Oleh al-Faqir,
Daud Abdullah al-Falinbany
السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
Kata sabar itu berasal dari lafazh al-shobru (الصبر) yang terbentuk dari tashrif istilahi fi'il tsulasi mujarod shobaro - yashbiru - shobron - shobir - mashbur . . . dst
yang artinya "Menahan"
demikian arti sabar secara lughoh atau secara bahasa.
Secara istilah, sabar diartikan menahan diri dari segala kesulitan.
Adapun hukum sabar itu asalnya adalah wajib, kemudian secara kondisional maka hukumnya bisa berubah menjadi sunah bahkan haram. Sebagaimana diterangkan oleh al-Imam Al-Ghazali rah.a. yang mengatakan sebagai berikut dalam Kitab Ihya 'Ululmuddin, Juz.4, hal.69 :
واعلم أن الصبر أيضاً ينقسم باعتبار حكمه إلى فرض ونفل ومكروه ومحرم
فالصبر عن المحظورات فرض وعلى المكاره نفل والصبر على الأذى المحظور محظور
كمن تقطع يده أو يد ولده وهو يصبر عليه ساكتا وكمن يقصد حريمه بشهوة محظورة
فتهيج غيرته فيصبر عن اظهاره الغيرة ويسكت على ما يجري على أهله فهذا
الصبر محرم
Sabar dapat dibagi menjadi beberapa kategori sesuai dengan
hukumnya: sabar wajib, sunah, makruh, dan haram.
Sabar dalam menahan
diri dari segala sesuatu yang dilarang syariat adalah wajib. Sementara
menahan diri dari yang makruh merupakan sabar sunah.
Sedangkan menahan
diri dari sesuatu yang dapat membahayakan merupakan terlarang (haram)
seperti menahan diri ketika disakiti, misalnya orang yang dipotong
tangannya, atau tangan anaknya sementara ia hanya berdiam saja. contoh
lainnya, sabar ketika melihat istrinya diganggu orang lain sehingga
membangkitkan cemburunya tetapi ia memilih tidak menampakkan rasa
cemburunya. Begitu juga orang yang diam saat orang lain mengganggu
keluarganya. Semua itu sabar yang diharamkan.
Pembahasan tentang sabar ini banyak sekali dibahas dalam kitab2 ulama muktabar, sehingga kami dapati sampai 60-an kitab yang membahas tentang masalah tersebut.
Pembahasannya beraneka ragam, tetapi di sini kami sampaikan pembahasan sabar yang banyak dibahas dalam kitab2 tersebut, diantaranya dalam Kitab Syarah Shahih al-Bukhari - Ibnu Bathal al-Qurthubi rah.a. pada Juz.9, hal.284 :
عن على بن أبى طالب أن النبى عليه السلام قال : (الصبر ثلاثة: فصبر على المصيبة، وصبر على الطاعة، وصبر على المعصية، فمن صبر على المصيبة حتى يردها بحسن عزائها كتب الله له ثلثمائة درجة مابين الدرجة إلى الدرجة ما بين السماء والأرض، ومن صبر على الطاعة كتب الله له ستمائة درجة مابين الدرجة إلى الدرجة مابين تخوم الأرض السابعة إلى منتهى العرش، ومن صبر على المعصية كتب الله له تسعمائة درجة مابين الدرجة إلى الدرجة مابين تخوم الأرض السابعة إلى منتهى العرش مرتين)
Dari Ali b. Abi Tholib ra., sesungguhnya Nabi saw. bersabda :
Sabar itu ada tiga yaitu sabar dalam musibah, sabar dalam taat, dan
sabar dalam menjauhi maksiat.
Barangsiapa bersabar dalam musibah
sehingga dikembalikannya dalam keadaan baik atas apa yang menimpa
dirinya, maka Allah akan
menulis baginya 300 derajat yang tiapderajat jaraknya antara
langit dengan bumi.
Dan barangsiapa bersabar dalam melaksanakan taat,
maka Allah akan menuliskannya 600 derajat, tiap dua derajat jaraknya
antara langit dunia dengan Sidratul Muntaha.
Dan barangsiapa yang
bersabar dalam menjauhi maksiat, maka Allah tulis baginya 900 derajat
yang jarak dua derajatnya seperti 'Arasy dua kali
Keterangan tersebut juga dimuat dalam kitab2 lain, antara lain :
- Kitab Ihya- 'Ulumuddin, Juz.4, hal.139
- Kitab Kanzul 'Ummal, Juz.3, hal.273, No.6515
- Kitab al-Jami'ush-Shaghir, Juz.1, No.7971
1. Sabar ketika terkena musibah adalah sabar yang paling banyak dibahas dan merupakan dasar dari perintah sabar itu sendiri. Seperti ketika terjadi bencana alam, kematian, sakit, hilangnya harta, dan lain sebagainya.
Solusinya adalah sebagaimana firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat 45 :
واستعينوا بالصبر والصلاة
Carilah pertolongan Allah dengan sabar dan sholat
Jadi ketika ditimpa musibah, maka tindakan yang pertama adalah bersabar, kemudian sholat, kemudian baru usaha lainnya yang dibenarkan dalam syariat.
2. Sabar dalam ketaatan adalah kesabaran dalam menyempurnakan setiap perintah Allah. Jangan terburu2 ketika sedang beribadah. Istiqomah dalam amalan juga termasuk di dalam golongan sabar dalam ketaatan.
Solusinya adalah dengan mengingat janji2 Allah tentang sorga, syafaat, keselamatan, derajat kemuliaan, dan lain sebagainya.
3. Sabar dalam menjauhi maksiat adalah kesabaran atas bujuk rayu syetan yang berusaha menjerumuskan manusia dalam kesesatan. Mereka menawarkan kenikmatan maksiyat tersebut.
Solusinya adalah dengan mengingat neraka, azab, dosa, kehinaan, dan lain sebagainya.
Demikian sekilas yang dapat saya sampaikan. Semoga bermanfaat.
Wallahu a'lam bish-shawab.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Rabu, 13 Maret 2019
Jumat, 08 Maret 2019
JILBAB, NIQAB, CADAR, WAJIBKAH ?
Oleh al-Faqir, Daud Abdullah al-Falinbany
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمدلله وحده، والصلاة والسلام على رسل الله سيدنا محمد بن عبد الله وعلى أله وصحبه ومن والاه
Ikhwah fillah rahimakumulloh,
Dewasa ini telah terjadi fitnah dikalangan ummat Islam ini oleh "Ghazwul-Fikr" oleh kaum liberalis yang menyusup dalam tubuh ummat Islam dengan gerakan mereka yang disebut dengan Jaringan Islam Liberal (JIL) yang telah banyak mengacaukan ibadah bahkan aqidah ummat Islam di seluruh dunia. Salah satu fitnah (Penyesatan) mereka adalah dengan memberi definisi2 yang salah dalam hal pakaian wanita dalam menutup auratnya.
Maka dalam hal ini penulis akan mencoba mengkaji kembali bagaimana semestinya wanita menutup aurat dalam hukum Islam.
Agar tulisan ini menjadi berurutan maka kita susun pembahaaan ini dari definisi menurut rujukan dalilnya, hukum syari'at menurut ulama' madzhab, dan bagaimana mengaplikasikannya dalam kehidupan 'amaliyah kita.
1. DEFINISI
Dalam mendefinisikan lafazh "Jilbab" , kita mengambil rujukan dari Surah Al Ahzab 59 :
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.
Dalam ayat di atas ada disebutkan "Min Jalabibihinna"
Jalabib itu bentuk jamak taksir dari lafazh "Jilbab".
Di sini kunci pertamanya.
Selanjutnya kita buka kitab2 tafsir tentang lafazh "jalabib" di al Ahzab 59 tersebut.
Dalam Kitab Tafsir Ibnu Abbas ra. hal.426,, Kitab Tafsir Ibnu Katsir, Juz.6, hal.425 dan 481,, Kitab Durul Mantsur, Juz.6, hal.659,, dan beberapa kitab lainnya, disebutkan :
قَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَلْحَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَمَرَ اللَّهُ نِسَاءَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا خَرَجْنَ مِنْ بُيُوتِهِنَّ فِي حَاجَةٍ أَنْ يُغَطِّينَ وُجُوهَهُنَّ مِنْ فَوْقِ رُؤُوسِهِنَّ بِالْجَلَابِيبِ وَيُبْدِينَ عَيْنًا وَاحِدَةً
Telah berkata Ali bin Qatadah, dari Ibnu Abbas :
"Allah memerintahkan istri-istri mukmin jika keluar rumah karena suatu keperluan agar menutup wajah-wajah mereka dari atas kepala dengan jilbab dan menampakkan satu mata."
Imam Ath Thabari rah.a. menjelaskan dalam kitab tafsirnya, pada halaman 426 :
ثم اختلف أهل التأويل في صفة الإدناء الذي أمرهن الله به فقال بعضهم: هو أن يغطين وجوههن ورءوسهن فلا يبدين منهن إلا عينا واحدة
Para ulama tafsir khilaf mengenai sifat menjulurkan jilbab yang diperintahkan Allah dalam ayat ini. Sebagian mereka mengatakan: yaitu dengan menutup wajah-wajah mereka dan kepala-kepala mereka, dan tidak ditampakkan apa-apa kecuali hanya satu mata saja.
Silakan buka kitab tafsir mana saja di ayat ini, pasti ada disebutkan pendapat ulama' tentang perintah menutup wajah wanita.
Kemudian kita bahas praktek shahabiyah dalam memakai jilbab, kita mengambil rujukan dari Surah An Nuur 31 :
وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاء بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاء بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُوْلِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاء وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.
Ibnu Katsir rah.a. menafsirkan ayat ini menukil 2 hadits riwayat Ibnu Abi Hatim rah.a. yaitu
Hadits no.17785, dalam Kitab Tafsir Ibnu Abi Hatim al-Razi, Juz.10, hal.3154 :
أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الطِّهْرَانِيُّ فِيمَا كَتَبَ إلي حَدَّثَنَا عَبْد الرّزّاق أخبرنا مُعَمَّر، عن ابن خثيم، عن صفية بِنْت شَيْبَة، عن أم سَلَمَة قَالَتْ: لمّا نزلت هذه الآية يدنين عليهن من جلابيبهن خرج نساء الأنصار كأن على رؤوسهن الغربان من السكينة وعليهن أكسية سود يلبسنها
Kemudian selanjutnya pada no.17786, pada halaman yang sama :
حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا أَبُو صَالِحٍ حَدَّثَنِي اللَّيْثُ، حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ يَزِيدَ قَالَ:
وَسَأَلْنَاهُ يَعْنِي الزُّهْرِيَّ هَلْ عَلَى الْوُلَيْدَةِ خِمَارٌ مُتَزَوِّجَةٌ أَوْ غَيْرُ مُتَزَوِّجَةٍ؟ قَالَ: عَلَيْهَا الْخِمَارُ إِنْ كَانَتْ مُتَزَوِّجَةً، وَتُنْهَى عَنِ الْجِلْبَابِ، لِأَنَّهُ يُكْرَهُ لَهُنَّ أَنْ يَتَشَبَّهْنَ بِالْحَرَائِرِ إِلا مُحَصَنَاتٍ: وَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى يا أيها النَّبِيُّ قُلْ لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءَ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ
Hadits yang semakna juga diriwayatkan dalam Kitab Sunan Abu Dawud, Juz.4, Hal.61 :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ ثَوْرٍ، عَنْ مَعْمَرٍ، عَنِ ابْنِ خُثَيْمٍ، عَنْ صَفِيَّةَ بِنْتِ شَيْبَةَ، عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ، قَالَتْ: " لَمَّا نَزَلَتْ: {يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ}، خَرَجَ نِسَاءُ الْأَنْصَارِ كَأَنَّ عَلَى رُءُوسِهِنَّ الْغِرْبَانَ مِنَ الأَكْسِيَةِ "
Begitu juga riwayat dalam Kitab Shahih Bukhari, Juz.6, Hal.109, No.4759 :
حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ نَافِعٍ، عَنِ الحَسَنِ بْنِ مُسْلِمٍ، عَنْ صَفِيَّةَ بِنْتِ شَيْبَةَ: أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَانَتْ تَقُولُ لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ: {وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ} [النور: 31] «أَخَذْنَ أُزْرَهُنَّ فَشَقَّقْنَهَا مِنْ قِبَلِ الحَوَاشِي فَاخْتَمَرْنَ بِهَا
Mahfum dari hadits-hadits di atas lebih kurang :
dari Shafiyah binti Syaibah yang mengatakan: “Tatkala kami berada disamping Aisyah yang menyebutkan keutamaan wanita suku Quraisy, lalu Aisyah berkata: Sesungguhnya kaum wanita suku Quraisy itu memiliki satu keutamaan . Dan, aku demi Allah tiada melihat yang lebih utama daripada wanita- wanita Anshar dan yang lebih membenarkan terhadap Kitabullah maupun keimanan terhadap Al- Qur’an. Tatkala diturunkan surat An-Nuur ayat 31, maka para lelaki mereka (kaum Anshar) langsung kembali pulang menuju mereka untuk membacakan apa yang baru saja diturunkan oleh Allah atas mereka , seorang laki-laki membacakan ayat tersebut kepada istrinya, putrinya, saudarinya serta kerabatnya. Tak seorang wanitapun dari mereka melainkan lantas bangkit untuk mengambil kain yang biasa dikenakan lalu digunakan untuk menutupi kepala (menjadikannya kerudung) dalam rangka membenarkan dan mengimani apa yang telah diturunkan Allah dari Kitab-Nya. Lalu pada pagi harinya dibelakang Rasulullah (menunaikan shalat shubuh) mereka mengenakan tutup kepala (kerudung) seakan-akan diatas kepala mereka itu terdapat burung gagak”
Dalam menjelaskan tata cara memakai jilbab tersebut Al Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolani rah.a. menerangkan dalam kitabnya Fathul Baari, yang merupakan syarah (Penjelasan) dari kitab Shahih Bukhari, yaitu pada Juz.8, hal.490, menjelaskan HR. Bukhari no.4759 yang tersebut di atas :
قَوْلُهُ: فَاخْتَمَرْنَ، أَيْ غَطَّيْنَ وُجُوهَهُنَّ، وَصِفَةُ ذَلِكَ أَنْ تَضَعَ الْخِمَارَ عَلَى رَأْسِهَا وَتَرْمِيهِ مِنَ الْجَانِبِ الْأَيْمَنِ عَلَى الْعَاتِقِ الْأَيْسَرِ
Perkataan beliau (Imam Bukhari) ber-khimar dengannya, maksudnya adalah mereka menutup wajah-wajah mereka. Caranya yaitu dengan meletakkan khimar tersebut di atas kepala mereka lalu menjulurkan kainnya dari sisi kanan ke pundak yang kiri.
Saya kira sudah mencukupi keterangan-keterangan di atas.
Kemudian selanjutnya dapat kita ambil definisinya :
- Jilbab adalah pakaian yang menutupi seluruh badan kecuali mata/satu mata (Biasanya sebelah kiri).
- Khimar/Niqab/Purdah adalah pakaian luar yang menutupi kepala, wajah, leher, dan dada, yang hanya menampakkan mata saja.
- Cadar adalah kain penutup wajah, pelengkap bagi khimar yang tidak ada cadarnya. Khimar jenis ini biasanya dipakai oleh wanita amah (Budak) dan wanita yang lanjut usia.
Untuk definisi niqab dan cadar ini ada beberapa hadits yang menerangkannya sebagai dalilnya, tetapi dalam kesempatan ini akan terlalu panjang apabila dibahas semuanya.
2. MENUTUP AURAT SELURUH TUBUH KECUALI MATA MENURUT 4 MADZHAB
~ Madzhab Maliki
Madzhab Maliki berpendapat bahwa memakai cadar hukumnya tidak wajib, karena wajah bagi wanita adalah bukan merupakan aurat, namun untuk memakainya adalah sunah atau dianjurkan, dan bisa menjadi hukumnya wajib jika seseorang tidak mamakai cadar jika dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah sampai terjadi tindak yang kurang baik pada wanita tersebut.
~ Madzhab Syafi’i
Imam Syafi’i berpendapat bahwa wanita didepan lelaki ajnabi atau bukan mahram maka seluruh tubuhnya adalah aurat, maka memakai cadar adalah hukumnya wajib jika di depan lelaki ajnabi.
~ Madzhab HambalI
Berpendapat sama seperti Imam Syafi’i yaitu wajib, bahkan kuku dan kaos kakinya juga merupakan aurat bagi seorang wanita jika di depan lelaki ajnabi.
~ Madzhab Hanafi
Menyampaikan bahwa wajah wanita bukan merupakan sebuah aurat jika dilihat oleh siapa saja namun memakai cadar hukumnya sunah karena akan lebih terjaga dari fitnah.
3. PENGAMALAN
Kalau kita bermadzhab pada suatu madzhab maka sebaiknya konsisten dalam bermadzhab, tidak berbuat talfiq (pindah-pindah madzhab) sehingga kita terhindar dari bermudah-mudah dalam beragama.
Maka apabila madzhab kita madzhab Syafi'i, maka wanita kita diwajibkan menutup aurat secara sempurna dengan hanya menampakkan bagian mata saja.
Kecuali pada 3 hal : wanita budak, wanita lanjut usia, dan wanita yang berhaji ketika memakai pakaian ihrom.
Apabila kita belum mampu mengamalkan suatu perintah,, maka memperbanyak istighfar adalah solusinya. Amalkanlah amalan yang kita mampu mengamalkannya, kemudian tanamkan niat yang kuat / azzam serta berdo'a agar Allah mudahkan kita untuk mengamalkan agama dan menyempurnakannya.
Sebagaimana qoidah dalam ushul fiqih :
ما لا يدرك كله لا يترك كله
Jika tidak mampu mengerjakan secara keseluruhan maka tidak boleh meninggalkan semuanya
Semoga bermanfaat
والله اعلم با لصواب
والسلام عليكم ورحمةاللّه وبركاته
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمدلله وحده، والصلاة والسلام على رسل الله سيدنا محمد بن عبد الله وعلى أله وصحبه ومن والاه
Ikhwah fillah rahimakumulloh,
Dewasa ini telah terjadi fitnah dikalangan ummat Islam ini oleh "Ghazwul-Fikr" oleh kaum liberalis yang menyusup dalam tubuh ummat Islam dengan gerakan mereka yang disebut dengan Jaringan Islam Liberal (JIL) yang telah banyak mengacaukan ibadah bahkan aqidah ummat Islam di seluruh dunia. Salah satu fitnah (Penyesatan) mereka adalah dengan memberi definisi2 yang salah dalam hal pakaian wanita dalam menutup auratnya.
Maka dalam hal ini penulis akan mencoba mengkaji kembali bagaimana semestinya wanita menutup aurat dalam hukum Islam.
Agar tulisan ini menjadi berurutan maka kita susun pembahaaan ini dari definisi menurut rujukan dalilnya, hukum syari'at menurut ulama' madzhab, dan bagaimana mengaplikasikannya dalam kehidupan 'amaliyah kita.
1. DEFINISI
Dalam mendefinisikan lafazh "Jilbab" , kita mengambil rujukan dari Surah Al Ahzab 59 :
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.
Dalam ayat di atas ada disebutkan "Min Jalabibihinna"
Jalabib itu bentuk jamak taksir dari lafazh "Jilbab".
Di sini kunci pertamanya.
Selanjutnya kita buka kitab2 tafsir tentang lafazh "jalabib" di al Ahzab 59 tersebut.
Dalam Kitab Tafsir Ibnu Abbas ra. hal.426,, Kitab Tafsir Ibnu Katsir, Juz.6, hal.425 dan 481,, Kitab Durul Mantsur, Juz.6, hal.659,, dan beberapa kitab lainnya, disebutkan :
قَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَلْحَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَمَرَ اللَّهُ نِسَاءَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا خَرَجْنَ مِنْ بُيُوتِهِنَّ فِي حَاجَةٍ أَنْ يُغَطِّينَ وُجُوهَهُنَّ مِنْ فَوْقِ رُؤُوسِهِنَّ بِالْجَلَابِيبِ وَيُبْدِينَ عَيْنًا وَاحِدَةً
Telah berkata Ali bin Qatadah, dari Ibnu Abbas :
"Allah memerintahkan istri-istri mukmin jika keluar rumah karena suatu keperluan agar menutup wajah-wajah mereka dari atas kepala dengan jilbab dan menampakkan satu mata."
