ini bagian daripada hijroh, bahkan keburukan-keburukan menuju kebaikan, maka Alloh SWT akan memberikan jalan keluar dari kesulitan-kesulitannya dan Alloh akan memberikan kepadanya rizki dari tempat yang tidak disangka-sangka.”
Maka hari jum’at ini juga hari hijrah, bagaimana kita tinggalkan keburukan-keburukan menuju kebaikan-kebaikan, keburukan apa saja, keburukan yang berkaitan dengan keluarga, bagaimana didalam keluarga kita ada suasana hijrah, perkara-perkara yang buruk kita tinggalkan, sehingga suasana rumah sahabat ada dirumah-rumah kita, di kampung kitapun harus ada suasana hijrah, bagaimana amalan-amalan yang buruk ditinggalkan dan amalan yang haq ditegakkan.
Seluruh umat hijrah bersama-sama untuk meninggalkan keburukan-keburukan dan menegakkan kebenaran.
(Pengasuh Ponpes Alfatah Temboro)
Senantiasa kita mengingati dan menyadari, bahwa kita ini dalam satu perjalanan yang sangat jauh dan sangat panjang, perjalanan menuju akhirat, tambah hari tambah dekat kita kepada akhirat, oleh karena itu tambah hari, tambah hari, semestinya tambah kita mengingati akhirat, tambah menyiapkan diri kita untuk kehidupan diakhirat, menghabiskan fikir kita tenaga kita dan seluruh apa yang Alloh berikan kepada kita untuk membangun akhirat kita, tambah hari, tambah hari, tambah dekat perpisahan kita dengan dunia, maka semestinya tambah hari tambah berkurang kecintaan kita dan kesibukan kita untuk dunia ini.
Sebentar lagi kita akan berjumpa dengan Alloh, menghadap kepada Alloh, kemudian Alloh akan bertanya kepada kita mengenai amal-amal kita, maka semestinya orang yang beriman tambah hari tambah mempersiapkan diri untuk pertemuan yang besar ini, pertemuan dengan Alloh SWT
Orang kafir, karena mereka tidak kenal dengan Alloh, tidak kenal dengan akhirat, siang dan malam yang difikirkan adalah hartanya, hartanya dan hartanya. Orang beriman, yang sudah kenal kepada Alloh, sudah kenal dengan kehidupan akhirat, yang dia pikirkan siang dan malam adalah amalnya, amalnya dan amalnya.
Tanpa terasa tiba-tiba sudah tahun baru hijriyah. Sayyidina Umar Ra yang telah memulai tahun penanggalan islam dengan hijriyah ini.
Banyak orang usul pada waktu itu dalam musyawaroh, ini umat islam mau memulai penanggalan dari mana, maka sebagian usul, hendaknya penanggalan islam ini dimulai dari kelahiran Nabi SAW, karena tidak ada nikmat yang lebih besar yang telah Alloh berikan pada umat ini, melebihi diutusnya baginda Muhammad SAW kepada umat ini. Sebagian ada yang mengusulkan bahwa tahun baru islam ini hendaknya dimulai dari kenabian Baginda Nabi SAW ketika beliau menerima wahyu yang pertama, karena tidak ada anugerah yang lebih besar kepada umat ini, melebihi di turunkanya wahyu dari langit untuk membimbing umat ini yaitu Al-Quran, macam-macam usulan pada waktu itu. Tetapi Sayyidina Umar bin Khotob Ra memutuskan bahwa penanggalan islam ini dimulai dari hijrah.
Yang di kehendaki oleh Sayyidina Umar Ra, untuk memberikan pelajaran kepada umat, karena hijrah ini adalah suatu amalan yang di kerjakan oleh semua umat. Kalau hari penanggalan ini dimulai dari kelahiran Baginda Nabi SAW atau turunnya wahyu, maka seolah-olah kita ini diajari hanya untuk mengingati Baginda Nabi SAW saja. Tetapi dengan penanggalan dimulai dari hijrah ini, kita diingatkan oleh Sayidina Umar Ra kepada perjuangan Baginda Nabi SAW dan perjuangan umat seluruhnya. Baginda Nabi hijrah, para sahabat hijrah, laki-laki hijrah, wanita hijrah, anak-anak hijrah, ke Madinah Al Munawaroh, maksud daripada hijrah ini hanya satu saja, yaitu ingin bisa mengamalkan agama secara sempurna.