Imam Ath Thabari rah.a. menjelaskan dalam kitab tafsirnya, pada halaman 426 :
ثم اختلف أهل التأويل في صفة الإدناء الذي أمرهن الله به فقال بعضهم: هو أن يغطين وجوههن ورءوسهن فلا يبدين منهن إلا عينا واحدة
Para ulama tafsir khilaf mengenai sifat menjulurkan jilbab yang diperintahkan Allah dalam ayat ini. Sebagian mereka mengatakan: yaitu dengan menutup wajah-wajah mereka dan kepala-kepala mereka, dan tidak ditampakkan apa-apa kecuali hanya satu mata saja.
Silakan buka kitab tafsir mana saja di ayat ini, pasti ada disebutkan pendapat ulama' tentang perintah menutup wajah wanita.
Kemudian kita bahas praktek shahabiyah dalam memakai jilbab, kita mengambil rujukan dari Surah An Nuur 31 :
وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاء بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاء بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُوْلِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاء وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.
Ibnu Katsir rah.a. menafsirkan ayat ini menukil 2 hadits riwayat Ibnu Abi Hatim rah.a. yaitu
Hadits no.17785, dalam Kitab Tafsir Ibnu Abi Hatim al-Razi, Juz.10, hal.3154 :
أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الطِّهْرَانِيُّ فِيمَا كَتَبَ إلي حَدَّثَنَا عَبْد الرّزّاق أخبرنا مُعَمَّر، عن ابن خثيم، عن صفية بِنْت شَيْبَة، عن أم سَلَمَة قَالَتْ: لمّا نزلت هذه الآية يدنين عليهن من جلابيبهن خرج نساء الأنصار كأن على رؤوسهن الغربان من السكينة وعليهن أكسية سود يلبسنها
Kemudian selanjutnya pada no.17786, pada halaman yang sama :
حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا أَبُو صَالِحٍ حَدَّثَنِي اللَّيْثُ، حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ يَزِيدَ قَالَ:
وَسَأَلْنَاهُ يَعْنِي الزُّهْرِيَّ هَلْ عَلَى الْوُلَيْدَةِ خِمَارٌ مُتَزَوِّجَةٌ أَوْ غَيْرُ مُتَزَوِّجَةٍ؟ قَالَ: عَلَيْهَا الْخِمَارُ إِنْ كَانَتْ مُتَزَوِّجَةً، وَتُنْهَى عَنِ الْجِلْبَابِ، لِأَنَّهُ يُكْرَهُ لَهُنَّ أَنْ يَتَشَبَّهْنَ بِالْحَرَائِرِ إِلا مُحَصَنَاتٍ: وَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى يا أيها النَّبِيُّ قُلْ لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءَ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ
Hadits yang semakna juga diriwayatkan dalam Kitab Sunan Abu Dawud, Juz.4, Hal.61 :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ ثَوْرٍ، عَنْ مَعْمَرٍ، عَنِ ابْنِ خُثَيْمٍ، عَنْ صَفِيَّةَ بِنْتِ شَيْبَةَ، عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ، قَالَتْ: " لَمَّا نَزَلَتْ: {يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ}، خَرَجَ نِسَاءُ الْأَنْصَارِ كَأَنَّ عَلَى رُءُوسِهِنَّ الْغِرْبَانَ مِنَ الأَكْسِيَةِ "
Begitu juga riwayat dalam Kitab Shahih Bukhari, Juz.6, Hal.109, No.4759 :
حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ نَافِعٍ، عَنِ الحَسَنِ بْنِ مُسْلِمٍ، عَنْ صَفِيَّةَ بِنْتِ شَيْبَةَ: أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَانَتْ تَقُولُ لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ: {وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ} [النور: 31] «أَخَذْنَ أُزْرَهُنَّ فَشَقَّقْنَهَا مِنْ قِبَلِ الحَوَاشِي فَاخْتَمَرْنَ بِهَا
Mahfum dari hadits-hadits di atas lebih kurang :
dari Shafiyah binti Syaibah yang mengatakan: “Tatkala kami berada disamping Aisyah yang menyebutkan keutamaan wanita suku Quraisy, lalu Aisyah berkata: Sesungguhnya kaum wanita suku Quraisy itu memiliki satu keutamaan . Dan, aku demi Allah tiada melihat yang lebih utama daripada wanita- wanita Anshar dan yang lebih membenarkan terhadap Kitabullah maupun keimanan terhadap Al- Qur’an. Tatkala diturunkan surat An-Nuur ayat 31, maka para lelaki mereka (kaum Anshar) langsung kembali pulang menuju mereka untuk membacakan apa yang baru saja diturunkan oleh Allah atas mereka , seorang laki-laki membacakan ayat tersebut kepada istrinya, putrinya, saudarinya serta kerabatnya. Tak seorang wanitapun dari mereka melainkan lantas bangkit untuk mengambil kain yang biasa dikenakan lalu digunakan untuk menutupi kepala (menjadikannya kerudung) dalam rangka membenarkan dan mengimani apa yang telah diturunkan Allah dari Kitab-Nya. Lalu pada pagi harinya dibelakang Rasulullah (menunaikan shalat shubuh) mereka mengenakan tutup kepala (kerudung) seakan-akan diatas kepala mereka itu terdapat burung gagak”
Dalam menjelaskan tata cara memakai jilbab tersebut Al Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolani rah.a. menerangkan dalam kitabnya Fathul Baari, yang merupakan syarah (Penjelasan) dari kitab Shahih Bukhari, yaitu pada Juz.8, hal.490, menjelaskan HR. Bukhari no.4759 yang tersebut di atas :
قَوْلُهُ: فَاخْتَمَرْنَ، أَيْ غَطَّيْنَ وُجُوهَهُنَّ، وَصِفَةُ ذَلِكَ أَنْ تَضَعَ الْخِمَارَ عَلَى رَأْسِهَا وَتَرْمِيهِ مِنَ الْجَانِبِ الْأَيْمَنِ عَلَى الْعَاتِقِ الْأَيْسَرِ
Perkataan beliau (Imam Bukhari) ber-khimar dengannya, maksudnya adalah mereka menutup wajah-wajah mereka. Caranya yaitu dengan meletakkan khimar tersebut di atas kepala mereka lalu menjulurkan kainnya dari sisi kanan ke pundak yang kiri.
Saya kira sudah mencukupi keterangan-keterangan di atas.
Kemudian selanjutnya dapat kita ambil definisinya :
- Jilbab adalah pakaian yang menutupi seluruh badan kecuali mata/satu mata (Biasanya sebelah kiri).
- Khimar/Niqab/Purdah adalah pakaian luar yang menutupi kepala, wajah, leher, dan dada, yang hanya menampakkan mata saja.
- Cadar adalah kain penutup wajah, pelengkap bagi khimar yang tidak ada cadarnya. Khimar jenis ini biasanya dipakai oleh wanita amah (Budak) dan wanita yang lanjut usia.
Untuk definisi niqab dan cadar ini ada beberapa hadits yang menerangkannya sebagai dalilnya, tetapi dalam kesempatan ini akan terlalu panjang apabila dibahas semuanya.
2. MENUTUP AURAT SELURUH TUBUH KECUALI MATA MENURUT 4 MADZHAB
~ Madzhab Maliki
Madzhab Maliki berpendapat bahwa memakai cadar hukumnya tidak wajib, karena wajah bagi wanita adalah bukan merupakan aurat, namun untuk memakainya adalah sunah atau dianjurkan, dan bisa menjadi hukumnya wajib jika seseorang tidak mamakai cadar jika dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah sampai terjadi tindak yang kurang baik pada wanita tersebut.
~ Madzhab Syafi’i
Imam Syafi’i berpendapat bahwa wanita didepan lelaki ajnabi atau bukan mahram maka seluruh tubuhnya adalah aurat, maka memakai cadar adalah hukumnya wajib jika di depan lelaki ajnabi.
~ Madzhab HambalI
Berpendapat sama seperti Imam Syafi’i yaitu wajib, bahkan kuku dan kaos kakinya juga merupakan aurat bagi seorang wanita jika di depan lelaki ajnabi.
~ Madzhab Hanafi
Menyampaikan bahwa wajah wanita bukan merupakan sebuah aurat jika dilihat oleh siapa saja namun memakai cadar hukumnya sunah karena akan lebih terjaga dari fitnah.
3. PENGAMALAN
Kalau kita bermadzhab pada suatu madzhab maka sebaiknya konsisten dalam bermadzhab, tidak berbuat talfiq (pindah-pindah madzhab) sehingga kita terhindar dari bermudah-mudah dalam beragama.
Maka apabila madzhab kita madzhab Syafi'i, maka wanita kita diwajibkan menutup aurat secara sempurna dengan hanya menampakkan bagian mata saja.
Kecuali pada 3 hal : wanita budak, wanita lanjut usia, dan wanita yang berhaji ketika memakai pakaian ihrom.
Apabila kita belum mampu mengamalkan suatu perintah,, maka memperbanyak istighfar adalah solusinya. Amalkanlah amalan yang kita mampu mengamalkannya, kemudian tanamkan niat yang kuat / azzam serta berdo'a agar Allah mudahkan kita untuk mengamalkan agama dan menyempurnakannya.
Sebagaimana qoidah dalam ushul fiqih :
ما لا يدرك كله لا يترك كله
Jika tidak mampu mengerjakan secara keseluruhan maka tidak boleh meninggalkan semuanya
Semoga bermanfaat
والله اعلم با لصواب
والسلام عليكم ورحمةاللّه وبركاته
Rabu, 23 Januari 2019
NASEHAT ☆ 3
۞ اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
“Janganlah engkau berasa bahawa telah banyak amal ketaatanmu, dan janganlah engkau berasa besar diri dan takabbur dengannya, dan janganlah engkau meninggikan diri terhadap saudaramu yang diuji oleh Allah dengan kemaksiatan.
Janganlah engkau memandang rendah dan menghina sebarang perkara baik dan makruf.
Janganlah engkau mengutuk dan menghina saudaramu yang telah melakukan dosa. Janganlah redha terhadap dosa tersebut. Bencilah akan dosa itu, akan tetapi janganlah membenci pelakunya.
Di sana adanya beza antara dosa dan pembuat dosa, dan adanya beza antara ketaatan dan pelaku taat kerana boleh jadi seorang pelaku taat itu tidak mendapat sebarang faedah langsung dari amal / perbuatan taatnya tadi.”
[Syeikh Ali Jum’ah]
Akan kuberikan ilmu yang kumiliki kepada siapapun, asal mereka mau memanfaatkan ilmu yang telah kuberikan itu.
(Imam Syafi’i)
Jangan sampai ayam jantan lebih pandai darimu. Ia berkokok di waktu subuh, sedang kamu tetap lelap dalam tidur.
(Lukman Hakim).
Aku tak suka memakai baju baru, hal itu kulakukan karena aku takut timbul iri hati tetangga-tetanggaku.
(Abu Ayub as-Sakhtayani).
Aku tak sukan memakai mubil baru karna aku takut membuat tetanggaku iri
Ya alloh selamatkan kami dari sikap iri hati tetangga dan teman2ku kepadaku sebab bila mereka iri kepada aku karna prilakuku sendiri maka aku telah dzolim kepadanya sebab saya telah menjadikan dia berbuat dosa iri kepadaku
Andaikata seseorang mau memikirkan kebesaran Allah, maka ia takkan sampai hati untuk melakukan perbuatan perbuatan dosa.
(Bisyir al hafi)
Sifat rendah hati, yaitu taat dalam mengerjakan kebenaran dan menerima kebenaran itu yang datangnya dari siapapun.
(Fudlail bin Iyadl)
Dalam shalatku selama 40 tahun, aku tak pernah lupa mendo’akan guruku yang bernama Imam Syafi’i. Itu kulakukan karena aku memperolah ilmu dari Allah lewat beliau.
(Yahya bin Said al-Qathan).
Maka doakan gurumu yaitu setiap orang mengajar kan kamu agama walaupun satu huruf
Orang yang beramal tanpa didasari ilmu, maka amalnya akan sia-sia belaka, karena tidak diterima oleh Allah. (Al imam Ibnu Ruslan).
“Janganlah engkau berasa bahawa telah banyak amal ketaatanmu, dan janganlah engkau berasa besar diri dan takabbur dengannya, dan janganlah engkau meninggikan diri terhadap saudaramu yang diuji oleh Allah dengan kemaksiatan.
Janganlah engkau memandang rendah dan menghina sebarang perkara baik dan makruf.
Janganlah engkau mengutuk dan menghina saudaramu yang telah melakukan dosa. Janganlah redha terhadap dosa tersebut. Bencilah akan dosa itu, akan tetapi janganlah membenci pelakunya.
Di sana adanya beza antara dosa dan pembuat dosa, dan adanya beza antara ketaatan dan pelaku taat kerana boleh jadi seorang pelaku taat itu tidak mendapat sebarang faedah langsung dari amal / perbuatan taatnya tadi.”
[Syeikh Ali Jum’ah]
Akan kuberikan ilmu yang kumiliki kepada siapapun, asal mereka mau memanfaatkan ilmu yang telah kuberikan itu.
(Imam Syafi’i)
Jangan sampai ayam jantan lebih pandai darimu. Ia berkokok di waktu subuh, sedang kamu tetap lelap dalam tidur.
(Lukman Hakim).
Aku tak suka memakai baju baru, hal itu kulakukan karena aku takut timbul iri hati tetangga-tetanggaku.
(Abu Ayub as-Sakhtayani).
Aku tak sukan memakai mubil baru karna aku takut membuat tetanggaku iri
Ya alloh selamatkan kami dari sikap iri hati tetangga dan teman2ku kepadaku sebab bila mereka iri kepada aku karna prilakuku sendiri maka aku telah dzolim kepadanya sebab saya telah menjadikan dia berbuat dosa iri kepadaku
Andaikata seseorang mau memikirkan kebesaran Allah, maka ia takkan sampai hati untuk melakukan perbuatan perbuatan dosa.
(Bisyir al hafi)
Sifat rendah hati, yaitu taat dalam mengerjakan kebenaran dan menerima kebenaran itu yang datangnya dari siapapun.
(Fudlail bin Iyadl)
Dalam shalatku selama 40 tahun, aku tak pernah lupa mendo’akan guruku yang bernama Imam Syafi’i. Itu kulakukan karena aku memperolah ilmu dari Allah lewat beliau.
(Yahya bin Said al-Qathan).
Maka doakan gurumu yaitu setiap orang mengajar kan kamu agama walaupun satu huruf
Orang yang beramal tanpa didasari ilmu, maka amalnya akan sia-sia belaka, karena tidak diterima oleh Allah. (Al imam Ibnu Ruslan).
FIKIR AKHIRAT
Fikiran merupakan sumber dari ilmu, sedang ilmu itu sendiri merupakan sumber amal. (Imam Wahb bin munabbih).
Maka gunakan fikirmu untuk memikirkan akherat agar kamu menjadi sebab fikirmu
Istimewanya manusia itu karna fikirnya andaikan fikirnya hilang maka dia menjadi gila
Orang yang fikirnya sehat namun tidak ia gunakan untuk memikirkan kehidupan akherat maka dia lebih gila dari orang yang gila
Berfikir sesaat sungguh lebih mengesankan ketimbang mengerjakan shalat sepanjang malam. (Imam Hasan Bashri).
Berfikir akherat itu akan melembutkan hati
Berfikir merupakan cermin untuk melihat apa-apa yang baik dan yang buruk pada dirimu. (Fudhail bin iyad).
اللهم كما أحسنت خلقي فحسن خلقي
Ketahuilah bahwa satu majelis ilmu bisa menghapus dosa 70 majelis yang tidak ada gunanya. (Atha’bin Yassar).
Maka dari itu saya himbau kepada seluruh saudaraku semua agar jadikan majlis ini majlis ilmu dan nasehat menasehati di antara kita agar selalu ingat alloh dan fikir akherat
Bila fikir akherat hilang dari kita maka kita menjadi lalai sehingga kita merugi
Saudaraku yang di mulyakan alloh.
Apabila kita berfikir tentang hidup, sebenarnya kita berfikir tentang kematian, apabila kita berfikir tentang kematian, sebenarnya kita berfikir tentang alam barzakh, tentang alam akhirat.
Apabila kita berfikir tentang kesudahan hidup, jawapannya hanyalah dua, yaitu saudara akan ke syurga atau ke neraka.
Maka gunakan fikirmu untuk memikirkan akherat agar kamu menjadi sebab fikirmu
Istimewanya manusia itu karna fikirnya andaikan fikirnya hilang maka dia menjadi gila
Orang yang fikirnya sehat namun tidak ia gunakan untuk memikirkan kehidupan akherat maka dia lebih gila dari orang yang gila
Berfikir sesaat sungguh lebih mengesankan ketimbang mengerjakan shalat sepanjang malam. (Imam Hasan Bashri).
Berfikir akherat itu akan melembutkan hati
Berfikir merupakan cermin untuk melihat apa-apa yang baik dan yang buruk pada dirimu. (Fudhail bin iyad).
اللهم كما أحسنت خلقي فحسن خلقي
Ketahuilah bahwa satu majelis ilmu bisa menghapus dosa 70 majelis yang tidak ada gunanya. (Atha’bin Yassar).
Maka dari itu saya himbau kepada seluruh saudaraku semua agar jadikan majlis ini majlis ilmu dan nasehat menasehati di antara kita agar selalu ingat alloh dan fikir akherat
Bila fikir akherat hilang dari kita maka kita menjadi lalai sehingga kita merugi
Saudaraku yang di mulyakan alloh.
Apabila kita berfikir tentang hidup, sebenarnya kita berfikir tentang kematian, apabila kita berfikir tentang kematian, sebenarnya kita berfikir tentang alam barzakh, tentang alam akhirat.
Apabila kita berfikir tentang kesudahan hidup, jawapannya hanyalah dua, yaitu saudara akan ke syurga atau ke neraka.
NASEHAT ☆ 2
Barang siapa tidak mencintai karna agama dan tidak membenci karna agama, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya ia tidak memiliki agama. (Abu Abdilah al- Shdiq).
Hendaklah kamu tetap berbuat baik kepada orang yang berbuat jelek kepadamu. (Lukman Hakim).
Jika Allah bersamamu, maka jangan takut kepada siapa saja, akan tetapi jika Allah sudah tidak lagi bersamamu, maka siapa lagi yang bisa diharapkan olehmu? (Hasan al Banna).
Barang siapa tidak peduli terhadap nasib agama, berarti ia tidak punya agama, barang siapa yang semangatnya tidak berkobar-kobar jika agama Islam ditimpa suatu bencana, maka Islam tidak butuh kepada mereka. (Imam al-Ghazali).
Barang siapa tidak meghargai nikmat, maka nikmat itu akan diambil dalam keadaan ia tidak mengetahuinya. (Siriy Assaqathi).
Mengerjakan sesuatu sesuai dengan ketentuan hukum syara’ berarti menuju jalan kebahagiaan baik di dunia lebih-lebih di akhirat. Dan hendaklah kamu merasa takut jika kamu berpisah dengan orang-orang yang ahli di bidang agama.(ahli agama adalah para ulama) (Syaikh Abdul Qadir Jailani).
Manisnya akhirat mustahil diraih oleh orang-orang yang suka terkenal di mata manusia. (Bisyir).
Dengan pengalaman akan bertambah ilmu pengetahuannya, dengan berdzikir menyebabkan bertambah rasa cinta dan dengan berfikir akan menambah rasa taqwa kepada Allah. (Imam Hatim)
Hendaklah kamu tetap berbuat baik kepada orang yang berbuat jelek kepadamu. (Lukman Hakim).
Jika Allah bersamamu, maka jangan takut kepada siapa saja, akan tetapi jika Allah sudah tidak lagi bersamamu, maka siapa lagi yang bisa diharapkan olehmu? (Hasan al Banna).
Barang siapa tidak peduli terhadap nasib agama, berarti ia tidak punya agama, barang siapa yang semangatnya tidak berkobar-kobar jika agama Islam ditimpa suatu bencana, maka Islam tidak butuh kepada mereka. (Imam al-Ghazali).
Barang siapa tidak meghargai nikmat, maka nikmat itu akan diambil dalam keadaan ia tidak mengetahuinya. (Siriy Assaqathi).
Mengerjakan sesuatu sesuai dengan ketentuan hukum syara’ berarti menuju jalan kebahagiaan baik di dunia lebih-lebih di akhirat. Dan hendaklah kamu merasa takut jika kamu berpisah dengan orang-orang yang ahli di bidang agama.(ahli agama adalah para ulama) (Syaikh Abdul Qadir Jailani).
Manisnya akhirat mustahil diraih oleh orang-orang yang suka terkenal di mata manusia. (Bisyir).
Dengan pengalaman akan bertambah ilmu pengetahuannya, dengan berdzikir menyebabkan bertambah rasa cinta dan dengan berfikir akan menambah rasa taqwa kepada Allah. (Imam Hatim)
NASEHAT ☆ 1
Orang yang mengerti ilmu fikih berarti ia bisa makrifat kepada Allah dengan ilmunya menyebabkan ia kenal kepada-Nya. Bahkan dengan ilmunya ia bisa mengajar orang lain sampai pandai. (Syeikh Izzuddin bin Abdussalam).
Berusahalah kita menjadi hamba alloh yang bermanfaat untuk yang lain baik tingkah laku kita sikap dan ucapan dan perangai kita nabi bersabda
خير اللناس أنفعهم للناس
Sebaik baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain
Jangan berteman yang hanya mau menemanimu ketika kamu sehat atau kaya, karena tipe teman seperti itu sungguh berbahaya sekali bagi kamu dibelakang hari.(Imam Ghozali).
Ikatlah hubungan pertemanan kalian hanya karna alloh
Maka kalian akan selalu mencintai temanmu walaupun teman mu itu selalu menyakiti mu
Akhlaqul karimah adalah selalu berbuat baik kepada yang selalu menyakiti dan ini sangat berat
Jika ada musuh yang bisa mendekatkan kamu kepada Allah, maka hal itu lebih baik dari pada teman akrab yang menjauhkan kamu dari Allah. (Abul Hasan as-Sadzili).
Orang yang bijak tidak akan terpeleset oleh harta, dan meski terpeleset, ia akan tetap mendapatkan pegangan. (Abdullah bin Abbas).
Maka carilah penasehat dalam hidup kalian agar kalian selalu dalam bimbingan
Berusahalah kita menjadi hamba alloh yang bermanfaat untuk yang lain baik tingkah laku kita sikap dan ucapan dan perangai kita nabi bersabda
خير اللناس أنفعهم للناس
Sebaik baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain
Jangan berteman yang hanya mau menemanimu ketika kamu sehat atau kaya, karena tipe teman seperti itu sungguh berbahaya sekali bagi kamu dibelakang hari.(Imam Ghozali).
Ikatlah hubungan pertemanan kalian hanya karna alloh
Maka kalian akan selalu mencintai temanmu walaupun teman mu itu selalu menyakiti mu
Akhlaqul karimah adalah selalu berbuat baik kepada yang selalu menyakiti dan ini sangat berat
Jika ada musuh yang bisa mendekatkan kamu kepada Allah, maka hal itu lebih baik dari pada teman akrab yang menjauhkan kamu dari Allah. (Abul Hasan as-Sadzili).
Orang yang bijak tidak akan terpeleset oleh harta, dan meski terpeleset, ia akan tetap mendapatkan pegangan. (Abdullah bin Abbas).
Maka carilah penasehat dalam hidup kalian agar kalian selalu dalam bimbingan
DUNIA SEMENTARA AKHIRAT SELAMA-LAMANYA ☆ 4
Dalam mencapai kebahagiaan dan kesuksesan dunia dan akherat, kita tidak perlu ilmu lain, selain yang telah diajarkan dan dicontohkan oleh Nabi SAW. Ilmu-ilmu selain dari yang diajarkan Nabi SAW, hanya keperluan saja, bukanlah tujuan yang sebenarnya. Orang yang yakin akan bahagia dengan ilmu-ilmu selain yang telah diajarkan Nabi SAW, inilah mereka yang tertipu oleh dunia. Ilmu yang diajarkan Nabi SAW adalah ilmu yang bisa membawa manusia kepada Allah dan Surganya.
Selain Ilmu yang diajarkan Nabi SAW ini bisa menjadi jebakan setan agar manusia cinta dunia dan segala perhiasannya sehingga meninggalkan Allah dan akheratnya. Bagi Allah tanpa Iman dan amal, dunia dan segala isinya tidak ada nilainya, walaupun hanya sebelah sayap nyamuk. Ilmu Dunia yang bernilai disisi Allah adalah yang digunakan untuk kepentingan agama dan Dakwah. Seperti menjadi dokter untuk dakwah dikalangan dokter, menjadi polisi untuk dakwah dikalangan polisi, menjadi pedagang untuk berdakwah dikalangan pedagang, dan lain-lain.
Saat ini manusia mengira mereka dapat menghasilkan sesuatu dengan jerih payah mereka. Mereka kira rizki akan bertambah asbab ilmu dan usaha mereka yang meningkat pula. Mereka menyangka seluruh kebendaan dan status yang mereka miliki adalah hasil dari pengorbanan dan usaha mereka. Seperti Qorun, seorang pedagang yang kaya raya, ketika ditagih untuk bayar zakat dia tidak mau. Musa AS berkata bahwa seluruh kebendaan yang dia miliki semuanya datang dari Allah dan milik Allah. Qorun malah menentangnya dengan berkata, “Ini adalah hasil dari jerih payah saya dan karena kecerdasan saya.” Hari inipun jika kita melihat seseorang bertengkar karena harta maka jawaban seperti inilah yang keluar dari mereka.
Sahabat dahulu tidak meletakkan yakinnya pada asbab-asbab seperti kebendaan, perdagangan, dan status yang mereka miliki. Tetapi sahabat meletakkan yakinnya pada Allah Ta’ala, sebagai Rabbul Asbab bukan pada asbabnya. Allahlah yang memberi keuntungan bukan perdagangan. Hari ini yakin kita telah keliru, kita yakinnya pada toko kita, perdagangan kita, kantor kita, yang memberi kita hidup, tanpa itu bagaimana kita bisa hidup. Sehingga ketika kita diminta untuk berkorban di jalan Allah sulit sekali bagi kita untuk dapat meninggalkannya. Berbeda dengan sahabat, walaupun ketika sedang panen usaha mereka, namun ketika panggilan agama datang mereka langsung tinggalkan semua itu. Ini karena yakin mereka sudah benar. Kita lupa dengan toko yang sama, usaha yang sama, kantor yang sama, perdagangan yang sama, seseorang dapat Allah buat bangkrut dan celaka dunia dan akherat.
Keyakinan sahabat kepada Allah ini telah membuat mereka mampu menafikan segala hal yang mereka miliki. Sehingga keyakinan mereka ini dapat mendatangkan Qudratullah dalam kehidupan mereka. Seperti berjalan diatas air, menghalau lahar api kembali ke lubangnya, memerintahkan sungai nil, menghentikan gempa, mendatangkan hujan, menghidupkan keledai mati, dan menjewer singa, ini semua perkara yang biasa bagi sahabat. Do’a mereka sangat Ijabah sehingga mampu mendatangkan Qudratullah dan Nusratullah, ini karena level Iman dan Amal yang sampai di tingkat yang Allah mau. Bagaimana cara meningkatkan Iman sampai ke level para sahabat. Ini hanya bisa dilakukan jika ada usaha atas Iman dan Amal yaitu dengan menjalankan Usaha Dakwahnya Nabi. Umat turun imannya karena meninggalkan kerja ini. Sahabat korbankan harta, keluarga, dan diri, seluruhnya untuk usaha ini. Sehingga karena ini Allah berikan kesuksesan pada mereka di dunia dan di akherat. Jika kita berbuat seperti Sahabat maka Allah akan berikan kita kesuksesan yang sama.
Jika kita sudah bisa meninggalkan hal-hal yang kita cintai untuk keluar di jalan Allah, barulah Allah akan berikan kita kesuksesan dan kefahaman agama seperti para sahabat. Setiap orang tidak akan sama tingkat kesuksesan dan kefahamannya karena ini tergantung pada pengorbanan setiap orang. Inilah cara Allah mendistribusikan kebahagiaan dan kesuksesan, tergantung pada Do’a dan pengorbanan kita yang sungguh-sungguh atas agama Allah.
Jangan takut atas perkara Rizki karena semua itu telah Allah atur dan Allah mempunyai caraNya sendiri dalam menyalurkan rizki itu. Tidak ada hubungannya antara rizki dan usaha kita. Seperti kisah 2 orang murid lulus dari universitas dengan gelar dan nilai yang sama. Tetapi setelah lulus yang satu mendapat kerja dengan gaji yang tinggi dan yang satu pengangguran tidak ada penghasilan apa-apa. Jadi semuanya telah diatur Allah, gelar kita tidak dapat menjamin apa-apa selain apa yang Allah telah tetapkan. Inilah bukti bahwa keduniaan yang kita miliki tidak bisa menjamin rizki yang telah ditetapkan oleh Allah. Apakah mereka kedua-duanya bisa bahagia, tentu bisa asal mereka mau taat pada perintah Allah. Jika yang berpenghasilan tinggi dia tidak taat dan yang pengangguran dia bisa taat pada perintah Allah, maka yang berpengangguranlah yang akan bahagia dan Allah berikan kesuksesan dunia dan akherat. Karena tolak ukur kesuksesan dan kebahagiaan ini hanya pada ketaatan terhadap perintah-perintah Allah saja. Kebahagiaan akan datang kepada mereka yang mau taat pada perintah-perintah Allah, walaupun dia tidak punya gelar dan penghasilan apapun. Dan ini dapat dimulai dari keyakinan di hati terhadap agama.
Selain Ilmu yang diajarkan Nabi SAW ini bisa menjadi jebakan setan agar manusia cinta dunia dan segala perhiasannya sehingga meninggalkan Allah dan akheratnya. Bagi Allah tanpa Iman dan amal, dunia dan segala isinya tidak ada nilainya, walaupun hanya sebelah sayap nyamuk. Ilmu Dunia yang bernilai disisi Allah adalah yang digunakan untuk kepentingan agama dan Dakwah. Seperti menjadi dokter untuk dakwah dikalangan dokter, menjadi polisi untuk dakwah dikalangan polisi, menjadi pedagang untuk berdakwah dikalangan pedagang, dan lain-lain.
Saat ini manusia mengira mereka dapat menghasilkan sesuatu dengan jerih payah mereka. Mereka kira rizki akan bertambah asbab ilmu dan usaha mereka yang meningkat pula. Mereka menyangka seluruh kebendaan dan status yang mereka miliki adalah hasil dari pengorbanan dan usaha mereka. Seperti Qorun, seorang pedagang yang kaya raya, ketika ditagih untuk bayar zakat dia tidak mau. Musa AS berkata bahwa seluruh kebendaan yang dia miliki semuanya datang dari Allah dan milik Allah. Qorun malah menentangnya dengan berkata, “Ini adalah hasil dari jerih payah saya dan karena kecerdasan saya.” Hari inipun jika kita melihat seseorang bertengkar karena harta maka jawaban seperti inilah yang keluar dari mereka.
Sahabat dahulu tidak meletakkan yakinnya pada asbab-asbab seperti kebendaan, perdagangan, dan status yang mereka miliki. Tetapi sahabat meletakkan yakinnya pada Allah Ta’ala, sebagai Rabbul Asbab bukan pada asbabnya. Allahlah yang memberi keuntungan bukan perdagangan. Hari ini yakin kita telah keliru, kita yakinnya pada toko kita, perdagangan kita, kantor kita, yang memberi kita hidup, tanpa itu bagaimana kita bisa hidup. Sehingga ketika kita diminta untuk berkorban di jalan Allah sulit sekali bagi kita untuk dapat meninggalkannya. Berbeda dengan sahabat, walaupun ketika sedang panen usaha mereka, namun ketika panggilan agama datang mereka langsung tinggalkan semua itu. Ini karena yakin mereka sudah benar. Kita lupa dengan toko yang sama, usaha yang sama, kantor yang sama, perdagangan yang sama, seseorang dapat Allah buat bangkrut dan celaka dunia dan akherat.
Keyakinan sahabat kepada Allah ini telah membuat mereka mampu menafikan segala hal yang mereka miliki. Sehingga keyakinan mereka ini dapat mendatangkan Qudratullah dalam kehidupan mereka. Seperti berjalan diatas air, menghalau lahar api kembali ke lubangnya, memerintahkan sungai nil, menghentikan gempa, mendatangkan hujan, menghidupkan keledai mati, dan menjewer singa, ini semua perkara yang biasa bagi sahabat. Do’a mereka sangat Ijabah sehingga mampu mendatangkan Qudratullah dan Nusratullah, ini karena level Iman dan Amal yang sampai di tingkat yang Allah mau. Bagaimana cara meningkatkan Iman sampai ke level para sahabat. Ini hanya bisa dilakukan jika ada usaha atas Iman dan Amal yaitu dengan menjalankan Usaha Dakwahnya Nabi. Umat turun imannya karena meninggalkan kerja ini. Sahabat korbankan harta, keluarga, dan diri, seluruhnya untuk usaha ini. Sehingga karena ini Allah berikan kesuksesan pada mereka di dunia dan di akherat. Jika kita berbuat seperti Sahabat maka Allah akan berikan kita kesuksesan yang sama.
Jika kita sudah bisa meninggalkan hal-hal yang kita cintai untuk keluar di jalan Allah, barulah Allah akan berikan kita kesuksesan dan kefahaman agama seperti para sahabat. Setiap orang tidak akan sama tingkat kesuksesan dan kefahamannya karena ini tergantung pada pengorbanan setiap orang. Inilah cara Allah mendistribusikan kebahagiaan dan kesuksesan, tergantung pada Do’a dan pengorbanan kita yang sungguh-sungguh atas agama Allah.
Jangan takut atas perkara Rizki karena semua itu telah Allah atur dan Allah mempunyai caraNya sendiri dalam menyalurkan rizki itu. Tidak ada hubungannya antara rizki dan usaha kita. Seperti kisah 2 orang murid lulus dari universitas dengan gelar dan nilai yang sama. Tetapi setelah lulus yang satu mendapat kerja dengan gaji yang tinggi dan yang satu pengangguran tidak ada penghasilan apa-apa. Jadi semuanya telah diatur Allah, gelar kita tidak dapat menjamin apa-apa selain apa yang Allah telah tetapkan. Inilah bukti bahwa keduniaan yang kita miliki tidak bisa menjamin rizki yang telah ditetapkan oleh Allah. Apakah mereka kedua-duanya bisa bahagia, tentu bisa asal mereka mau taat pada perintah Allah. Jika yang berpenghasilan tinggi dia tidak taat dan yang pengangguran dia bisa taat pada perintah Allah, maka yang berpengangguranlah yang akan bahagia dan Allah berikan kesuksesan dunia dan akherat. Karena tolak ukur kesuksesan dan kebahagiaan ini hanya pada ketaatan terhadap perintah-perintah Allah saja. Kebahagiaan akan datang kepada mereka yang mau taat pada perintah-perintah Allah, walaupun dia tidak punya gelar dan penghasilan apapun. Dan ini dapat dimulai dari keyakinan di hati terhadap agama.
Jumat, 23 November 2018
BENDERA RASULULLAH BERTULISKAN KALIMAH TAUHID
Ada bbrp tulisan di blog2 yg menyudutkan bahwa dalil2 ttg bendera Nabi itu dha'if, munkar, bahkan maudhu'.
Maka dlm kesempatan ini sy mencoba ulang kembali bbrp hadits utk memperkuat hujjah tentang permasalahan tsb.
Sebuah hadits riwayat Imam Thobroni dlm Kitab Al-Mu'jam al-awsath, juz 1, bab Min Ismuhu Ahmad, no.219, hal.201-202 :
حدثنا احمد بن رشدين قال: نا عبد الغفار بن داود ابو صالح الحراني قال: نا حيان بن عبيد الله قال: نا ابو مجلز ﻻحق بن هميد ، عن ابن عباس قال :
كانت راية رسول الله صلى الله عليه و سلم سوداء ولواؤه ابيض مكتوب عليه : ﻻ إله إﻻ الله محمد رسول الله
Dlm hadits tsb Ibnu Abbas menerangkan bahwa royah nabi itu berwarna hitam dan liwanya berwarna putih, tertulis padanya "Lâ ilàha illallàh"
Dlm kitab Al-Mu'jamul Ausath ini Imam Thabrani rah.a. menuliskan sekitar 170-an hadits dari gurunya, Syaikh Ahmad b. Risydin rah.a.
Juga sebuah hadits riwayat Imam Ashbahani dlm Kitab Akhlaq an-Nabi saw. bab Karakteristik Kostum Rasulullah saw. sub bab Memori dari Rayah-nya (Nabi) saw. no.420, hal.153 :
ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺯﻧﺠﻮﻳﻪ ﺍﻟﻤﺨﺮﻣﻲ ، ﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﺴﺮﻱ ﺍﻟﻌﺴﻘﻼﻧﻲ ، ﻧﺎ ﻋﺒﺎﺱ ﺑﻦ ﻃﺎﻟﺐ ، ﻋﻦ ﺣﻴﺎﻥ ﺑﻦ ﻋﺒﻴﺪ ﺍﻟﻠﻪ ، ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻣﺠﺎﺯ ، ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ، ﻗﺎﻝ :
ﻛﺎﻧﺖ ﺭﺍﻳﺔ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺳﻮﺩﺍﺀ ﻭﻟﻮﺍﺀﻩ ﺃﺑﻴﺾ ، ﻣﻜﺘﻮﺏ ﻓﻴﻪ : ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﺤﻤﺪ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ
Satu hadits lg dikeluarkan Imam Ashbahani dlm kitab yg sama, bab dan sub bab yg sama, halaman yg sama, hanya beda nomor hadits dan jalur sanadnya, yaitu no.421, dg sanad :
ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺯﻧﺠﻮﻳﻪ ، ﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﺴﺮﻱ ، ﻧﺎ ﺍﺑﻦ ﻭﻫﺐ ، ﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺣﻤﻴﺪ ، ﻋﻦ ﺍﻟﺰﻫﺮﻱ ، ﻋﻦ ﺳﻌﻴﺪ ﺑﻦ ﺍﻟﻤﺴﻴﺐ ، ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ
Selanjutnya dlm Kitab Al- Anwar fi Syama-il an-Nabi al-Mukhtar, bab ke-72 Mengingati Royah dan Liwa nya Nabi saw., hal.590-591, No.894
ﻭﺣﺪﺛﻨﺎ ﺃﺑﻮ ﻃﺎﻫﺮ ، ﺃﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ، ﺃﻧﺎ ﺃﺑﻮ ﺍﻟﺸﻴﺦ ، ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺯﻧﺠﻮﻳﻪ ﺍﻟﻤﺨﺮﻣﻲ ، ﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﺴﺮﻱ ﺍﻟﻌﺴﻘﻼﻧﻲ ، ﻧﺎ ﻋﺒﺎﺱ ﺑﻦ ﻃﺎﻟﺐ ، ﻋﻦ ﺣﻴﺎﻥ ﺑﻦ ﻋﺒﻴﺪ ﺍﻟﻠﻪ ، ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻣﺠﻠﺰ ، ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻨﻬﻤﺎ ، ﻗﺎﻝ : ﻛﺎﻧﺖ ﺭﺍﻳﺔ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ، ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ، ﺳﻮﺩﺍﺀ ، ﻭﻟﻮﺍﺅﻩ ﺃﺑﻴﺾ ، ﻣﻜﺘﻮﺏ : ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ،
ﻣﺤﻤﺪ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ
Dan diterangkan dlm hadits selanjutnya di No.897, nama benderanya Nabi saw. itu "العقاب - Al 'Uqab"
Kemudian dlm Kitab Al-Kamil nya Ibnu 'Adi
Dari Abdullah b. Umar ra. :
ﺛﻨﺎ ﺛﻨﺎ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ ﺑﻦ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ﺑﻦ ﺣﻴﺎﻥ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩﻱ , ﻭﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺍﻟﻤﻤﺘﻨﻊ , ﻗﺎﻻ : ﺛﻨﺎ ﺃﺑﻮ ﻳﺤﻴﻰ ﺍﻟﻮﻗﺎﺭ , ﺣﺪﺛﻨﻲ ﺍﻟﻌﺒﺎﺱ ﺑﻦ ﻃﺎﻟﺐ ﺍﻷﺯﺩﻱ , ﻋﻦ ﺣﻴﺎﻥ ﺑﻦ ﻋﺒﻴﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺯﻫﻴﺮ ﺍﻟﻌﺪﻭﻱ , ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻣﺨﻠﺪ , ﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ , ﻗﺎﻝ : " ﻛﺎﻧﺖ ﺭﺍﻳﺔ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺳﻮﺩﺍﺀ , ﻣﻜﺘﻮﺑﺎ ﻓﻴﻬﺎ : ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﺤﻤﺪ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ
Lebih kurang ada 120-an kitab telah dituliskan dan dibahas ttg benderanya Nabi saw., termasuk 30-an kitab yg bendera tsb tertulis kalimat tauhid.
Ini yg sy temukan. Tapi bagi yg lebih teliti lagi, sy yakin akan ditemukan kitab2nya lebih banyak lagi.
Tahqiq yg disampaikan dlm bbrp tulisan yg menyudutkan bendera Nabi tsb bertuliskan kalimat tauhid tsb sy nilai gak adil karena hanya disampaikan sisi jarh nya saja.
Kemudian dikunci dg pesan "jangan lupa kaidah kalau ada jarh dan ta'dil, dahulukan jarh nya"
Ini sy kira termasuk pemaksaan pemahaman.