Dan untuk bisa mengamalkan agama secara sempurna ini, tidak cukup dengan pengorbanan Nabi saja, tetapi harus pengorbanan umat, karena yang berhajat kepada agama ini adalah umat, maka harus pengorbanan umat. Tidak ada keraguan bahwa Baginda Nabi semulia-mulianya para Nabi, semulia-mulianya para Rosul, tidak ada makhluk yang membandingi beliau.
Hadirin yang dimuliakan Alloh SWT, tetapi masalahnya bukan masalah itu, agama ini keperluan umat, maka yang berkorban juga harus umat. Baginda Nabi korban, para sahabat korban, laki-laki korban, wanita korban, meninggalkan segalanya menuju Madinah Al munawaroh, sampai di Madinah Al Munawaroh, maka Alloh SWT bangkitkan orang-orang Madinah untuk menjadi pembela-pembela mereka.
طَلَعَ الْبَدْرُ عَلَيْنَا مِنْ ثَنِيَّةِ الْوَدَاعِ
وَجَبَ الشُّكْرُ عَلَيْنَا مَا دَاعَ لِلَّهِ الدَّاعٍ
Telah terbit purnama di atas kita.
Muncul dari Tsaniyatul Wada’.
Wajib bersyukur atas kita.
Selagi Da’i yang mengajak kepada Alloh masih ada.
Laki-laki, wanita, anak-anak, semua mereka bersatu, untuk membela orang-orang muhajirin, Baginda Nabi dan para sahabatnya.
Akhirnya timbulah suatu kerjasama yang luar biasa, kerjasama yang hanya semata-mata karena Alloh, kerjasama yang semata-mata karena agama Alloh, kerjasama yang semata-mata hanya untuk bagaimana mengamalkan agama Alloh, maka ini betul-betul mengesan dalam hati Sayyidina Umar dan para sahabat pada waktu itu, sehingga diputuskan bahwa tahun baru penanggalan umat islam dimulai daripada hijrah, setiap hari kita melihat tanggalan, maka kita teringat hijrah, bahwa agama ini perlu hijroh, tanpa hijrah kita tidak bisa mengamalkan agama.
Hijrah ini ada dua, ada hijrah tempat, hijrah materi, hijrah tempat dari Makah ke Madinah, tapi hijrah yang sesungguhnya adalah hijrah amalan.
Baginda Nabi SAW mengatakan :
وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَاجَرَ عَمَّا نَهَى اللهُ عَنْهُ
“Orang yang hijroh yang sebenar-benarnya hijroh, adalah orang-orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Alloh”.
Itulah hijrah yang sebenarnya. Maka setiap hari kita mesti hijrah, hijrah dari kekufuran menuju keimanan, hijrah daripada kemaksiatan menuju ketaatan, hijrah daripada kelalaian menuju dzikrulloh, hijrah dari kebodohan menuju ilmu Alloh, hijrah dari keburukan menuju kebaikan, senantiasa kita ini harus berusaha hijrah, usaha perubahan-perubahan amalan, amalan yang buruk mesti kita tinggalkan, karena amalan-amalan yang buruk nanti akan menjadi masalah selama-lamanya yang tidak ada habis-habisnya apabila kita tidak hijrah, tidak bertobat daripada amalan-amalan yang buruk itu.
مَنْ لَزِمَ اْلإِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ
“Barang siapa senantiasa istighfar dan istighfar ini bagian daripada hijroh, bahkan keburukan-keburukan menuju kebaikan, maka Alloh SWT akan memberikan jalan keluar dari kesulitan-kesulitannya dan Alloh akan memberikan kepadanya rizki dari tempat yang tidak disangka-sangka.”
Maka hari jum’at ini juga hari hijrah, bagaimana kita tinggalkan keburukan-keburukan menuju kebaikan-kebaikan, keburukan apa saja, keburukan yang berkaitan dengan keluarga, bagaimana didalam keluarga kita ada suasana hijrah, perkara-perkara yang buruk kita tinggalkan, sehingga suasana rumah sahabat ada dirumah-rumah kita, di kampung kitapun harus ada suasana hijrah, bagaimana amalan-amalan yang buruk ditinggalkan dan amalan yang haq ditegakkan.
Seluruh umat hijrah bersama-sama untuk meninggalkan keburukan-keburukan dan menegakkan kebenaran.pengasuh ponpes Alfatah Temboro)
Senantiasa kita mengingati dan menyadari, bahwa kita ini dalam satu perjalanan yang sangat jauh dan sangat panjang, perjalanan menuju akhirat, tambah hari tambah dekat kita kepada akhirat, oleh karena itu tambah hari, tambah hari, semestinya tambah kita mengingati akhirat, tambah menyiapkan diri kita untuk kehidupan diakhirat, menghabiskan fikir kita tenaga kita dan seluruh apa yang Alloh berikan kepada kita untuk membangun akhirat kita, tambah hari, tambah hari, tambah dekat perpisahan kita dengan dunia, maka semestinya tambah hari tambah berkurang kecintaan kita dan kesibukan kita untuk dunia ini.
Sebentar lagi kita akan berjumpa dengan Alloh, menghadap kepada Alloh, kemudian Alloh akan bertanya kepada kita mengenai amal-amal kita, maka semestinya orang yang beriman tambah hari tambah mempersiapkan diri untuk pertemuan yang besar ini, pertemuan dengan Alloh SWT
Orang kafir, karena mereka tidak kenal dengan Alloh, tidak kenal dengan akhirat, siang dan malam yang difikirkan adalah hartanya, hartanya dan hartanya. Orang beriman, yang sudah kenal kepada Alloh, sudah kenal dengan kehidupan akhirat, yang dia pikirkan siang dan malam adalah amalnya, amalnya dan amalnya.
Tanpa terasa tiba-tiba sudah tahun baru hijriyah. Sayyidina Umar Ra yang telah memulai tahun penanggalan islam dengan hijriyah ini.
Banyak orang usul pada waktu itu dalam musyawaroh, ini umat islam mau memulai penanggalan dari mana, maka sebagian usul, hendaknya penanggalan islam ini dimulai dari kelahiran Nabi SAW, karena tidak ada nikmat yang lebih besar yang telah Alloh berikan pada umat ini, melebihi diutusnya baginda Muhammad SAW kepada umat ini. Sebagian ada yang mengusulkan bahwa tahun baru islam ini hendaknya dimulai dari kenabian Baginda Nabi SAW ketika beliau menerima wahyu yang pertama, karena tidak ada anugerah yang lebih besar kepada umat ini, melebihi di turunkanya wahyu dari langit untuk membimbing umat ini yaitu Al-Quran, macam-macam usulan pada waktu itu. Tetapi Sayyidina Umar bin Khotob Ra memutuskan bahwa penanggalan islam ini dimulai dari hijrah.
Yang di kehendaki oleh Sayyidina Umar Ra, untuk memberikan pelajaran kepada umat, karena hijrah ini adalah suatu amalan yang di kerjakan oleh semua umat. Kalau hari penanggalan ini dimulai dari kelahiran Baginda Nabi SAW atau turunnya wahyu, maka seolah-olah kita ini diajari hanya untuk mengingati Baginda Nabi SAW saja. Tetapi dengan penanggalan dimulai dari hijrah ini, kita diingatkan oleh Sayidina Umar Ra kepada perjuangan Baginda Nabi SAW dan perjuangan umat seluruhnya. Baginda Nabi hijrah, para sahabat hijrah, laki-laki hijrah, wanita hijrah, anak-anak hijrah, ke Madinah Al Munawaroh, maksud daripada hijrah ini hanya satu saja, yaitu ingin bisa mengamalkan agama secara sempurna.