Pertanyaannya,, bagaimana kalo yg menyampaikan jarh itu org yg tergolong dhoif ? Atau org yg punya permusuhan ?
Baik utk meringkas diskusi ini, kt bahas langsung ttg ta'dilnya Hayyan b. Ubaidillah. Karena inti dari maqbul mardudnya hadits ini mengerucutnya pada rawi tsb.
Penilaian dari Imam Abu Ya'la, Hayyan b. Ubaidillah "Tsiqah".
Ini ditulis dlm Kitab Majma'uz-Zawaid, juz 5, hal.321
Jg ditulis dlm Kitab Tharh at-Tatsrib fi Syarh at-Taqrib, juz 7, hal.220
Selanjutnya kita buka Kitab al-Jarh wa al-Ta'dil karya Al Imam Al Hafizh Syaikhul-Islam Abi Hatim ar-Razi, Juz 3, hal.246, No.1093 :
"Shaduq"
Ada yg menulis dg menerangkannya dlm Jarh III : 246. "Shaduq" itu spt digolongkan dlm golongan "Jarh" dg memotong nama kitab aslinya. Padahal "Shaduq" itu termasuk "al-Ta'dil"
Istilah "Shaduq" itu sendiri menunjukkan bahwa perawi tsb jujur dan dpt dipercaya.
Dan kita sama ketahui bahwa Kitab al-Jarh wa al-Ta'dil karya Imam Ibnu Abi Hatim al-Razi itu adalah salah satu kitab utama sbg rujukan bagi para peneliti hadits di zamannya di abad ke 2-3 hijriyah hingga sekarang.
Kemudian selanjutnya penilaian dari Abu Bakar al-Bazar yg mengatakan bahwa Hayyan b. Ubaidillah "Masyhur dan Laisa bihi ba’sa"
Setelah kt ketahui pujian2 yg diistilahkan "al-ta'dil" dari para ulama ahli hadits kpd rowi Hayyan b. 'Ubaidillah,,
Maka kt ketahui hadits2 tsb termasuk hadits mudhtharib.
Sebagian ada yg menguatkan sebagian ada yg melemahkan.
Terus kalo ada yg bilang dlm masalah bendera dg tulisan kalimah tauhid ini semuanya "dhaif" ,,,
Jawabannya : yaaaa dhaif menurut siapa, hasan menurut siapa, shahih menurut siapa ?
Kalo ngotot pokoknya dhaif semua,,, berarti org ini gak mau ngerti ttg ikhtilaf nya ulama.
Dan di banyak keterangan, ditulis
" وهو ظاهر فى التغاير "
Kemudian ditambahkan keterangan
" لعل التفرقة بينهما عرفية "
Pada kitab :
- Fath al-Bari, Juz 7, hal.477
- Al-Muwahib al-Laduniyah bi al-Minah al-Muhammadiyah, Juz 1, hal.201
Dan kitab2 lainnya.
Ini menunjukkan bahwa sudah dimaklumi semenjak dahulu pertentangan di kalangan ulama tentang hadits tsb.
Sampai di sini sy tdk akan mengambil istinbath utk membenarkan atau menyalahkan pendapat dari sebagian kalangan ulama dari sebagiannya lagi.
Karena sy hanya seorng muqallid yg cuma mengikuti pendapat para ulama panutan sy.
Baik di sini akan sy sampaikan kitab2 para ulama yg menerangkan royah dan liwa' Nabi saw. itu tertulis kalimah
ﻻ اله اﻻ الله محمد رسول الله
- Kitab Inaratud-Duja fi Maghzi Khair al-Waraya atau lebih populer dg sebutan Kitab Al-Maghzi al-Waqidi, Bab Ar-Rayah wa al-Liwa', Juz 1, hal.543.
Kitab ini termasuk kitab sejarah Islam terawal dan terpopuler.
- Kitab Subul al-Huda wa al-Rasyad fi Sirah Khairil 'Ibad, Bab Ke-6 tentang Liwa' , Rayah, dan Kemahnya Nabi saw. Juz 7, hal.371
- Kitab Taisir al-'Aziz al-Hamid fi Syarh Kitab al-Tauhid, Bab Seruan kepada Syahadat Laa ilaha illallah, Juz 1, hal.103
- Kitab Syarh Kitab al-Tauhid, karya Syaikh Abdullah b. Muhammad al-Ghunaiman, Bab Mengambil Bendera ketika Perang, Juz 25, hal.14.
- Kitab Fathul-Majid Syarh Kitab al-Tauhid, Bab Dakwah kepada Syahadat Laa ilaha illallah, Juz 1, hal.89
- Kitab Bada-i' al-'Umur fi Waqaa-i’ ad-Duhur, karya Imam Suyuthi, lembar ke-286
Dan masih banyak lagi kitab2nya, tetapi sy kira sdh cukup sebagai rujukan bagi yg mempunyai keyakinan bahwa bendera Nabi saw. itu tertulis kalimah
ﻻ اله اﻻ الله محمد رسول الله
Sebagaimana keyakinannya ulama2 terdahulu,, maka seperti jg keyakinannya ulama2 kita zaman ini :
Ust. Abd. Somad, Ust. Adi Hidayat, Ust. Aa Gym, Habib Rizieq Shihab, dan yg lain2nya.
Dan bukankah ada keterangan bahwa wali yg dulu dakwah di nusantara ini, diutus oleh Sulthan Turki - Sulthan Muhammad (Mehmed) I dan II, membawa bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid,, yg masih tersimpan di museum kraton jogjakarta.
Dan bagaimana dg bendera merah putih bertuliskan Laa ilaha illallah yg dikibarkan para pejuang kemerdekaan pasukan Hizbullah dahulu ?
Ulama2 nusantara ketika itu pasti punya referensi ttg aqidah tsb.
Kalau keterangan itu semua bisa diterima,, maka bentuk khath sebagaimana yg dikritik Didin Sirojuddin AR. utk menuliskan kalimah
ﻻ اله اﻻ الله محمد رسول االه
pada kain bendera tsb menjadi tdk perlu dipersoalkan lagi.
Karena kalau ketika itu Nabi saw. biasa mengirimkan surat kpd raja2 utk berdakwah,,, maka bukanlah suatu yg mustahil utk menuliskannya di sebuah bendera.
Maka tdk berlebihan kalau kami berprasangka bahwa ada yg mengkaburkan aqidah ttg panji hitam Rasulullah.
Ini salah satu fitnah dikalangan ummat, yg nantinya mengarah pada penolakan Al-Mahdi sbg Khalifah akhir zaman.
Ada jg pemahaman bahwa panji hitam Al-Mahdi itu berupa kendaraan "Jet", bukan "Ar-Rayah"
Bahkan ada jg pemahaman bahwa Al-Mahdi itu hanyalah sifat2 kebaikan, bukanlah wujud zhahir.
Lengkap sudah rangkaian fitnah tsb yg saling kait mengait.
اللهم احفظنا من الفتن ما ظهر منها وما بطن
والله اعلم بالصواب
Maka dlm kesempatan ini sy mencoba ulang kembali bbrp hadits utk memperkuat hujjah tentang permasalahan tsb.
Sebuah hadits riwayat Imam Thobroni dlm Kitab Al-Mu'jam al-awsath, juz 1, bab Min Ismuhu Ahmad, no.219, hal.201-202 :
حدثنا احمد بن رشدين قال: نا عبد الغفار بن داود ابو صالح الحراني قال: نا حيان بن عبيد الله قال: نا ابو مجلز ﻻحق بن هميد ، عن ابن عباس قال :
كانت راية رسول الله صلى الله عليه و سلم سوداء ولواؤه ابيض مكتوب عليه : ﻻ إله إﻻ الله محمد رسول الله
Dlm hadits tsb Ibnu Abbas menerangkan bahwa royah nabi itu berwarna hitam dan liwanya berwarna putih, tertulis padanya "Lâ ilàha illallàh"
Dlm kitab Al-Mu'jamul Ausath ini Imam Thabrani rah.a. menuliskan sekitar 170-an hadits dari gurunya, Syaikh Ahmad b. Risydin rah.a.
Juga sebuah hadits riwayat Imam Ashbahani dlm Kitab Akhlaq an-Nabi saw. bab Karakteristik Kostum Rasulullah saw. sub bab Memori dari Rayah-nya (Nabi) saw. no.420, hal.153 :
ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺯﻧﺠﻮﻳﻪ ﺍﻟﻤﺨﺮﻣﻲ ، ﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﺴﺮﻱ ﺍﻟﻌﺴﻘﻼﻧﻲ ، ﻧﺎ ﻋﺒﺎﺱ ﺑﻦ ﻃﺎﻟﺐ ، ﻋﻦ ﺣﻴﺎﻥ ﺑﻦ ﻋﺒﻴﺪ ﺍﻟﻠﻪ ، ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻣﺠﺎﺯ ، ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ، ﻗﺎﻝ :
ﻛﺎﻧﺖ ﺭﺍﻳﺔ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺳﻮﺩﺍﺀ ﻭﻟﻮﺍﺀﻩ ﺃﺑﻴﺾ ، ﻣﻜﺘﻮﺏ ﻓﻴﻪ : ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﺤﻤﺪ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ
Satu hadits lg dikeluarkan Imam Ashbahani dlm kitab yg sama, bab dan sub bab yg sama, halaman yg sama, hanya beda nomor hadits dan jalur sanadnya, yaitu no.421, dg sanad :
ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺯﻧﺠﻮﻳﻪ ، ﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﺴﺮﻱ ، ﻧﺎ ﺍﺑﻦ ﻭﻫﺐ ، ﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺣﻤﻴﺪ ، ﻋﻦ ﺍﻟﺰﻫﺮﻱ ، ﻋﻦ ﺳﻌﻴﺪ ﺑﻦ ﺍﻟﻤﺴﻴﺐ ، ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ
Selanjutnya dlm Kitab Al- Anwar fi Syama-il an-Nabi al-Mukhtar, bab ke-72 Mengingati Royah dan Liwa nya Nabi saw., hal.590-591, No.894
ﻭﺣﺪﺛﻨﺎ ﺃﺑﻮ ﻃﺎﻫﺮ ، ﺃﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ، ﺃﻧﺎ ﺃﺑﻮ ﺍﻟﺸﻴﺦ ، ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺯﻧﺠﻮﻳﻪ ﺍﻟﻤﺨﺮﻣﻲ ، ﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﺴﺮﻱ ﺍﻟﻌﺴﻘﻼﻧﻲ ، ﻧﺎ ﻋﺒﺎﺱ ﺑﻦ ﻃﺎﻟﺐ ، ﻋﻦ ﺣﻴﺎﻥ ﺑﻦ ﻋﺒﻴﺪ ﺍﻟﻠﻪ ، ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻣﺠﻠﺰ ، ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻨﻬﻤﺎ ، ﻗﺎﻝ : ﻛﺎﻧﺖ ﺭﺍﻳﺔ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ، ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ، ﺳﻮﺩﺍﺀ ، ﻭﻟﻮﺍﺅﻩ ﺃﺑﻴﺾ ، ﻣﻜﺘﻮﺏ : ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ،
ﻣﺤﻤﺪ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ
Dan diterangkan dlm hadits selanjutnya di No.897, nama benderanya Nabi saw. itu "العقاب - Al 'Uqab"
Kemudian dlm Kitab Al-Kamil nya Ibnu 'Adi
Dari Abdullah b. Umar ra. :
ﺛﻨﺎ ﺛﻨﺎ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ ﺑﻦ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ﺑﻦ ﺣﻴﺎﻥ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩﻱ , ﻭﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺍﻟﻤﻤﺘﻨﻊ , ﻗﺎﻻ : ﺛﻨﺎ ﺃﺑﻮ ﻳﺤﻴﻰ ﺍﻟﻮﻗﺎﺭ , ﺣﺪﺛﻨﻲ ﺍﻟﻌﺒﺎﺱ ﺑﻦ ﻃﺎﻟﺐ ﺍﻷﺯﺩﻱ , ﻋﻦ ﺣﻴﺎﻥ ﺑﻦ ﻋﺒﻴﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺯﻫﻴﺮ ﺍﻟﻌﺪﻭﻱ , ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻣﺨﻠﺪ , ﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ , ﻗﺎﻝ : " ﻛﺎﻧﺖ ﺭﺍﻳﺔ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺳﻮﺩﺍﺀ , ﻣﻜﺘﻮﺑﺎ ﻓﻴﻬﺎ : ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﺤﻤﺪ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ
Lebih kurang ada 120-an kitab telah dituliskan dan dibahas ttg benderanya Nabi saw., termasuk 30-an kitab yg bendera tsb tertulis kalimat tauhid.
Ini yg sy temukan. Tapi bagi yg lebih teliti lagi, sy yakin akan ditemukan kitab2nya lebih banyak lagi.
Tahqiq yg disampaikan dlm bbrp tulisan yg menyudutkan bendera Nabi tsb bertuliskan kalimat tauhid tsb sy nilai gak adil karena hanya disampaikan sisi jarh nya saja.
Kemudian dikunci dg pesan "jangan lupa kaidah kalau ada jarh dan ta'dil, dahulukan jarh nya"
Ini sy kira termasuk pemaksaan pemahaman.
Pertanyaannya,, bagaimana kalo yg menyampaikan jarh itu org yg tergolong dhoif ? Atau org yg punya permusuhan ?
Baik utk meringkas diskusi ini, kt bahas langsung ttg ta'dilnya Hayyan b. Ubaidillah. Karena inti dari maqbul mardudnya hadits ini mengerucutnya pada rawi tsb.
Penilaian dari Imam Abu Ya'la, Hayyan b. Ubaidillah "Tsiqah".
Ini ditulis dlm Kitab Majma'uz-Zawaid, juz 5, hal.321
Jg ditulis dlm Kitab Tharh at-Tatsrib fi Syarh at-Taqrib, juz 7, hal.220
Selanjutnya kita buka Kitab al-Jarh wa al-Ta'dil karya Al Imam Al Hafizh Syaikhul-Islam Abi Hatim ar-Razi, Juz 3, hal.246, No.1093 :
"Shaduq"
Ada yg menulis dg menerangkannya dlm Jarh III : 246. "Shaduq" itu spt digolongkan dlm golongan "Jarh" dg memotong nama kitab aslinya. Padahal "Shaduq" itu termasuk "al-Ta'dil"
Istilah "Shaduq" itu sendiri menunjukkan bahwa perawi tsb jujur dan dpt dipercaya.
Dan kita sama ketahui bahwa Kitab al-Jarh wa al-Ta'dil karya Imam Ibnu Abi Hatim al-Razi itu adalah salah satu kitab utama sbg rujukan bagi para peneliti hadits di zamannya di abad ke 2-3 hijriyah hingga sekarang.
Kemudian selanjutnya penilaian dari Abu Bakar al-Bazar yg mengatakan bahwa Hayyan b. Ubaidillah "Masyhur dan Laisa bihi ba’sa"
Setelah kt ketahui pujian2 yg diistilahkan "al-ta'dil" dari para ulama ahli hadits kpd rowi Hayyan b. 'Ubaidillah,,
Maka kt ketahui hadits2 tsb termasuk hadits mudhtharib.
Sebagian ada yg menguatkan sebagian ada yg melemahkan.
Terus kalo ada yg bilang dlm masalah bendera dg tulisan kalimah tauhid ini semuanya "dhaif" ,,,
Jawabannya : yaaaa dhaif menurut siapa, hasan menurut siapa, shahih menurut siapa ?
Kalo ngotot pokoknya dhaif semua,,, berarti org ini gak mau ngerti ttg ikhtilaf nya ulama.
Dan di banyak keterangan, ditulis
" وهو ظاهر فى التغاير "
Kemudian ditambahkan keterangan
" لعل التفرقة بينهما عرفية "
Pada kitab :
- Fath al-Bari, Juz 7, hal.477
- Al-Muwahib al-Laduniyah bi al-Minah al-Muhammadiyah, Juz 1, hal.201
Dan kitab2 lainnya.
Ini menunjukkan bahwa sudah dimaklumi semenjak dahulu pertentangan di kalangan ulama tentang hadits tsb.
Sampai di sini sy tdk akan mengambil istinbath utk membenarkan atau menyalahkan pendapat dari sebagian kalangan ulama dari sebagiannya lagi.
Karena sy hanya seorng muqallid yg cuma mengikuti pendapat para ulama panutan sy.
Baik di sini akan sy sampaikan kitab2 para ulama yg menerangkan royah dan liwa' Nabi saw. itu tertulis kalimah
ﻻ اله اﻻ الله محمد رسول الله
- Kitab Inaratud-Duja fi Maghzi Khair al-Waraya atau lebih populer dg sebutan Kitab Al-Maghzi al-Waqidi, Bab Ar-Rayah wa al-Liwa', Juz 1, hal.543.
Kitab ini termasuk kitab sejarah Islam terawal dan terpopuler.
- Kitab Subul al-Huda wa al-Rasyad fi Sirah Khairil 'Ibad, Bab Ke-6 tentang Liwa' , Rayah, dan Kemahnya Nabi saw. Juz 7, hal.371
- Kitab Taisir al-'Aziz al-Hamid fi Syarh Kitab al-Tauhid, Bab Seruan kepada Syahadat Laa ilaha illallah, Juz 1, hal.103
- Kitab Syarh Kitab al-Tauhid, karya Syaikh Abdullah b. Muhammad al-Ghunaiman, Bab Mengambil Bendera ketika Perang, Juz 25, hal.14.
- Kitab Fathul-Majid Syarh Kitab al-Tauhid, Bab Dakwah kepada Syahadat Laa ilaha illallah, Juz 1, hal.89
- Kitab Bada-i' al-'Umur fi Waqaa-i’ ad-Duhur, karya Imam Suyuthi, lembar ke-286
Dan masih banyak lagi kitab2nya, tetapi sy kira sdh cukup sebagai rujukan bagi yg mempunyai keyakinan bahwa bendera Nabi saw. itu tertulis kalimah
ﻻ اله اﻻ الله محمد رسول الله
Sebagaimana keyakinannya ulama2 terdahulu,, maka seperti jg keyakinannya ulama2 kita zaman ini :
Ust. Abd. Somad, Ust. Adi Hidayat, Ust. Aa Gym, Habib Rizieq Shihab, dan yg lain2nya.
Dan bukankah ada keterangan bahwa wali yg dulu dakwah di nusantara ini, diutus oleh Sulthan Turki - Sulthan Muhammad (Mehmed) I dan II, membawa bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid,, yg masih tersimpan di museum kraton jogjakarta.
Dan bagaimana dg bendera merah putih bertuliskan Laa ilaha illallah yg dikibarkan para pejuang kemerdekaan pasukan Hizbullah dahulu ?
Ulama2 nusantara ketika itu pasti punya referensi ttg aqidah tsb.
Kalau keterangan itu semua bisa diterima,, maka bentuk khath sebagaimana yg dikritik Didin Sirojuddin AR. utk menuliskan kalimah
ﻻ اله اﻻ الله محمد رسول االه
pada kain bendera tsb menjadi tdk perlu dipersoalkan lagi.
Karena kalau ketika itu Nabi saw. biasa mengirimkan surat kpd raja2 utk berdakwah,,, maka bukanlah suatu yg mustahil utk menuliskannya di sebuah bendera.
Maka tdk berlebihan kalau kami berprasangka bahwa ada yg mengkaburkan aqidah ttg panji hitam Rasulullah.
Ini salah satu fitnah dikalangan ummat, yg nantinya mengarah pada penolakan Al-Mahdi sbg Khalifah akhir zaman.
Ada jg pemahaman bahwa panji hitam Al-Mahdi itu berupa kendaraan "Jet", bukan "Ar-Rayah"
Bahkan ada jg pemahaman bahwa Al-Mahdi itu hanyalah sifat2 kebaikan, bukanlah wujud zhahir.
Lengkap sudah rangkaian fitnah tsb yg saling kait mengait.
اللهم احفظنا من الفتن ما ظهر منها وما بطن
والله اعلم بالصواب
Selasa, 06 November 2018
PENTINGNYA ADAB
Kyai H. Uzairon Thoifur Abdillah berwashiat :
"Sholat di masjid itu penting.. tapi adab dalam masjid itu lebih penting.. Sholat itu penting.. namun adab dlm sholat itu lebih penting.. Membaca Alquran itu penting..
namun adab membaca Al quran itu lebih penting..
Karena amalan tanpa adab tidak akan ada keberkahannya.. Sebagaimana ada seseorang yang ingin memberikan hadiah yang besar kepada raja namun dengan pakaian yang tidak sopan, dgn tangan kiri.. tentu saja raja akan marah dan menolak hadiah tersebut karena hakikatnya raja tidak perlu pemberian.