Dan untuk bisa mengamalkan agama secara sempurna ini, tidak cukup dengan pengorbanan Nabi saja, tetapi harus pengorbanan umat, karena yang berhajat kepada agama ini adalah umat, maka harus pengorbanan umat. Tidak ada keraguan bahwa Baginda Nabi semulia-mulianya para Nabi, semulia-mulianya para Rosul, tidak ada makhluk yang membandingi beliau.
Hadirin yang dimuliakan Alloh SWT, tetapi masalahnya bukan masalah itu, agama ini keperluan umat, maka yang berkorban juga harus umat. Baginda Nabi korban, para sahabat korban, laki-laki korban, wanita korban, meninggalkan segalanya menuju Madinah Al munawaroh, sampai di Madinah Al Munawaroh, maka Alloh SWT bangkitkan orang-orang Madinah untuk menjadi pembela-pembela mereka.
طَلَعَ الْبَدْرُ عَلَيْنَا مِنْ ثَنِيَّةِ الْوَدَاعِ
وَجَبَ الشُّكْرُ عَلَيْنَا مَا دَاعَ لِلَّهِ الدَّاعٍ
Telah terbit purnama di atas kita.
Muncul dari Tsaniyatul Wada’.
Wajib bersyukur atas kita.
Selagi Da’i yang mengajak kepada Alloh masih ada.
Laki-laki, wanita, anak-anak, semua mereka bersatu, untuk membela orang-orang muhajirin, Baginda Nabi dan para sahabatnya.
Akhirnya timbulah suatu kerjasama yang luar biasa, kerjasama yang hanya semata-mata karena Alloh, kerjasama yang semata-mata karena agama Alloh, kerjasama yang semata-mata hanya untuk bagaimana mengamalkan agama Alloh, maka ini betul-betul mengesan dalam hati Sayyidina Umar dan para sahabat pada waktu itu, sehingga diputuskan bahwa tahun baru penanggalan umat islam dimulai daripada hijrah, setiap hari kita melihat tanggalan, maka kita teringat hijrah, bahwa agama ini perlu hijroh, tanpa hijrah kita tidak bisa mengamalkan agama.
Hijrah ini ada dua, ada hijrah tempat, hijrah materi, hijrah tempat dari Makah ke Madinah, tapi hijrah yang sesungguhnya adalah hijrah amalan.
Baginda Nabi SAW mengatakan :
وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَاجَرَ عَمَّا نَهَى اللهُ عَنْهُ
“Orang yang hijroh yang sebenar-benarnya hijroh, adalah orang-orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Alloh”.
Itulah hijrah yang sebenarnya. Maka setiap hari kita mesti hijrah, hijrah dari kekufuran menuju keimanan, hijrah daripada kemaksiatan menuju ketaatan, hijrah daripada kelalaian menuju dzikrulloh, hijrah dari kebodohan menuju ilmu Alloh, hijrah dari keburukan menuju kebaikan, senantiasa kita ini harus berusaha hijrah, usaha perubahan-perubahan amalan, amalan yang buruk mesti kita tinggalkan, karena amalan-amalan yang buruk nanti akan menjadi masalah selama-lamanya yang tidak ada habis-habisnya apabila kita tidak hijrah, tidak bertobat daripada amalan-amalan yang buruk itu.
مَنْ لَزِمَ اْلإِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ
“Barang siapa senantiasa istighfar dan istighfar ini bagian daripada hijroh, bahkan keburukan-keburukan menuju kebaikan, maka Alloh SWT akan memberikan jalan keluar dari kesulitan-kesulitannya dan Alloh akan memberikan kepadanya rizki dari tempat yang tidak disangka-sangka.”
Maka hari jum’at ini juga hari hijrah, bagaimana kita tinggalkan keburukan-keburukan menuju kebaikan-kebaikan, keburukan apa saja, keburukan yang berkaitan dengan keluarga, bagaimana didalam keluarga kita ada suasana hijrah, perkara-perkara yang buruk kita tinggalkan, sehingga suasana rumah sahabat ada dirumah-rumah kita, di kampung kitapun harus ada suasana hijrah, bagaimana amalan-amalan yang buruk ditinggalkan dan amalan yang haq ditegakkan.
Seluruh umat hijrah bersama-sama untuk meninggalkan keburukan-keburukan dan menegakkan kebenaran.
Rabu, 17 Oktober 2018
BERKUMPULAH DENGAN ORANG SHOLEH
Yang terpenting untuk dapat mengobati hati kita adalah :
1.Membaca Al-Qur’an dan maknanya
2.Sholat malam dirikanlah
3.Berkumpullah dengan orang sholeh
4.Perbanyaklah berpuasa, khususnya di hari Senin dan kamis
5.Dzikir malam perpanjanglah
Diriwayatkan oleh Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
“Permisalan teman yang baik dengan teman yang buruk adalah ibarat penjual minyak kasturi dan pandai besi. Si penjual minyak kasturi bisa jadi akan memberimu minyaknya tersebut atau engkau bisa membeli darinya, dan kalaupun tidak, maka minimal engkau akan tetap mendapatkan aroma harum darinya. Sedangkan si pandai besi, maka bisa jadi (percikan apinya) akan membakar pakaianmu, kalaupun tidak maka engkau akan tetap mendapatkan bau (asap) yang tidak enak.”
Siapa orang Shalih itu ?
الْقَائِم بِمَا يَجِب عَلَيْهِ مِنْ حُقُوق اللَّه وَحُقُوق عِبَاده وَتَتَفَاوَت دَرَجَاته
“Orang yang menjalankan kewajiban terhadap Allah dan kewajiban terhadap sesama hamba Allah.
Saat kita tasyahud, kita seringkali membaca bacaan berikut,
السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ
(artinya: salam untuk kami dan juga untuk hamba Allah yang shalih).”
Disebutkan dalam lanjutan hadits,
فَإِنَّكُمْ إِذَا قُلْتُمُوهَا أَصَابَتْ كُلَّ عَبْدٍ لِلَّهِ صَالِحٍ فِى السَّمَاءِ وَالأَرْضِ
“Jika kalian mengucapkan seperti itu, maka doa tadi akan tertuju pada setiap hamba Allah yang shalih di langit dan di bumi.”
Al Hakim berkata,
مَنْ أَرَادَ أَنْ يَحْظَى بِهَذَا السَّلَام الَّذِي يُسَلِّمهُ الْخَلْق فِي الصَّلَاة فَلْيَكُنْ عَبْدًا صَالِحًا وَإِلَّا حُرِمَ هَذَا الْفَضْل الْعَظِيم
“Siapa yang ingin meraih ucapan salam yang diucapkan oleh setiap orang yang sedang shalat, maka jadilah hamba yang shalih. Jika tidak, maka karunia yang besar (berupa doa selamat) diharamkan untuk diperoleh”
Imam al Fakihani berkata,
يَنْبَغِي لِلْمُصَلِّي أَنْ يَسْتَحْضِر فِي هَذَا الْمَحَلّ جَمِيع الْأَنْبِيَاء وَالْمَلَائِكَة وَالْمُؤْمِنِينَ ، يَعْنِي لِيَتَوَافَق لَفْظه مَعَ قَصْده
“Setiap orang yang shalat baiknya menghadirkan hati dalam shalatnya yaitu ia mendoakan selamat untuk para nabi, para malaikat, dan orang-orang yang beriman. Hal ini agar bersesuaian antara lafazh doa dan ia maksudkan
Intinya, hamba alloh yang shalih bukanlah yang hanya memperhatikan ibadah, shalat dan dzikir. Hamba alloh yang shalih adalah yang juga punya hubungan yang baik dengan sesama. Karena demikianlah Nabi kita yang mulai diutus. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاَقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan baiknya akhlaq
Maka nabi bersabda
لا تبا غدوا ولا تحاسدوا وكونوا عبادالله إخوانا
Jangan lah kamu saling marah jangan pula saling hasad irihati dan dengki jadilah kalian Hamba alloh yang mau bersaudara.