Namun sebaliknya walaupun pemberiaan yang kecil namun dengan adab yang baik akan membuat seorang raja senang dan menerima pemberian tersebut walaupun hakikatnya raja tidak perlu dengan pemberian tersebut.
Adab adalah menganggungkan segala sesuatu yang berhubungan dengan agama.
Lahirnya para ulama tidak lepas karena orang tuanya memuliakan Adab.
Muhammad Al fatih, panglima besar penakluk konstantinopel (istanbul) tidak lepas karena orang tuanya sangat memuliakan adab. Dikisahkan orang tuanya tidak pernah duduk apabila dirumahnya ada alquran.. Dalam kitab ihya, Seseorang yang menghormati orang dunia lebih daripada orang akhirat maka anaknya tidak akan pernah jadi anak sholeh apalagi ulama
Raja Romawi mendapatkan keberkahan karena adab, Ketika dikirim surat oleh Baginda Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wa sallam dia menjaga surat dan menyimpannya maka Baginda Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wa sallam berkata bahwa kerajaan romawi (eropa) tidak akan runtuh sampai hari kiamat.
Sebaliknya Raja persia ketika dikirimi surat oleh Baginda Nabi Sallallahu 'Alaihi Wa sallam dia menyobek dan membuangnya maka Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wa sallam berkata kerajaan dia akan runtuh. Maka runtuhlah kerajaan persia.
Dengan adab amal kecil akan bernilai besar dan sebaliknya tanpa adab amal besar bisa tidak bernilai... Semoga kita bisa menjaga adab2 dalam setiap amal perbuatan kita.. Semoga hari2 kita diberkahi oleh Allah Swt dengan adab..
Aamiin."
"Sholat di masjid itu penting.. tapi adab dalam masjid itu lebih penting.. Sholat itu penting.. namun adab dlm sholat itu lebih penting.. Membaca Alquran itu penting..
namun adab membaca Al quran itu lebih penting..
Karena amalan tanpa adab tidak akan ada keberkahannya.. Sebagaimana ada seseorang yang ingin memberikan hadiah yang besar kepada raja namun dengan pakaian yang tidak sopan, dgn tangan kiri.. tentu saja raja akan marah dan menolak hadiah tersebut karena hakikatnya raja tidak perlu pemberian.
Namun sebaliknya walaupun pemberiaan yang kecil namun dengan adab yang baik akan membuat seorang raja senang dan menerima pemberian tersebut walaupun hakikatnya raja tidak perlu dengan pemberian tersebut.
Adab adalah menganggungkan segala sesuatu yang berhubungan dengan agama.
Lahirnya para ulama tidak lepas karena orang tuanya memuliakan Adab.
Muhammad Al fatih, panglima besar penakluk konstantinopel (istanbul) tidak lepas karena orang tuanya sangat memuliakan adab. Dikisahkan orang tuanya tidak pernah duduk apabila dirumahnya ada alquran.. Dalam kitab ihya, Seseorang yang menghormati orang dunia lebih daripada orang akhirat maka anaknya tidak akan pernah jadi anak sholeh apalagi ulama
Raja Romawi mendapatkan keberkahan karena adab, Ketika dikirim surat oleh Baginda Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wa sallam dia menjaga surat dan menyimpannya maka Baginda Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wa sallam berkata bahwa kerajaan romawi (eropa) tidak akan runtuh sampai hari kiamat.
Sebaliknya Raja persia ketika dikirimi surat oleh Baginda Nabi Sallallahu 'Alaihi Wa sallam dia menyobek dan membuangnya maka Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wa sallam berkata kerajaan dia akan runtuh. Maka runtuhlah kerajaan persia.
Dengan adab amal kecil akan bernilai besar dan sebaliknya tanpa adab amal besar bisa tidak bernilai... Semoga kita bisa menjaga adab2 dalam setiap amal perbuatan kita.. Semoga hari2 kita diberkahi oleh Allah Swt dengan adab..
Aamiin."
Senin, 22 Oktober 2018
KEUTAMAAN SHOLAT SHUBUH ☆ 2
Sungguh, orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan (di dunia) dan akan berada dalam neraka (di akhirat
Pada hari mereka diseret ke neraka pada wajahnya. (Dikatakan kepada mereka), “Rasakanlah sentuhan api neraka.”
Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran
Dan perintah Kami hanyalah (dengan) satu perkataan seperti kejapan mata.
Dan sungguh, telah Kami binasakan orang yang serupa dengan kamu (kekafirannya). Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?
Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan.
Dan segala (sesuatu) yang kecil maupun yang besar (semuanya) tertulis.
Sungguh, orang-orang yang bertakwa berada di taman-taman dan sungai-sungai
di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Mahakuasa
Allah bersumpah dalam Al Fajr :
والفجر
“Demi fajar (waktu Subuh)”.
Kemudian dalam Al Falaq Allah mengingatkan: “Katakanlah! aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai waktu subuh”.
Ada apa dibalik waktu Subuh?
Mengapa Allah bersumpah demi waktu Subuh?
Mengapa harus berlindung kepada yang menguasai waktu Subuh? Apakah waktu Subuh sangat berbahaya?
Ya, ternyata waktu Subuh benar-benar sangat berbahaya!
Waktu Subuh lebih kejam dari sekawanan perampok bersenjata api.
Waktu Subuh lebih menyengsarakan dari derita kemiskinan.
Waktu Subuh lebih berbahaya dari kobaran api yang disiram bensin…
Jika ada sekawanan perampok menyatroni rumah anda, dan mengambil paksa semua barang anda. Emas dan semua perhiasan di gondolnya. Uang cash puluhan juta ditilepnya. Laptop, yang berisi data-data penting anda juga diembatnya. Eh, mobil yang belum lunas juga digasaknya. Bagaimana rasa pedih hati anda menerima kenyataan ini?
Ketahuilah, bahwa waktu Subuh lebih kejam dari perampok itu. Karena jika anda tertindas sang waktu Subuh sampai melalaikan shalat fajar, maka anda akan menderita kerugian lebih besar dari sekedar laptop dan mobil. Anda kehilangan dunia dan segala isinya. Ingat,
“Dua rakaat fajar lebih baik dari dunia dan segala isinya” (HR Muslim).
Waktu Subuh juga lebih menyengsarakan dari sekedar kemiskinan dunia. Karena bagi orang-orang yang tergilas waktu Subuh hingga mengabaikan shalat Subuh berjamaah di masjid, maka hakikatnya, merekalah orang-orang miskin sejati
Barangsiapa yang shalat Subuh berjamaah, maka ia bagaikan shalat semalam suntuk” (HR Muslim). Shalat semalam suntuk adalah shalat yang dikerjakan mulai dari tenggelamnya matahari sampai terbit fajar.
Betapa agung fadilah shalat Subuh berjamaah ini. Betapa malangnya orang yang tergilas waktu Subuh, orang-orang yang mengabaikan shalat subuh berjamaah di masjid.
Apa lagi sholat subuhnya di depan ka'bah di makkah
Subhanalloh
Waktu Subuh juga lebih berbahaya dari kobaran api yang disiram bensin.
Mengapa demikian? Tahukah anda bahwa nabi menyetarakan dengan orang munafik bagi yang tidak mampu melaksanakan shalat Subuh berjamaah?
“Sesungguhnya tiada yang dirasa berat oleh seorang munafik, kecuali melaksanakan shalat Isya dan shalat Subuh.
Sekiranya mereka tahu akan keagungan pahalanya, niscaya mereka bakal mendatanginya (ke masjid, shalat berjamaah) sekalipun harus berjalan merangkak-rangkak” (HR Bukhari Muslim).
Orang yang tergerus waktu Subuh hingga tak mampu mendatangi masjid untuk shalat berjamaah adalah orang yang dalam keadaan bahaya, karena disetarakan dengan orang munafik. Padahal, ancaman bagi orang munafik adalah neraka Jahannam.
“Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam” (An Nisa:140).
Bukankah Jahannam lebih berbahaya dari sekedar kobaran api yang disiram bensin?
Nah, agar tidak merasakan tindasan waktu Subuh yang lebih kejam dari perampokan, agar tidak terkena gilasan waktu Subuh yang lebih menyengsarakan dari derita kemiskinan, dan agar tidak tertelan gerusan waktu Subuh yang lebih berbahaya dari kobaran api, maka: “Katakanlah!
قل أعوذ برب الفلق
aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai waktu subuh” (Al Falaq:1). Yaitu dengan memanfaatkan waktu Subuh sebaik-baiknya. Lakukan shalat sunnah (shalat fajar) dan shalat berjamaah di masjid.
Pada hari mereka diseret ke neraka pada wajahnya. (Dikatakan kepada mereka), “Rasakanlah sentuhan api neraka.”
Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran
Dan perintah Kami hanyalah (dengan) satu perkataan seperti kejapan mata.
Dan sungguh, telah Kami binasakan orang yang serupa dengan kamu (kekafirannya). Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?
Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan.
Dan segala (sesuatu) yang kecil maupun yang besar (semuanya) tertulis.
Sungguh, orang-orang yang bertakwa berada di taman-taman dan sungai-sungai
di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Mahakuasa
Allah bersumpah dalam Al Fajr :
والفجر
“Demi fajar (waktu Subuh)”.
Kemudian dalam Al Falaq Allah mengingatkan: “Katakanlah! aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai waktu subuh”.
Ada apa dibalik waktu Subuh?
Mengapa Allah bersumpah demi waktu Subuh?
Mengapa harus berlindung kepada yang menguasai waktu Subuh? Apakah waktu Subuh sangat berbahaya?
Ya, ternyata waktu Subuh benar-benar sangat berbahaya!
Waktu Subuh lebih kejam dari sekawanan perampok bersenjata api.
Waktu Subuh lebih menyengsarakan dari derita kemiskinan.
Waktu Subuh lebih berbahaya dari kobaran api yang disiram bensin…
Jika ada sekawanan perampok menyatroni rumah anda, dan mengambil paksa semua barang anda. Emas dan semua perhiasan di gondolnya. Uang cash puluhan juta ditilepnya. Laptop, yang berisi data-data penting anda juga diembatnya. Eh, mobil yang belum lunas juga digasaknya. Bagaimana rasa pedih hati anda menerima kenyataan ini?
Ketahuilah, bahwa waktu Subuh lebih kejam dari perampok itu. Karena jika anda tertindas sang waktu Subuh sampai melalaikan shalat fajar, maka anda akan menderita kerugian lebih besar dari sekedar laptop dan mobil. Anda kehilangan dunia dan segala isinya. Ingat,
“Dua rakaat fajar lebih baik dari dunia dan segala isinya” (HR Muslim).
Waktu Subuh juga lebih menyengsarakan dari sekedar kemiskinan dunia. Karena bagi orang-orang yang tergilas waktu Subuh hingga mengabaikan shalat Subuh berjamaah di masjid, maka hakikatnya, merekalah orang-orang miskin sejati
Barangsiapa yang shalat Subuh berjamaah, maka ia bagaikan shalat semalam suntuk” (HR Muslim). Shalat semalam suntuk adalah shalat yang dikerjakan mulai dari tenggelamnya matahari sampai terbit fajar.
Betapa agung fadilah shalat Subuh berjamaah ini. Betapa malangnya orang yang tergilas waktu Subuh, orang-orang yang mengabaikan shalat subuh berjamaah di masjid.
Apa lagi sholat subuhnya di depan ka'bah di makkah
Subhanalloh
Waktu Subuh juga lebih berbahaya dari kobaran api yang disiram bensin.
Mengapa demikian? Tahukah anda bahwa nabi menyetarakan dengan orang munafik bagi yang tidak mampu melaksanakan shalat Subuh berjamaah?
“Sesungguhnya tiada yang dirasa berat oleh seorang munafik, kecuali melaksanakan shalat Isya dan shalat Subuh.
Sekiranya mereka tahu akan keagungan pahalanya, niscaya mereka bakal mendatanginya (ke masjid, shalat berjamaah) sekalipun harus berjalan merangkak-rangkak” (HR Bukhari Muslim).
Orang yang tergerus waktu Subuh hingga tak mampu mendatangi masjid untuk shalat berjamaah adalah orang yang dalam keadaan bahaya, karena disetarakan dengan orang munafik. Padahal, ancaman bagi orang munafik adalah neraka Jahannam.
“Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam” (An Nisa:140).
Bukankah Jahannam lebih berbahaya dari sekedar kobaran api yang disiram bensin?
Nah, agar tidak merasakan tindasan waktu Subuh yang lebih kejam dari perampokan, agar tidak terkena gilasan waktu Subuh yang lebih menyengsarakan dari derita kemiskinan, dan agar tidak tertelan gerusan waktu Subuh yang lebih berbahaya dari kobaran api, maka: “Katakanlah!
قل أعوذ برب الفلق
aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai waktu subuh” (Al Falaq:1). Yaitu dengan memanfaatkan waktu Subuh sebaik-baiknya. Lakukan shalat sunnah (shalat fajar) dan shalat berjamaah di masjid.
Sabtu, 20 Oktober 2018
DUNIA SEMENTARA AKHIRAT SELAMA-LAMANYA ☆ 3
Manusia yang diciptakan seorang diri haruslah waspada bahwa ia juga akan mati seorang diri. Namun selama hidupnya, ia hampir selalu hidup untuk memenuhi segala keinginannya. Tujuan utamanya dalam hidup adalah untuk memenuhi hawa nafsunya. Namun, tidak seorang pun dapat membawa harta bendanya ke dalam kuburan. Jenazah dikuburkan hanya dengan dibungkus kain kafan yang dibuat dari bahan yang murah. Tubuh datang ke dunia ini seorang diri dan pergi darinya pun dengan cara yang sama. Modal yang dapat di bawa seseorang ketika mati hanyalah amal-amalnya saja.
Para ulama berkata, manusia itu terbagi menjadi empat bagian, yaitu:
1. Orang yang tenggelam dalam kenikmatan dunia dan tak pernah mengingat maut, karena maut dapat menyebabkan orang meninggalkan kesenangan dan kelezatan. Kalaupun mengingat maut, ia hanya mengingatnya dengan terpaksa.
2. Orang yang kembali kepada Allah Ta'ala hanya dalam tahap permulaan. Ia takut kepada Allah ketika mengingat mati, dan ia juga tetap dalam tobat. Ia takut mati bukan karena meninggalkan dunia dan kelezatannya, tetapi karena belum sempurna tobatnya. Ia tidak ingin mati terlebih dahulu agar dapat memperbaiki amalannya.
Maka, orang semacam ini kebenciannya terhadap mati dapat dimaafkan. Ia tidak termasuk di dalam golongan manusia sebagaimana yang disebutkan dalam hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang artinya, "Barangsiapa benci berjumpa dengan Allah, maka Allah benci berjumpa dengannya."
Sebenarnya, orang ini tidak benci berjumpa dengan Allah, tetapi ia takut terhadap hal yang harus dihadapi sesudahnya. Orang ini seperti gadis yang bersiap-siap untuk menjumpai kekasihnya, agar kekasihnya itu senang kepadanya. Orang ini hanya sibuk dengan apa yang mesti dipersiapkan, bukan sibuk dengan yang lain. Kalau tidak, maka keadannya sama dengan orang yang pertama, yakni tenggelam dalam kesenangan dunia.
3. Seorang arif yang telah sempurna tobatnya. Orang ini menyukai mati, bahkan menginginkan kematian, karena bagi seorang kekasih tidak ada waktu yang lebih indah selain berjumpa dengan orang yang dikasihinya. Dan kematian baginya merupakan saat perjumpaan yang dirindukannya. Orang yang sedang dimabuk rindu tentu tidak akan pernah melupakan waktu kencannya.
Mereka itu ingin segera mati, karena disitu akan terbukti mana yang setia dan mana yang durhaka, serta apa yang akan didapatkannya. Dalam suatu riwayat disebutkan, ketika maut datang hendak menjemput Hudzaifah, ia berkata, "Kekasih datang pada saat kemiskinan, tidak akan beruntung orang yang menyesal. Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan dari fitnah."
4. Orang yang berada pada tingkatan yang tertinggi. Orang ini dalam keadaan rela, yakni segala seuatu yang dimilikinya dipersembahkan untuk Allah saja. Ia tidak mempunyai keinginan untuk mati ataupun hidup. Inilah puncak kerinduan, maqam rida dan pasrah.
Setiap saat orang ini selalu mengingat mati. Bahkan, bagi orang yang sibuk dalam keduniaan hendaknya mengingat mati, karena dengan mengingat mati akan menyebabkan seseorang mampu meninggalkan kelezatan dunia dan menjauhinya.
Para ulama berkata, manusia itu terbagi menjadi empat bagian, yaitu:
1. Orang yang tenggelam dalam kenikmatan dunia dan tak pernah mengingat maut, karena maut dapat menyebabkan orang meninggalkan kesenangan dan kelezatan. Kalaupun mengingat maut, ia hanya mengingatnya dengan terpaksa.
2. Orang yang kembali kepada Allah Ta'ala hanya dalam tahap permulaan. Ia takut kepada Allah ketika mengingat mati, dan ia juga tetap dalam tobat. Ia takut mati bukan karena meninggalkan dunia dan kelezatannya, tetapi karena belum sempurna tobatnya. Ia tidak ingin mati terlebih dahulu agar dapat memperbaiki amalannya.
Maka, orang semacam ini kebenciannya terhadap mati dapat dimaafkan. Ia tidak termasuk di dalam golongan manusia sebagaimana yang disebutkan dalam hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang artinya, "Barangsiapa benci berjumpa dengan Allah, maka Allah benci berjumpa dengannya."
Sebenarnya, orang ini tidak benci berjumpa dengan Allah, tetapi ia takut terhadap hal yang harus dihadapi sesudahnya. Orang ini seperti gadis yang bersiap-siap untuk menjumpai kekasihnya, agar kekasihnya itu senang kepadanya. Orang ini hanya sibuk dengan apa yang mesti dipersiapkan, bukan sibuk dengan yang lain. Kalau tidak, maka keadannya sama dengan orang yang pertama, yakni tenggelam dalam kesenangan dunia.
3. Seorang arif yang telah sempurna tobatnya. Orang ini menyukai mati, bahkan menginginkan kematian, karena bagi seorang kekasih tidak ada waktu yang lebih indah selain berjumpa dengan orang yang dikasihinya. Dan kematian baginya merupakan saat perjumpaan yang dirindukannya. Orang yang sedang dimabuk rindu tentu tidak akan pernah melupakan waktu kencannya.
Mereka itu ingin segera mati, karena disitu akan terbukti mana yang setia dan mana yang durhaka, serta apa yang akan didapatkannya. Dalam suatu riwayat disebutkan, ketika maut datang hendak menjemput Hudzaifah, ia berkata, "Kekasih datang pada saat kemiskinan, tidak akan beruntung orang yang menyesal. Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan dari fitnah."
4. Orang yang berada pada tingkatan yang tertinggi. Orang ini dalam keadaan rela, yakni segala seuatu yang dimilikinya dipersembahkan untuk Allah saja. Ia tidak mempunyai keinginan untuk mati ataupun hidup. Inilah puncak kerinduan, maqam rida dan pasrah.
Setiap saat orang ini selalu mengingat mati. Bahkan, bagi orang yang sibuk dalam keduniaan hendaknya mengingat mati, karena dengan mengingat mati akan menyebabkan seseorang mampu meninggalkan kelezatan dunia dan menjauhinya.
Jumat, 19 Oktober 2018
KEUTAMAAN SHOLAT TAHAJUD
وكان صلة بن أشيم رحمه الله يصلي الليل كله فإذا كان في السحر قال: إلهي ليس مثلي يطلب الجنة ولكن أجرني برحمتك من النار
Shilah bin Asy-yam melaksanakan qiyamullail sepanjang malam. Pada waktu sahur ia berkata: “Wahai Tuhanku, aku tak layak meminta surga kepada-Mu. Akan tetapi aku memohon selamatkanlah aku dari neraka-Mu dengan rahmat-Mu”
وقال الربيع: بت في منزل الشافعي رضي الله عنه ليالي كثيرة فلم يكن ينام من الليل إلا يسيراً.
Ar-Rabi’ berkata: “Saya sering tidur di rumah Imam Syafi’i, ia tidur hanya sebentar saja”
Kita banyak tidur kalo imam syafii sedikit tidur
Kalo kita sedikit sediktit tidur ayoooo bangun
وقال أبو الجويرية. لقد صحبت أبا حنيفة رضي الله عنه ستة أشهر فما فيها ليلة وضع جنبه على الأرض.
Abu al-Juwairiyah berkata: “Saya berteman dengan Imam Hanafi selama enam bulan, tidak pernah satu malam pun ia berbaring di lantai”
إن وهب بن منبه اليماني ما وضع جنبه إلى الأرض ثلاثين سنة وكان يقول: لأن أرى في بيتي شيطاناً أحب إلي من أن أرى في بيتي وسادة لأنها تدعو إلى النوم
Imam Wahab bin Munabbih al-Yamani berkata: “Lebih baik aku melihat setan di rumahku daripada melihat bantal, karena bantal itu mengajak tidur”
Orang yang tahajjud keutamaannya :
Diberi Tempat Yang Terpuji.