Kalau belum bisa jadi sholeh, cintailah orang yang sholeh dan banyak berkumpul dengannya.
1.Membaca Al-Qur’an dan maknanya
2.Sholat malam dirikanlah
3.Berkumpullah dengan orang sholeh
4.Perbanyaklah berpuasa, khususnya di hari Senin dan kamis
5.Dzikir malam perpanjanglah
Diriwayatkan oleh Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
“Permisalan teman yang baik dengan teman yang buruk adalah ibarat penjual minyak kasturi dan pandai besi. Si penjual minyak kasturi bisa jadi akan memberimu minyaknya tersebut atau engkau bisa membeli darinya, dan kalaupun tidak, maka minimal engkau akan tetap mendapatkan aroma harum darinya. Sedangkan si pandai besi, maka bisa jadi (percikan apinya) akan membakar pakaianmu, kalaupun tidak maka engkau akan tetap mendapatkan bau (asap) yang tidak enak.”
Siapa orang Shalih itu ?
الْقَائِم بِمَا يَجِب عَلَيْهِ مِنْ حُقُوق اللَّه وَحُقُوق عِبَاده وَتَتَفَاوَت دَرَجَاته
“Orang yang menjalankan kewajiban terhadap Allah dan kewajiban terhadap sesama hamba Allah.
Saat kita tasyahud, kita seringkali membaca bacaan berikut,
السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ
(artinya: salam untuk kami dan juga untuk hamba Allah yang shalih).”
Disebutkan dalam lanjutan hadits,
فَإِنَّكُمْ إِذَا قُلْتُمُوهَا أَصَابَتْ كُلَّ عَبْدٍ لِلَّهِ صَالِحٍ فِى السَّمَاءِ وَالأَرْضِ
“Jika kalian mengucapkan seperti itu, maka doa tadi akan tertuju pada setiap hamba Allah yang shalih di langit dan di bumi.”
Al Hakim berkata,
مَنْ أَرَادَ أَنْ يَحْظَى بِهَذَا السَّلَام الَّذِي يُسَلِّمهُ الْخَلْق فِي الصَّلَاة فَلْيَكُنْ عَبْدًا صَالِحًا وَإِلَّا حُرِمَ هَذَا الْفَضْل الْعَظِيم
“Siapa yang ingin meraih ucapan salam yang diucapkan oleh setiap orang yang sedang shalat, maka jadilah hamba yang shalih. Jika tidak, maka karunia yang besar (berupa doa selamat) diharamkan untuk diperoleh”
Imam al Fakihani berkata,
يَنْبَغِي لِلْمُصَلِّي أَنْ يَسْتَحْضِر فِي هَذَا الْمَحَلّ جَمِيع الْأَنْبِيَاء وَالْمَلَائِكَة وَالْمُؤْمِنِينَ ، يَعْنِي لِيَتَوَافَق لَفْظه مَعَ قَصْده
“Setiap orang yang shalat baiknya menghadirkan hati dalam shalatnya yaitu ia mendoakan selamat untuk para nabi, para malaikat, dan orang-orang yang beriman. Hal ini agar bersesuaian antara lafazh doa dan ia maksudkan
Intinya, hamba alloh yang shalih bukanlah yang hanya memperhatikan ibadah, shalat dan dzikir. Hamba alloh yang shalih adalah yang juga punya hubungan yang baik dengan sesama. Karena demikianlah Nabi kita yang mulai diutus. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاَقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan baiknya akhlaq
Maka nabi bersabda
لا تبا غدوا ولا تحاسدوا وكونوا عبادالله إخوانا
Jangan lah kamu saling marah jangan pula saling hasad irihati dan dengki jadilah kalian Hamba alloh yang mau bersaudara.
Kalau belum bisa jadi sholeh, cintailah orang yang sholeh dan banyak berkumpul dengannya.
Langganan:
Postingan (Atom)