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودا
“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”. (Qs. Al-Isra’ [17]: 79).
Mendapat Naungan Allah Swt.
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ …وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah Swt pada hari tidak ada naungan kecuali naungan Allah Swt … seseorang yang berzikir dalam keadaan sepi hingga menetes air matanya. (Hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim).
Mendapatkan Syafaat (Pertolongan).
الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَىْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. قَالَ فَيُشَفَّعَانِ
Puasa dan al-Qur’an memberi syafaat pada seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata: “Wahai Tuhanku, aku mencegahnya dari makanan dan syahwat di waktu siang, beri aku syafaat untuknya”. Al-Qur’an berkata: “Aku mencegahnya untuk tidur di waktu malam, beri aku syafaatnya untuknya”. Puasa dan al-Qur’an memberikan syafaat untuknya. (Hadits riwayat Ahmad).
Mata Tidak Tersentuh Api Neraka.
عَيْنَانِ لاَ تَمَسُّهُمَا النَّارُ عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ“Dua mata tidak disentuh api neraka; mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang berjaga pada jihad fi sabilillah”. (Hadits riwayat Imam at-Tirmidzi).
Mendapat Cinta Allah Swt.
وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ
“Tidaklah Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepadaku dengan amalan-amalan sunnah, hingga Aku mencintainya”. (Hadits riwayat al-Bukhari). Diantara amalan-amalan sunnah yang utama adalah Qiyamullail.
Permohonan Dikabulkan.
فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ
Jika Aku telah mencintainya, Aku akan menjadi pendengarannya dengan itu ia mendengar. Aku akan menjadi penghlihatannya dengan itu ia melihat. Aku akan menjadi tangannya dengan itu ia menggenggam. Aku akan menjadi kakinya dengan itu ia berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, maka Aku pasti memberinya. Jika ia meminta perlindungan, maka pasti Aku melindunginya”. (Hadits riwayat al-Bukhari).
Waktu Tenang Untuk Muhasabah.
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِى الدُّنْيَا.
“Muhasabahlah diri kamu sebelum kamu dihisab, timbang-timbanglah diri kamu pada hari ditampakkannya amal. Hisab akan ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab dirinya di dunia”. (Hadits riwayat at-Tirmidzi).
Mendapat Sifat Orang Bertakwa.
وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ“Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar”. (Qs. Adz-Dzariyat [51]: 18).
Waktu Terkabulnya Doa.
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ
“Rahmat Allah Swt turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir, Allah berfirman: “Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku perkenankan untuknya. Siapa yang memohon kepada-Ku, maka akan Aku beri. Siapa yang memohon ampun, maka Aku ampuni”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).”.
عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – أَنَّ نَبِىَّ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ فَقَالَتْ عَائِشَةُ لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ « أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا »
Dari Aisyah, Rasulullah Saw shalat malam hingga bengkak kedua kakinya. Aisyah bertanya: “Mengapa engkau melakukan ini wahai Rasulullah, padahal Allah telah mengampuni dosamu yang lalu dan yang akan datang?”. Rasulullah Saw menjawab: “Aku ingin menjadi hamba Allah yang bersyukur”. (HR. Al-Bukhari)
وكان ابن معسود رضي الله عنه إذا هدأت العيون قام فيسمع له دوي كدوي النحل حتى يصبح Ketika mata manusia telah lelap, Ibnu Mas’ud bangun, terdengar suara dengungan seperti suara dengungan tawon, hingga shubuh tiba
Saking suara munajat beliau mengis kepada alloh
.إن سفيان الثوري رحمه الله شبع ليلة فقال: إن الحمار إذا زيد في علفه زيد في عمله فقام تلك الليلة حتى أصبح
Imam Sufyan ats-Tsauri makan sampai kenyang pada suatu malam, lalu ia berkata: “Jika seekor keledai ditambah makanannya, maka ditambah juga bebannya”. Maka ia qiyamullail malam itu sampai shubuh.
Perlu kita meningkatkan amal kita tengok orang sholeh sebelum kita
الصالحين من سفره فمهد له فراش فنام عليه حتى فاته ورده فحلف ألا ينام بعدها على فراش أبداً.
Ada seorang orang yang shaleh tiba dari perjalanan jauh, lalu ia diberi kasur, maka ia pun tertidur pulas hingga ketinggalan qiyamullail. Maka ia bersumpah tidak akan tidur di atas kasur selamanya.
وكان عبد العزيز بن رواد إذا جن عليه الليل يأتي فراشه فيمد يده عليه ويقول: إنك للين ووالله إن في الجنة لألين منك ولا يزال يصلي الليل كله
Abdul Aziz bin Rawad, jika malam tiba, ia datang ke kasurnya sambil mengulurkan tangannya: “Wahai kasur, engkau empuk, demi Allah di dalam surga ada yang lebih empuk dari mu”. Ia pun shalat sepanjang malam.
الحسن: إن الرجل ليذنب الذنب فيحرم به قيام الليل.
Imam al-Hasan berkata: “Seseorang melakukan perbuatan dosa, maka ia pun tidak diperkenankan mendapat qiyamullail”.
Jadi kalo kita ngak bisa tahajjud itu sebabnya karna di hari iti ada dosa yang kaliat perbuat sehingga terhalang dari menghadap kepada alloh di malam hari
Malam hari itu malam munajat malam tenang malam istighfar malam doa malam malam yang penuh anugrah
Makanya orang sholeh zaman dulu faham urusan ini
Imam achmad bilang saya heran kepada pencari akhirat tapi ia tidur nyenyak di malam hari dia tidak tahajjud
Setan telah kencingi telinga orang yang dia tidak bangun dari tidurnya untuk sholat
Shilah bin Asy-yam melaksanakan qiyamullail sepanjang malam. Pada waktu sahur ia berkata: “Wahai Tuhanku, aku tak layak meminta surga kepada-Mu. Akan tetapi aku memohon selamatkanlah aku dari neraka-Mu dengan rahmat-Mu”
وقال الربيع: بت في منزل الشافعي رضي الله عنه ليالي كثيرة فلم يكن ينام من الليل إلا يسيراً.
Ar-Rabi’ berkata: “Saya sering tidur di rumah Imam Syafi’i, ia tidur hanya sebentar saja”
Kita banyak tidur kalo imam syafii sedikit tidur
Kalo kita sedikit sediktit tidur ayoooo bangun
وقال أبو الجويرية. لقد صحبت أبا حنيفة رضي الله عنه ستة أشهر فما فيها ليلة وضع جنبه على الأرض.
Abu al-Juwairiyah berkata: “Saya berteman dengan Imam Hanafi selama enam bulan, tidak pernah satu malam pun ia berbaring di lantai”
إن وهب بن منبه اليماني ما وضع جنبه إلى الأرض ثلاثين سنة وكان يقول: لأن أرى في بيتي شيطاناً أحب إلي من أن أرى في بيتي وسادة لأنها تدعو إلى النوم
Imam Wahab bin Munabbih al-Yamani berkata: “Lebih baik aku melihat setan di rumahku daripada melihat bantal, karena bantal itu mengajak tidur”
Orang yang tahajjud keutamaannya :
Diberi Tempat Yang Terpuji.
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودا
“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”. (Qs. Al-Isra’ [17]: 79).
Mendapat Naungan Allah Swt.
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ …وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah Swt pada hari tidak ada naungan kecuali naungan Allah Swt … seseorang yang berzikir dalam keadaan sepi hingga menetes air matanya. (Hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim).
Mendapatkan Syafaat (Pertolongan).
الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَىْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. قَالَ فَيُشَفَّعَانِ
Puasa dan al-Qur’an memberi syafaat pada seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata: “Wahai Tuhanku, aku mencegahnya dari makanan dan syahwat di waktu siang, beri aku syafaat untuknya”. Al-Qur’an berkata: “Aku mencegahnya untuk tidur di waktu malam, beri aku syafaatnya untuknya”. Puasa dan al-Qur’an memberikan syafaat untuknya. (Hadits riwayat Ahmad).
Mata Tidak Tersentuh Api Neraka.
عَيْنَانِ لاَ تَمَسُّهُمَا النَّارُ عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ“Dua mata tidak disentuh api neraka; mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang berjaga pada jihad fi sabilillah”. (Hadits riwayat Imam at-Tirmidzi).
Mendapat Cinta Allah Swt.
وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ
“Tidaklah Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepadaku dengan amalan-amalan sunnah, hingga Aku mencintainya”. (Hadits riwayat al-Bukhari). Diantara amalan-amalan sunnah yang utama adalah Qiyamullail.
Permohonan Dikabulkan.
فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ
Jika Aku telah mencintainya, Aku akan menjadi pendengarannya dengan itu ia mendengar. Aku akan menjadi penghlihatannya dengan itu ia melihat. Aku akan menjadi tangannya dengan itu ia menggenggam. Aku akan menjadi kakinya dengan itu ia berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, maka Aku pasti memberinya. Jika ia meminta perlindungan, maka pasti Aku melindunginya”. (Hadits riwayat al-Bukhari).
Waktu Tenang Untuk Muhasabah.
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِى الدُّنْيَا.
“Muhasabahlah diri kamu sebelum kamu dihisab, timbang-timbanglah diri kamu pada hari ditampakkannya amal. Hisab akan ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab dirinya di dunia”. (Hadits riwayat at-Tirmidzi).
Mendapat Sifat Orang Bertakwa.
وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ“Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar”. (Qs. Adz-Dzariyat [51]: 18).
Waktu Terkabulnya Doa.
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ
“Rahmat Allah Swt turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir, Allah berfirman: “Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku perkenankan untuknya. Siapa yang memohon kepada-Ku, maka akan Aku beri. Siapa yang memohon ampun, maka Aku ampuni”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).”.
عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – أَنَّ نَبِىَّ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ فَقَالَتْ عَائِشَةُ لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ « أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا »
Dari Aisyah, Rasulullah Saw shalat malam hingga bengkak kedua kakinya. Aisyah bertanya: “Mengapa engkau melakukan ini wahai Rasulullah, padahal Allah telah mengampuni dosamu yang lalu dan yang akan datang?”. Rasulullah Saw menjawab: “Aku ingin menjadi hamba Allah yang bersyukur”. (HR. Al-Bukhari)
وكان ابن معسود رضي الله عنه إذا هدأت العيون قام فيسمع له دوي كدوي النحل حتى يصبح Ketika mata manusia telah lelap, Ibnu Mas’ud bangun, terdengar suara dengungan seperti suara dengungan tawon, hingga shubuh tiba
Saking suara munajat beliau mengis kepada alloh
.إن سفيان الثوري رحمه الله شبع ليلة فقال: إن الحمار إذا زيد في علفه زيد في عمله فقام تلك الليلة حتى أصبح
Imam Sufyan ats-Tsauri makan sampai kenyang pada suatu malam, lalu ia berkata: “Jika seekor keledai ditambah makanannya, maka ditambah juga bebannya”. Maka ia qiyamullail malam itu sampai shubuh.
Perlu kita meningkatkan amal kita tengok orang sholeh sebelum kita
الصالحين من سفره فمهد له فراش فنام عليه حتى فاته ورده فحلف ألا ينام بعدها على فراش أبداً.
Ada seorang orang yang shaleh tiba dari perjalanan jauh, lalu ia diberi kasur, maka ia pun tertidur pulas hingga ketinggalan qiyamullail. Maka ia bersumpah tidak akan tidur di atas kasur selamanya.
وكان عبد العزيز بن رواد إذا جن عليه الليل يأتي فراشه فيمد يده عليه ويقول: إنك للين ووالله إن في الجنة لألين منك ولا يزال يصلي الليل كله
Abdul Aziz bin Rawad, jika malam tiba, ia datang ke kasurnya sambil mengulurkan tangannya: “Wahai kasur, engkau empuk, demi Allah di dalam surga ada yang lebih empuk dari mu”. Ia pun shalat sepanjang malam.
الحسن: إن الرجل ليذنب الذنب فيحرم به قيام الليل.
Imam al-Hasan berkata: “Seseorang melakukan perbuatan dosa, maka ia pun tidak diperkenankan mendapat qiyamullail”.
Jadi kalo kita ngak bisa tahajjud itu sebabnya karna di hari iti ada dosa yang kaliat perbuat sehingga terhalang dari menghadap kepada alloh di malam hari
Malam hari itu malam munajat malam tenang malam istighfar malam doa malam malam yang penuh anugrah
Makanya orang sholeh zaman dulu faham urusan ini
Imam achmad bilang saya heran kepada pencari akhirat tapi ia tidur nyenyak di malam hari dia tidak tahajjud
Setan telah kencingi telinga orang yang dia tidak bangun dari tidurnya untuk sholat
Kamis, 18 Oktober 2018
HIJRAH
Nasehat Syaikhuna alm. KH.Uzairon TA
(Pengasuh Ponpes Alfatah Temboro)
Senantiasa kita mengingati dan menyadari, bahwa kita ini dalam satu perjalanan yang sangat jauh dan sangat panjang, perjalanan menuju akhirat, tambah hari tambah dekat kita kepada akhirat, oleh karena itu tambah hari, tambah hari, semestinya tambah kita mengingati akhirat, tambah menyiapkan diri kita untuk kehidupan diakhirat, menghabiskan fikir kita tenaga kita dan seluruh apa yang Alloh berikan kepada kita untuk membangun akhirat kita, tambah hari, tambah hari, tambah dekat perpisahan kita dengan dunia, maka semestinya tambah hari tambah berkurang kecintaan kita dan kesibukan kita untuk dunia ini.
Sebentar lagi kita akan berjumpa dengan Alloh, menghadap kepada Alloh, kemudian Alloh akan bertanya kepada kita mengenai amal-amal kita, maka semestinya orang yang beriman tambah hari tambah mempersiapkan diri untuk pertemuan yang besar ini, pertemuan dengan Alloh SWT
Orang kafir, karena mereka tidak kenal dengan Alloh, tidak kenal dengan akhirat, siang dan malam yang difikirkan adalah hartanya, hartanya dan hartanya. Orang beriman, yang sudah kenal kepada Alloh, sudah kenal dengan kehidupan akhirat, yang dia pikirkan siang dan malam adalah amalnya, amalnya dan amalnya.
Tanpa terasa tiba-tiba sudah tahun baru hijriyah. Sayyidina Umar Ra yang telah memulai tahun penanggalan islam dengan hijriyah ini.
Banyak orang usul pada waktu itu dalam musyawaroh, ini umat islam mau memulai penanggalan dari mana, maka sebagian usul, hendaknya penanggalan islam ini dimulai dari kelahiran Nabi SAW, karena tidak ada nikmat yang lebih besar yang telah Alloh berikan pada umat ini, melebihi diutusnya baginda Muhammad SAW kepada umat ini. Sebagian ada yang mengusulkan bahwa tahun baru islam ini hendaknya dimulai dari kenabian Baginda Nabi SAW ketika beliau menerima wahyu yang pertama, karena tidak ada anugerah yang lebih besar kepada umat ini, melebihi di turunkanya wahyu dari langit untuk membimbing umat ini yaitu Al-Quran, macam-macam usulan pada waktu itu. Tetapi Sayyidina Umar bin Khotob Ra memutuskan bahwa penanggalan islam ini dimulai dari hijrah.
Yang di kehendaki oleh Sayyidina Umar Ra, untuk memberikan pelajaran kepada umat, karena hijrah ini adalah suatu amalan yang di kerjakan oleh semua umat. Kalau hari penanggalan ini dimulai dari kelahiran Baginda Nabi SAW atau turunnya wahyu, maka seolah-olah kita ini diajari hanya untuk mengingati Baginda Nabi SAW saja. Tetapi dengan penanggalan dimulai dari hijrah ini, kita diingatkan oleh Sayidina Umar Ra kepada perjuangan Baginda Nabi SAW dan perjuangan umat seluruhnya. Baginda Nabi hijrah, para sahabat hijrah, laki-laki hijrah, wanita hijrah, anak-anak hijrah, ke Madinah Al Munawaroh, maksud daripada hijrah ini hanya satu saja, yaitu ingin bisa mengamalkan agama secara sempurna.
Dan untuk bisa mengamalkan agama secara sempurna ini, tidak cukup dengan pengorbanan Nabi saja, tetapi harus pengorbanan umat, karena yang berhajat kepada agama ini adalah umat, maka harus pengorbanan umat. Tidak ada keraguan bahwa Baginda Nabi semulia-mulianya para Nabi, semulia-mulianya para Rosul, tidak ada makhluk yang membandingi beliau.
Hadirin yang dimuliakan Alloh SWT, tetapi masalahnya bukan masalah itu, agama ini keperluan umat, maka yang berkorban juga harus umat. Baginda Nabi korban, para sahabat korban, laki-laki korban, wanita korban, meninggalkan segalanya menuju Madinah Al munawaroh, sampai di Madinah Al Munawaroh, maka Alloh SWT bangkitkan orang-orang Madinah untuk menjadi pembela-pembela mereka.
طَلَعَ الْبَدْرُ عَلَيْنَا مِنْ ثَنِيَّةِ الْوَدَاعِ
وَجَبَ الشُّكْرُ عَلَيْنَا مَا دَاعَ لِلَّهِ الدَّاعٍ
Telah terbit purnama di atas kita.
Muncul dari Tsaniyatul Wada’.
Wajib bersyukur atas kita.
Selagi Da’i yang mengajak kepada Alloh masih ada.
Laki-laki, wanita, anak-anak, semua mereka bersatu, untuk membela orang-orang muhajirin, Baginda Nabi dan para sahabatnya.
Akhirnya timbulah suatu kerjasama yang luar biasa, kerjasama yang hanya semata-mata karena Alloh, kerjasama yang semata-mata karena agama Alloh, kerjasama yang semata-mata hanya untuk bagaimana mengamalkan agama Alloh, maka ini betul-betul mengesan dalam hati Sayyidina Umar dan para sahabat pada waktu itu, sehingga diputuskan bahwa tahun baru penanggalan umat islam dimulai daripada hijrah, setiap hari kita melihat tanggalan, maka kita teringat hijrah, bahwa agama ini perlu hijroh, tanpa hijrah kita tidak bisa mengamalkan agama.
Hijrah ini ada dua, ada hijrah tempat, hijrah materi, hijrah tempat dari Makah ke Madinah, tapi hijrah yang sesungguhnya adalah hijrah amalan.
Baginda Nabi SAW mengatakan :
وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَاجَرَ عَمَّا نَهَى اللهُ عَنْهُ
“Orang yang hijroh yang sebenar-benarnya hijroh, adalah orang-orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Alloh”.
Itulah hijrah yang sebenarnya. Maka setiap hari kita mesti hijrah, hijrah dari kekufuran menuju keimanan, hijrah daripada kemaksiatan menuju ketaatan, hijrah daripada kelalaian menuju dzikrulloh, hijrah dari kebodohan menuju ilmu Alloh, hijrah dari keburukan menuju kebaikan, senantiasa kita ini harus berusaha hijrah, usaha perubahan-perubahan amalan, amalan yang buruk mesti kita tinggalkan, karena amalan-amalan yang buruk nanti akan menjadi masalah selama-lamanya yang tidak ada habis-habisnya apabila kita tidak hijrah, tidak bertobat daripada amalan-amalan yang buruk itu.
مَنْ لَزِمَ اْلإِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ
“Barang siapa senantiasa istighfar dan istighfar ini bagian daripada hijroh, bahkan keburukan-keburukan menuju kebaikan, maka Alloh SWT akan memberikan jalan keluar dari kesulitan-kesulitannya dan Alloh akan memberikan kepadanya rizki dari tempat yang tidak disangka-sangka.”
Maka hari jum’at ini juga hari hijrah, bagaimana kita tinggalkan keburukan-keburukan menuju kebaikan-kebaikan, keburukan apa saja, keburukan yang berkaitan dengan keluarga, bagaimana didalam keluarga kita ada suasana hijrah, perkara-perkara yang buruk kita tinggalkan, sehingga suasana rumah sahabat ada dirumah-rumah kita, di kampung kitapun harus ada suasana hijrah, bagaimana amalan-amalan yang buruk ditinggalkan dan amalan yang haq ditegakkan.
Seluruh umat hijrah bersama-sama untuk meninggalkan keburukan-keburukan dan menegakkan kebenaran.pengasuh ponpes Alfatah Temboro)
Senantiasa kita mengingati dan menyadari, bahwa kita ini dalam satu perjalanan yang sangat jauh dan sangat panjang, perjalanan menuju akhirat, tambah hari tambah dekat kita kepada akhirat, oleh karena itu tambah hari, tambah hari, semestinya tambah kita mengingati akhirat, tambah menyiapkan diri kita untuk kehidupan diakhirat, menghabiskan fikir kita tenaga kita dan seluruh apa yang Alloh berikan kepada kita untuk membangun akhirat kita, tambah hari, tambah hari, tambah dekat perpisahan kita dengan dunia, maka semestinya tambah hari tambah berkurang kecintaan kita dan kesibukan kita untuk dunia ini.
Sebentar lagi kita akan berjumpa dengan Alloh, menghadap kepada Alloh, kemudian Alloh akan bertanya kepada kita mengenai amal-amal kita, maka semestinya orang yang beriman tambah hari tambah mempersiapkan diri untuk pertemuan yang besar ini, pertemuan dengan Alloh SWT
Orang kafir, karena mereka tidak kenal dengan Alloh, tidak kenal dengan akhirat, siang dan malam yang difikirkan adalah hartanya, hartanya dan hartanya. Orang beriman, yang sudah kenal kepada Alloh, sudah kenal dengan kehidupan akhirat, yang dia pikirkan siang dan malam adalah amalnya, amalnya dan amalnya.
Tanpa terasa tiba-tiba sudah tahun baru hijriyah. Sayyidina Umar Ra yang telah memulai tahun penanggalan islam dengan hijriyah ini.
Banyak orang usul pada waktu itu dalam musyawaroh, ini umat islam mau memulai penanggalan dari mana, maka sebagian usul, hendaknya penanggalan islam ini dimulai dari kelahiran Nabi SAW, karena tidak ada nikmat yang lebih besar yang telah Alloh berikan pada umat ini, melebihi diutusnya baginda Muhammad SAW kepada umat ini. Sebagian ada yang mengusulkan bahwa tahun baru islam ini hendaknya dimulai dari kenabian Baginda Nabi SAW ketika beliau menerima wahyu yang pertama, karena tidak ada anugerah yang lebih besar kepada umat ini, melebihi di turunkanya wahyu dari langit untuk membimbing umat ini yaitu Al-Quran, macam-macam usulan pada waktu itu. Tetapi Sayyidina Umar bin Khotob Ra memutuskan bahwa penanggalan islam ini dimulai dari hijrah.
Yang di kehendaki oleh Sayyidina Umar Ra, untuk memberikan pelajaran kepada umat, karena hijrah ini adalah suatu amalan yang di kerjakan oleh semua umat. Kalau hari penanggalan ini dimulai dari kelahiran Baginda Nabi SAW atau turunnya wahyu, maka seolah-olah kita ini diajari hanya untuk mengingati Baginda Nabi SAW saja. Tetapi dengan penanggalan dimulai dari hijrah ini, kita diingatkan oleh Sayidina Umar Ra kepada perjuangan Baginda Nabi SAW dan perjuangan umat seluruhnya. Baginda Nabi hijrah, para sahabat hijrah, laki-laki hijrah, wanita hijrah, anak-anak hijrah, ke Madinah Al Munawaroh, maksud daripada hijrah ini hanya satu saja, yaitu ingin bisa mengamalkan agama secara sempurna.
Dan untuk bisa mengamalkan agama secara sempurna ini, tidak cukup dengan pengorbanan Nabi saja, tetapi harus pengorbanan umat, karena yang berhajat kepada agama ini adalah umat, maka harus pengorbanan umat. Tidak ada keraguan bahwa Baginda Nabi semulia-mulianya para Nabi, semulia-mulianya para Rosul, tidak ada makhluk yang membandingi beliau.
Hadirin yang dimuliakan Alloh SWT, tetapi masalahnya bukan masalah itu, agama ini keperluan umat, maka yang berkorban juga harus umat. Baginda Nabi korban, para sahabat korban, laki-laki korban, wanita korban, meninggalkan segalanya menuju Madinah Al munawaroh, sampai di Madinah Al Munawaroh, maka Alloh SWT bangkitkan orang-orang Madinah untuk menjadi pembela-pembela mereka.
طَلَعَ الْبَدْرُ عَلَيْنَا مِنْ ثَنِيَّةِ الْوَدَاعِ
وَجَبَ الشُّكْرُ عَلَيْنَا مَا دَاعَ لِلَّهِ الدَّاعٍ
Telah terbit purnama di atas kita.
Muncul dari Tsaniyatul Wada’.
Wajib bersyukur atas kita.
Selagi Da’i yang mengajak kepada Alloh masih ada.
Laki-laki, wanita, anak-anak, semua mereka bersatu, untuk membela orang-orang muhajirin, Baginda Nabi dan para sahabatnya.
Akhirnya timbulah suatu kerjasama yang luar biasa, kerjasama yang hanya semata-mata karena Alloh, kerjasama yang semata-mata karena agama Alloh, kerjasama yang semata-mata hanya untuk bagaimana mengamalkan agama Alloh, maka ini betul-betul mengesan dalam hati Sayyidina Umar dan para sahabat pada waktu itu, sehingga diputuskan bahwa tahun baru penanggalan umat islam dimulai daripada hijrah, setiap hari kita melihat tanggalan, maka kita teringat hijrah, bahwa agama ini perlu hijroh, tanpa hijrah kita tidak bisa mengamalkan agama.
Hijrah ini ada dua, ada hijrah tempat, hijrah materi, hijrah tempat dari Makah ke Madinah, tapi hijrah yang sesungguhnya adalah hijrah amalan.
Baginda Nabi SAW mengatakan :
وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَاجَرَ عَمَّا نَهَى اللهُ عَنْهُ
“Orang yang hijroh yang sebenar-benarnya hijroh, adalah orang-orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Alloh”.
Itulah hijrah yang sebenarnya. Maka setiap hari kita mesti hijrah, hijrah dari kekufuran menuju keimanan, hijrah daripada kemaksiatan menuju ketaatan, hijrah daripada kelalaian menuju dzikrulloh, hijrah dari kebodohan menuju ilmu Alloh, hijrah dari keburukan menuju kebaikan, senantiasa kita ini harus berusaha hijrah, usaha perubahan-perubahan amalan, amalan yang buruk mesti kita tinggalkan, karena amalan-amalan yang buruk nanti akan menjadi masalah selama-lamanya yang tidak ada habis-habisnya apabila kita tidak hijrah, tidak bertobat daripada amalan-amalan yang buruk itu.
مَنْ لَزِمَ اْلإِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ
“Barang siapa senantiasa istighfar dan istighfar ini bagian daripada hijroh, bahkan keburukan-keburukan menuju kebaikan, maka Alloh SWT akan memberikan jalan keluar dari kesulitan-kesulitannya dan Alloh akan memberikan kepadanya rizki dari tempat yang tidak disangka-sangka.”
Maka hari jum’at ini juga hari hijrah, bagaimana kita tinggalkan keburukan-keburukan menuju kebaikan-kebaikan, keburukan apa saja, keburukan yang berkaitan dengan keluarga, bagaimana didalam keluarga kita ada suasana hijrah, perkara-perkara yang buruk kita tinggalkan, sehingga suasana rumah sahabat ada dirumah-rumah kita, di kampung kitapun harus ada suasana hijrah, bagaimana amalan-amalan yang buruk ditinggalkan dan amalan yang haq ditegakkan.
Seluruh umat hijrah bersama-sama untuk meninggalkan keburukan-keburukan dan menegakkan kebenaran.
(Pengasuh Ponpes Alfatah Temboro)
Senantiasa kita mengingati dan menyadari, bahwa kita ini dalam satu perjalanan yang sangat jauh dan sangat panjang, perjalanan menuju akhirat, tambah hari tambah dekat kita kepada akhirat, oleh karena itu tambah hari, tambah hari, semestinya tambah kita mengingati akhirat, tambah menyiapkan diri kita untuk kehidupan diakhirat, menghabiskan fikir kita tenaga kita dan seluruh apa yang Alloh berikan kepada kita untuk membangun akhirat kita, tambah hari, tambah hari, tambah dekat perpisahan kita dengan dunia, maka semestinya tambah hari tambah berkurang kecintaan kita dan kesibukan kita untuk dunia ini.
Sebentar lagi kita akan berjumpa dengan Alloh, menghadap kepada Alloh, kemudian Alloh akan bertanya kepada kita mengenai amal-amal kita, maka semestinya orang yang beriman tambah hari tambah mempersiapkan diri untuk pertemuan yang besar ini, pertemuan dengan Alloh SWT
Orang kafir, karena mereka tidak kenal dengan Alloh, tidak kenal dengan akhirat, siang dan malam yang difikirkan adalah hartanya, hartanya dan hartanya. Orang beriman, yang sudah kenal kepada Alloh, sudah kenal dengan kehidupan akhirat, yang dia pikirkan siang dan malam adalah amalnya, amalnya dan amalnya.
Tanpa terasa tiba-tiba sudah tahun baru hijriyah. Sayyidina Umar Ra yang telah memulai tahun penanggalan islam dengan hijriyah ini.
Banyak orang usul pada waktu itu dalam musyawaroh, ini umat islam mau memulai penanggalan dari mana, maka sebagian usul, hendaknya penanggalan islam ini dimulai dari kelahiran Nabi SAW, karena tidak ada nikmat yang lebih besar yang telah Alloh berikan pada umat ini, melebihi diutusnya baginda Muhammad SAW kepada umat ini. Sebagian ada yang mengusulkan bahwa tahun baru islam ini hendaknya dimulai dari kenabian Baginda Nabi SAW ketika beliau menerima wahyu yang pertama, karena tidak ada anugerah yang lebih besar kepada umat ini, melebihi di turunkanya wahyu dari langit untuk membimbing umat ini yaitu Al-Quran, macam-macam usulan pada waktu itu. Tetapi Sayyidina Umar bin Khotob Ra memutuskan bahwa penanggalan islam ini dimulai dari hijrah.
Yang di kehendaki oleh Sayyidina Umar Ra, untuk memberikan pelajaran kepada umat, karena hijrah ini adalah suatu amalan yang di kerjakan oleh semua umat. Kalau hari penanggalan ini dimulai dari kelahiran Baginda Nabi SAW atau turunnya wahyu, maka seolah-olah kita ini diajari hanya untuk mengingati Baginda Nabi SAW saja. Tetapi dengan penanggalan dimulai dari hijrah ini, kita diingatkan oleh Sayidina Umar Ra kepada perjuangan Baginda Nabi SAW dan perjuangan umat seluruhnya. Baginda Nabi hijrah, para sahabat hijrah, laki-laki hijrah, wanita hijrah, anak-anak hijrah, ke Madinah Al Munawaroh, maksud daripada hijrah ini hanya satu saja, yaitu ingin bisa mengamalkan agama secara sempurna.
Dan untuk bisa mengamalkan agama secara sempurna ini, tidak cukup dengan pengorbanan Nabi saja, tetapi harus pengorbanan umat, karena yang berhajat kepada agama ini adalah umat, maka harus pengorbanan umat. Tidak ada keraguan bahwa Baginda Nabi semulia-mulianya para Nabi, semulia-mulianya para Rosul, tidak ada makhluk yang membandingi beliau.
Hadirin yang dimuliakan Alloh SWT, tetapi masalahnya bukan masalah itu, agama ini keperluan umat, maka yang berkorban juga harus umat. Baginda Nabi korban, para sahabat korban, laki-laki korban, wanita korban, meninggalkan segalanya menuju Madinah Al munawaroh, sampai di Madinah Al Munawaroh, maka Alloh SWT bangkitkan orang-orang Madinah untuk menjadi pembela-pembela mereka.
طَلَعَ الْبَدْرُ عَلَيْنَا مِنْ ثَنِيَّةِ الْوَدَاعِ
وَجَبَ الشُّكْرُ عَلَيْنَا مَا دَاعَ لِلَّهِ الدَّاعٍ
Telah terbit purnama di atas kita.
Muncul dari Tsaniyatul Wada’.
Wajib bersyukur atas kita.
Selagi Da’i yang mengajak kepada Alloh masih ada.
Laki-laki, wanita, anak-anak, semua mereka bersatu, untuk membela orang-orang muhajirin, Baginda Nabi dan para sahabatnya.
Akhirnya timbulah suatu kerjasama yang luar biasa, kerjasama yang hanya semata-mata karena Alloh, kerjasama yang semata-mata karena agama Alloh, kerjasama yang semata-mata hanya untuk bagaimana mengamalkan agama Alloh, maka ini betul-betul mengesan dalam hati Sayyidina Umar dan para sahabat pada waktu itu, sehingga diputuskan bahwa tahun baru penanggalan umat islam dimulai daripada hijrah, setiap hari kita melihat tanggalan, maka kita teringat hijrah, bahwa agama ini perlu hijroh, tanpa hijrah kita tidak bisa mengamalkan agama.
Hijrah ini ada dua, ada hijrah tempat, hijrah materi, hijrah tempat dari Makah ke Madinah, tapi hijrah yang sesungguhnya adalah hijrah amalan.
Baginda Nabi SAW mengatakan :
وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَاجَرَ عَمَّا نَهَى اللهُ عَنْهُ
“Orang yang hijroh yang sebenar-benarnya hijroh, adalah orang-orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Alloh”.
Itulah hijrah yang sebenarnya. Maka setiap hari kita mesti hijrah, hijrah dari kekufuran menuju keimanan, hijrah daripada kemaksiatan menuju ketaatan, hijrah daripada kelalaian menuju dzikrulloh, hijrah dari kebodohan menuju ilmu Alloh, hijrah dari keburukan menuju kebaikan, senantiasa kita ini harus berusaha hijrah, usaha perubahan-perubahan amalan, amalan yang buruk mesti kita tinggalkan, karena amalan-amalan yang buruk nanti akan menjadi masalah selama-lamanya yang tidak ada habis-habisnya apabila kita tidak hijrah, tidak bertobat daripada amalan-amalan yang buruk itu.
مَنْ لَزِمَ اْلإِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ
“Barang siapa senantiasa istighfar dan istighfar ini bagian daripada hijroh, bahkan keburukan-keburukan menuju kebaikan, maka Alloh SWT akan memberikan jalan keluar dari kesulitan-kesulitannya dan Alloh akan memberikan kepadanya rizki dari tempat yang tidak disangka-sangka.”
Maka hari jum’at ini juga hari hijrah, bagaimana kita tinggalkan keburukan-keburukan menuju kebaikan-kebaikan, keburukan apa saja, keburukan yang berkaitan dengan keluarga, bagaimana didalam keluarga kita ada suasana hijrah, perkara-perkara yang buruk kita tinggalkan, sehingga suasana rumah sahabat ada dirumah-rumah kita, di kampung kitapun harus ada suasana hijrah, bagaimana amalan-amalan yang buruk ditinggalkan dan amalan yang haq ditegakkan.
Seluruh umat hijrah bersama-sama untuk meninggalkan keburukan-keburukan dan menegakkan kebenaran.pengasuh ponpes Alfatah Temboro)
Senantiasa kita mengingati dan menyadari, bahwa kita ini dalam satu perjalanan yang sangat jauh dan sangat panjang, perjalanan menuju akhirat, tambah hari tambah dekat kita kepada akhirat, oleh karena itu tambah hari, tambah hari, semestinya tambah kita mengingati akhirat, tambah menyiapkan diri kita untuk kehidupan diakhirat, menghabiskan fikir kita tenaga kita dan seluruh apa yang Alloh berikan kepada kita untuk membangun akhirat kita, tambah hari, tambah hari, tambah dekat perpisahan kita dengan dunia, maka semestinya tambah hari tambah berkurang kecintaan kita dan kesibukan kita untuk dunia ini.
Sebentar lagi kita akan berjumpa dengan Alloh, menghadap kepada Alloh, kemudian Alloh akan bertanya kepada kita mengenai amal-amal kita, maka semestinya orang yang beriman tambah hari tambah mempersiapkan diri untuk pertemuan yang besar ini, pertemuan dengan Alloh SWT
Orang kafir, karena mereka tidak kenal dengan Alloh, tidak kenal dengan akhirat, siang dan malam yang difikirkan adalah hartanya, hartanya dan hartanya. Orang beriman, yang sudah kenal kepada Alloh, sudah kenal dengan kehidupan akhirat, yang dia pikirkan siang dan malam adalah amalnya, amalnya dan amalnya.
Tanpa terasa tiba-tiba sudah tahun baru hijriyah. Sayyidina Umar Ra yang telah memulai tahun penanggalan islam dengan hijriyah ini.
Banyak orang usul pada waktu itu dalam musyawaroh, ini umat islam mau memulai penanggalan dari mana, maka sebagian usul, hendaknya penanggalan islam ini dimulai dari kelahiran Nabi SAW, karena tidak ada nikmat yang lebih besar yang telah Alloh berikan pada umat ini, melebihi diutusnya baginda Muhammad SAW kepada umat ini. Sebagian ada yang mengusulkan bahwa tahun baru islam ini hendaknya dimulai dari kenabian Baginda Nabi SAW ketika beliau menerima wahyu yang pertama, karena tidak ada anugerah yang lebih besar kepada umat ini, melebihi di turunkanya wahyu dari langit untuk membimbing umat ini yaitu Al-Quran, macam-macam usulan pada waktu itu. Tetapi Sayyidina Umar bin Khotob Ra memutuskan bahwa penanggalan islam ini dimulai dari hijrah.
Yang di kehendaki oleh Sayyidina Umar Ra, untuk memberikan pelajaran kepada umat, karena hijrah ini adalah suatu amalan yang di kerjakan oleh semua umat. Kalau hari penanggalan ini dimulai dari kelahiran Baginda Nabi SAW atau turunnya wahyu, maka seolah-olah kita ini diajari hanya untuk mengingati Baginda Nabi SAW saja. Tetapi dengan penanggalan dimulai dari hijrah ini, kita diingatkan oleh Sayidina Umar Ra kepada perjuangan Baginda Nabi SAW dan perjuangan umat seluruhnya. Baginda Nabi hijrah, para sahabat hijrah, laki-laki hijrah, wanita hijrah, anak-anak hijrah, ke Madinah Al Munawaroh, maksud daripada hijrah ini hanya satu saja, yaitu ingin bisa mengamalkan agama secara sempurna.
Dan untuk bisa mengamalkan agama secara sempurna ini, tidak cukup dengan pengorbanan Nabi saja, tetapi harus pengorbanan umat, karena yang berhajat kepada agama ini adalah umat, maka harus pengorbanan umat. Tidak ada keraguan bahwa Baginda Nabi semulia-mulianya para Nabi, semulia-mulianya para Rosul, tidak ada makhluk yang membandingi beliau.
Hadirin yang dimuliakan Alloh SWT, tetapi masalahnya bukan masalah itu, agama ini keperluan umat, maka yang berkorban juga harus umat. Baginda Nabi korban, para sahabat korban, laki-laki korban, wanita korban, meninggalkan segalanya menuju Madinah Al munawaroh, sampai di Madinah Al Munawaroh, maka Alloh SWT bangkitkan orang-orang Madinah untuk menjadi pembela-pembela mereka.
طَلَعَ الْبَدْرُ عَلَيْنَا مِنْ ثَنِيَّةِ الْوَدَاعِ
وَجَبَ الشُّكْرُ عَلَيْنَا مَا دَاعَ لِلَّهِ الدَّاعٍ
Telah terbit purnama di atas kita.
Muncul dari Tsaniyatul Wada’.
Wajib bersyukur atas kita.
Selagi Da’i yang mengajak kepada Alloh masih ada.
Laki-laki, wanita, anak-anak, semua mereka bersatu, untuk membela orang-orang muhajirin, Baginda Nabi dan para sahabatnya.
Akhirnya timbulah suatu kerjasama yang luar biasa, kerjasama yang hanya semata-mata karena Alloh, kerjasama yang semata-mata karena agama Alloh, kerjasama yang semata-mata hanya untuk bagaimana mengamalkan agama Alloh, maka ini betul-betul mengesan dalam hati Sayyidina Umar dan para sahabat pada waktu itu, sehingga diputuskan bahwa tahun baru penanggalan umat islam dimulai daripada hijrah, setiap hari kita melihat tanggalan, maka kita teringat hijrah, bahwa agama ini perlu hijroh, tanpa hijrah kita tidak bisa mengamalkan agama.
Hijrah ini ada dua, ada hijrah tempat, hijrah materi, hijrah tempat dari Makah ke Madinah, tapi hijrah yang sesungguhnya adalah hijrah amalan.
Baginda Nabi SAW mengatakan :
وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَاجَرَ عَمَّا نَهَى اللهُ عَنْهُ
“Orang yang hijroh yang sebenar-benarnya hijroh, adalah orang-orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Alloh”.
Itulah hijrah yang sebenarnya. Maka setiap hari kita mesti hijrah, hijrah dari kekufuran menuju keimanan, hijrah daripada kemaksiatan menuju ketaatan, hijrah daripada kelalaian menuju dzikrulloh, hijrah dari kebodohan menuju ilmu Alloh, hijrah dari keburukan menuju kebaikan, senantiasa kita ini harus berusaha hijrah, usaha perubahan-perubahan amalan, amalan yang buruk mesti kita tinggalkan, karena amalan-amalan yang buruk nanti akan menjadi masalah selama-lamanya yang tidak ada habis-habisnya apabila kita tidak hijrah, tidak bertobat daripada amalan-amalan yang buruk itu.
مَنْ لَزِمَ اْلإِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ
“Barang siapa senantiasa istighfar dan istighfar ini bagian daripada hijroh, bahkan keburukan-keburukan menuju kebaikan, maka Alloh SWT akan memberikan jalan keluar dari kesulitan-kesulitannya dan Alloh akan memberikan kepadanya rizki dari tempat yang tidak disangka-sangka.”
Maka hari jum’at ini juga hari hijrah, bagaimana kita tinggalkan keburukan-keburukan menuju kebaikan-kebaikan, keburukan apa saja, keburukan yang berkaitan dengan keluarga, bagaimana didalam keluarga kita ada suasana hijrah, perkara-perkara yang buruk kita tinggalkan, sehingga suasana rumah sahabat ada dirumah-rumah kita, di kampung kitapun harus ada suasana hijrah, bagaimana amalan-amalan yang buruk ditinggalkan dan amalan yang haq ditegakkan.
Seluruh umat hijrah bersama-sama untuk meninggalkan keburukan-keburukan dan menegakkan kebenaran.
Rabu, 17 Oktober 2018
BERKUMPULAH DENGAN ORANG SHOLEH
Yang terpenting untuk dapat mengobati hati kita adalah :
1.Membaca Al-Qur’an dan maknanya
2.Sholat malam dirikanlah
3.Berkumpullah dengan orang sholeh
4.Perbanyaklah berpuasa, khususnya di hari Senin dan kamis
5.Dzikir malam perpanjanglah
Diriwayatkan oleh Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
“Permisalan teman yang baik dengan teman yang buruk adalah ibarat penjual minyak kasturi dan pandai besi. Si penjual minyak kasturi bisa jadi akan memberimu minyaknya tersebut atau engkau bisa membeli darinya, dan kalaupun tidak, maka minimal engkau akan tetap mendapatkan aroma harum darinya. Sedangkan si pandai besi, maka bisa jadi (percikan apinya) akan membakar pakaianmu, kalaupun tidak maka engkau akan tetap mendapatkan bau (asap) yang tidak enak.”
Siapa orang Shalih itu ?
الْقَائِم بِمَا يَجِب عَلَيْهِ مِنْ حُقُوق اللَّه وَحُقُوق عِبَاده وَتَتَفَاوَت دَرَجَاته
“Orang yang menjalankan kewajiban terhadap Allah dan kewajiban terhadap sesama hamba Allah.
Saat kita tasyahud, kita seringkali membaca bacaan berikut,
السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ
(artinya: salam untuk kami dan juga untuk hamba Allah yang shalih).”
Disebutkan dalam lanjutan hadits,
فَإِنَّكُمْ إِذَا قُلْتُمُوهَا أَصَابَتْ كُلَّ عَبْدٍ لِلَّهِ صَالِحٍ فِى السَّمَاءِ وَالأَرْضِ
“Jika kalian mengucapkan seperti itu, maka doa tadi akan tertuju pada setiap hamba Allah yang shalih di langit dan di bumi.”
Al Hakim berkata,
مَنْ أَرَادَ أَنْ يَحْظَى بِهَذَا السَّلَام الَّذِي يُسَلِّمهُ الْخَلْق فِي الصَّلَاة فَلْيَكُنْ عَبْدًا صَالِحًا وَإِلَّا حُرِمَ هَذَا الْفَضْل الْعَظِيم
“Siapa yang ingin meraih ucapan salam yang diucapkan oleh setiap orang yang sedang shalat, maka jadilah hamba yang shalih. Jika tidak, maka karunia yang besar (berupa doa selamat) diharamkan untuk diperoleh”
Imam al Fakihani berkata,
يَنْبَغِي لِلْمُصَلِّي أَنْ يَسْتَحْضِر فِي هَذَا الْمَحَلّ جَمِيع الْأَنْبِيَاء وَالْمَلَائِكَة وَالْمُؤْمِنِينَ ، يَعْنِي لِيَتَوَافَق لَفْظه مَعَ قَصْده
“Setiap orang yang shalat baiknya menghadirkan hati dalam shalatnya yaitu ia mendoakan selamat untuk para nabi, para malaikat, dan orang-orang yang beriman. Hal ini agar bersesuaian antara lafazh doa dan ia maksudkan
Intinya, hamba alloh yang shalih bukanlah yang hanya memperhatikan ibadah, shalat dan dzikir. Hamba alloh yang shalih adalah yang juga punya hubungan yang baik dengan sesama. Karena demikianlah Nabi kita yang mulai diutus. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاَقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan baiknya akhlaq
Maka nabi bersabda
لا تبا غدوا ولا تحاسدوا وكونوا عبادالله إخوانا
Jangan lah kamu saling marah jangan pula saling hasad irihati dan dengki jadilah kalian Hamba alloh yang mau bersaudara.
Kalau belum bisa jadi sholeh, cintailah orang yang sholeh dan banyak berkumpul dengannya.
1.Membaca Al-Qur’an dan maknanya
2.Sholat malam dirikanlah
3.Berkumpullah dengan orang sholeh
4.Perbanyaklah berpuasa, khususnya di hari Senin dan kamis
5.Dzikir malam perpanjanglah
Diriwayatkan oleh Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
“Permisalan teman yang baik dengan teman yang buruk adalah ibarat penjual minyak kasturi dan pandai besi. Si penjual minyak kasturi bisa jadi akan memberimu minyaknya tersebut atau engkau bisa membeli darinya, dan kalaupun tidak, maka minimal engkau akan tetap mendapatkan aroma harum darinya. Sedangkan si pandai besi, maka bisa jadi (percikan apinya) akan membakar pakaianmu, kalaupun tidak maka engkau akan tetap mendapatkan bau (asap) yang tidak enak.”
Siapa orang Shalih itu ?
الْقَائِم بِمَا يَجِب عَلَيْهِ مِنْ حُقُوق اللَّه وَحُقُوق عِبَاده وَتَتَفَاوَت دَرَجَاته
“Orang yang menjalankan kewajiban terhadap Allah dan kewajiban terhadap sesama hamba Allah.
Saat kita tasyahud, kita seringkali membaca bacaan berikut,
السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ
(artinya: salam untuk kami dan juga untuk hamba Allah yang shalih).”
Disebutkan dalam lanjutan hadits,
فَإِنَّكُمْ إِذَا قُلْتُمُوهَا أَصَابَتْ كُلَّ عَبْدٍ لِلَّهِ صَالِحٍ فِى السَّمَاءِ وَالأَرْضِ
“Jika kalian mengucapkan seperti itu, maka doa tadi akan tertuju pada setiap hamba Allah yang shalih di langit dan di bumi.”
Al Hakim berkata,
مَنْ أَرَادَ أَنْ يَحْظَى بِهَذَا السَّلَام الَّذِي يُسَلِّمهُ الْخَلْق فِي الصَّلَاة فَلْيَكُنْ عَبْدًا صَالِحًا وَإِلَّا حُرِمَ هَذَا الْفَضْل الْعَظِيم
“Siapa yang ingin meraih ucapan salam yang diucapkan oleh setiap orang yang sedang shalat, maka jadilah hamba yang shalih. Jika tidak, maka karunia yang besar (berupa doa selamat) diharamkan untuk diperoleh”
Imam al Fakihani berkata,
يَنْبَغِي لِلْمُصَلِّي أَنْ يَسْتَحْضِر فِي هَذَا الْمَحَلّ جَمِيع الْأَنْبِيَاء وَالْمَلَائِكَة وَالْمُؤْمِنِينَ ، يَعْنِي لِيَتَوَافَق لَفْظه مَعَ قَصْده
“Setiap orang yang shalat baiknya menghadirkan hati dalam shalatnya yaitu ia mendoakan selamat untuk para nabi, para malaikat, dan orang-orang yang beriman. Hal ini agar bersesuaian antara lafazh doa dan ia maksudkan
Intinya, hamba alloh yang shalih bukanlah yang hanya memperhatikan ibadah, shalat dan dzikir. Hamba alloh yang shalih adalah yang juga punya hubungan yang baik dengan sesama. Karena demikianlah Nabi kita yang mulai diutus. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاَقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan baiknya akhlaq
Maka nabi bersabda
لا تبا غدوا ولا تحاسدوا وكونوا عبادالله إخوانا
Jangan lah kamu saling marah jangan pula saling hasad irihati dan dengki jadilah kalian Hamba alloh yang mau bersaudara.
Kalau belum bisa jadi sholeh, cintailah orang yang sholeh dan banyak berkumpul dengannya.
Minggu, 14 Oktober 2018
NIKMAT KESEHATAN DAN KESEMPATAN
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Dua nikmat, kebanyakan manusia tertipu/Lalai dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)
1. Nikmat Kesehatan
Banyak manusia yang sehat, namun tertipu dengan kesehatannya. Ia tak gunakan kesehatannya untuk taat, namun untuk maksiat. Sementara di luar sana ada sebagian orang yang ingin melakukan ketaatan, namun tak mampu melakukannya dikarenakan sakit yang di derita.
Padahal badan yang sehat akan ditanyakan, digunakan untuk apa. Apakah digunakan tuk mendatangi majelis ilmu ataukah mendatangi tempat-tempat maksiat. Barulah ia tersadar ketika terbaring lemah tak berdaya karena sakit, sehingga sesal pun tak terelakkan.
2. Nikmat Waktu luang/ Nikmat Kesempatan
Waktu adalah sesuatu yang terus berputar dan tak akan kembali lagi. Oleh karena itu betapa banyak manusia yang tersesali oleh waktu. Waktunya hanya berlalu begitu saja, tanpa ada manfaat dan faidahnya. Hidupnya hanya menghabiskan waktu dan menyisakan penyesalan umur.
Waktu ibarat pedang bermata 2, jika digunakan untuk kebaikan, maka baik pula. Sebaliknya, jika digunakan untuk keburukan, maka dampak buruk akan terjadi di kemudian hari.
Betapa tidak, sebagian orang menghabiskan waktunya untuk maksiat, namun tatkala ia sudah senja, maka ia akan menangisi masa tua nya karena ia tak menghabiskan waktu dan umurnya untuk taat.
Al Imam Ibnu Baththol mengatakan, ”Seseorang tidaklah dikatakan memiliki waktu luang hingga badannya juga sehat. Barangsiapa yang memiliki dua nikmat ini (yaitu waktu senggang dan nikmat sehat), hendaklah ia bersemangat, jangan sampai ia tertipu dengan meninggalkan syukur pada Allah atas nikmat yang diberikan. Bersyukur adalah dengan melaksanakan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan Allah. Barangsiapa yang luput dari syukur semacam ini, maka dialah yang tertipu.”
Sayyidina ‘Umar bin Khottob mengatakan,
إنِّي أَكْرَهُ الرَّجُلَ أَنْ أَرَاهُ يَمْشِي سَبَهْلَلًا أَيْ : لَا فِي أَمْرِ الدُّنْيَا ، وَلَا فِي أَمْرِ آخِرَةٍ .
“Aku tidak suka melihat seseorang yang berjalan seenaknya tanpa mengindahkan ini dan itu, yaitu tidak peduli kehidupan dunianya dan tidak pula sibuk dengan urusan akhiratnya.”
Ibnu Mas’ud mengatakan,
إنِّي لَأَبْغَضُ الرَّجُلَ فَارِغًا لَا فِي عَمَلِ دُنْيَا وَلَا فِي عَمَلِ الْآخِرَةِ
“Aku sangat membenci orang yang menganggur, yaitu tidak punya amalan untuk penghidupan dunianya ataupun akhiratnya
“Dua nikmat, kebanyakan manusia tertipu/Lalai dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)
1. Nikmat Kesehatan
Banyak manusia yang sehat, namun tertipu dengan kesehatannya. Ia tak gunakan kesehatannya untuk taat, namun untuk maksiat. Sementara di luar sana ada sebagian orang yang ingin melakukan ketaatan, namun tak mampu melakukannya dikarenakan sakit yang di derita.
Padahal badan yang sehat akan ditanyakan, digunakan untuk apa. Apakah digunakan tuk mendatangi majelis ilmu ataukah mendatangi tempat-tempat maksiat. Barulah ia tersadar ketika terbaring lemah tak berdaya karena sakit, sehingga sesal pun tak terelakkan.
2. Nikmat Waktu luang/ Nikmat Kesempatan
Waktu adalah sesuatu yang terus berputar dan tak akan kembali lagi. Oleh karena itu betapa banyak manusia yang tersesali oleh waktu. Waktunya hanya berlalu begitu saja, tanpa ada manfaat dan faidahnya. Hidupnya hanya menghabiskan waktu dan menyisakan penyesalan umur.
Waktu ibarat pedang bermata 2, jika digunakan untuk kebaikan, maka baik pula. Sebaliknya, jika digunakan untuk keburukan, maka dampak buruk akan terjadi di kemudian hari.
Betapa tidak, sebagian orang menghabiskan waktunya untuk maksiat, namun tatkala ia sudah senja, maka ia akan menangisi masa tua nya karena ia tak menghabiskan waktu dan umurnya untuk taat.
Al Imam Ibnu Baththol mengatakan, ”Seseorang tidaklah dikatakan memiliki waktu luang hingga badannya juga sehat. Barangsiapa yang memiliki dua nikmat ini (yaitu waktu senggang dan nikmat sehat), hendaklah ia bersemangat, jangan sampai ia tertipu dengan meninggalkan syukur pada Allah atas nikmat yang diberikan. Bersyukur adalah dengan melaksanakan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan Allah. Barangsiapa yang luput dari syukur semacam ini, maka dialah yang tertipu.”
Sayyidina ‘Umar bin Khottob mengatakan,
إنِّي أَكْرَهُ الرَّجُلَ أَنْ أَرَاهُ يَمْشِي سَبَهْلَلًا أَيْ : لَا فِي أَمْرِ الدُّنْيَا ، وَلَا فِي أَمْرِ آخِرَةٍ .
“Aku tidak suka melihat seseorang yang berjalan seenaknya tanpa mengindahkan ini dan itu, yaitu tidak peduli kehidupan dunianya dan tidak pula sibuk dengan urusan akhiratnya.”
Ibnu Mas’ud mengatakan,
إنِّي لَأَبْغَضُ الرَّجُلَ فَارِغًا لَا فِي عَمَلِ دُنْيَا وَلَا فِي عَمَلِ الْآخِرَةِ
“Aku sangat membenci orang yang menganggur, yaitu tidak punya amalan untuk penghidupan dunianya ataupun akhiratnya
DAKWAH, IMAN, DAN AMAL SHOLEH ☆ 2
Hari ini Umat Sholat, tetapi ketidak patuhan dan kemaksiatan berjalan juga bersamaan. Parahnya adanya rasa puas terhadap Ibadah dan amal-amal yang mereka lakukan. Mereka merasa aman dengan amal-amal yang mereka perbuat sehingga menimbulkan rasa cukup dalam ibadah mereka. Ini terjadi karena kelemahan Iman, dan inilah kondisi umat saat ini.
Yang terpenting di akhir hidup ini adalah bagaimana kita dapat mati dalam keadaan takut kepada Allah bukannya takut kepada mahluk. Seorang pemuda di India rela mati dibunuh oleh orang-orang hindu karena berani pergi ke mesjid setelah dilarang mereka. Sementara orang Islam yang lain tidak ada yang berani ke mesjid karena takut kepada orang hindu. Si pemuda ini lebih memilih mati dengan membawa rasa takut kepada Allah dibanding hidup tapi takut kepada mahluk dan mati dengan membawa rasa takut kepada selain Allah.
Iman akan datang melalui pengorbanan, dan Iman akan terbentuk melalui usaha atas Iman, seperti dengan berbicara kebesaran Allah, jaulah, taklim, dan sillaturrahmi. Apa yang dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, diucapkan oleh mulut, dan difikir dengan akal, ini dapat membentuk atau merubah kondisi Iman kita dalam hati. Jika fungsi ini digunakan untuk meningkatkan, memelihara, dan membentuk Iman dalam hati selama 24 jam, maka Iman ini akan terjaga dan terawat. Tanda-tanda orang yang merawat Imannya adalah dia akan memaksimalkan fasilitas yang Allah beri kepadanya hanya untuk menyenangkan Allah.
Dunia ini dan segala kepastian hukum alamnya dapat berubah-ubah, semata-mata dengan keyakinan yang benar dan keyakinan yang kuat kepada Allah Ta’ala. Jika kita mempunyai keyakinan ini seluruh hukum alam yang pasti ini dapat berubah-ubah tergantung kehendak kita. Hukum Alam dapat berubah dengan Qudratullah, sedangkan Qudratullah ini akan datang hanya dengan keyakinan yang kuat kepada Allah Ta’ala. Seperti hukum air yang menenggelamkan malah bisa dipakai buat berjalan oleh Sahabat RA. Fungsi api yang membakar malah menyejukkan buat Ibrahim AS. Ini semua dapat terjadi hanya dengan keyakinan yang benar dan keyakinan yang kuat terhadap Allah Ta’ala.
Dengan keyakinan yang benar, maka do’a ini dapat mendatangkan Qudratullah. Orang Islam akan kembali jaya bukan dengan teknologi, ekonomi, politik, kekuasaan, harta benda, atau status sosial, tetapi dengan Keimanan yang dapat mendatangkan Qudratullah. Jika Iman ini sudah sampai ke taraf keimanan para sahabat, nanti Allah yang akan hancurkan musuh-musuh Islam seperti Allah telah hancurkan Firaun dan Namrud. Dan Allah pulalah yang akan beri kejayaan dan kesuksesan seperti Sahabat ketika menguasai 2/3 dunia dengan kekuatan Iman dan Amal mereka
Islam dakwah bukan dengan pedang, tetapi dengan Akhlaq. Nabi SAW dibenci bukan karena Akhlaqnya tetapi apa yang Nabi SAW dakwahkan. Bahkan karena Akhlaq Nabi SAW, musuhpun menghormati Nabi SAW. Namun jika ada kepentingan Agama menggunakan pedang untuk berdakwah ini karena kondisi yang mengharuskan Islam untuk berperang. Sudah tidak ada jalan lain selain angkat pedang penyelesaiannya.
Dunia ini berubah karena ada orang-orang yang berkorban dengan jiwa dan harta mereka. Seperti seseorang yang hanya berjualan susu secara lokal tetapi karena ada korban untuk cari hubungan keluar negeri, maka bisnis susunya menjadi perdagangan Internasional. Asbab adanya perdagangan Internasional, bahasa lokal menjadi bahasa Internasional, seperti bahasa Inggris. Begitu juga agama jika ada pengorbanan dan usaha untuk agama, maka ini dapat merubah keadaan dunia.
Dakwah itu seperti tanah, Iman itu seperti benih dalam tanah, Taklim itu airnya, Qur’an dan dzikir adalah lingkungan suasananya, Rukun Islam adalah akar pohon, Ilmu itu adalah batang pohon, amal-amal agama adalah ranting-ranting pohon, Akhlaq adalah buahnya, sedangkan rasa manis dari buah adalah keikhlasannya. Amalan Maqomi dan intiqoli (Khuruj Fissabillillah) ini gunanya adalah untuk meningkatkan dan memelihara Iman. Sebagaimana petani memelihara pohon buah dengan datang ke kebunnya. Pulang pergi dari rumah ke kebun hanya untuk kerja atas kebun, baru kebun akan berkembang. Iman kita akan berkembang jika kita keluar di jalan Allah dan balik buat amal maqomi.
Perbedaan antara mainan dan perkara yang sebenarnya terletak pada takazanya atau kepentingannya. Seperti antara kapal mainan dan kapal yang sebenarnya. Kapal yang sebenarnya itu harus dipenuhi dulu takazanya. Apa takazanya: kapal yang sebenarnya itu memerlukan bensin, landasan udara, tower kontrol, pilot, mekanik pesawat dan karyawan pesawat. Tanpa ini semua, maka akan terjadi masalah atau kapal tidak akan bisa terbang. Kalau kapal mainan itu tidak perlu ada takaza seperti itu. Jadi agar kapal bisa terbang harus dipenuhi dulu takazanya.
Iman seperti itu juga, ada bedanya antara Iman yang sebenarnya dan Iman mainan. Kalau Iman yang sebenarnya, agar bisa digunakan dan dapat diambil manfaatnya, maka harus dipenuhi dulu takazanya.
Apa takaza Iman itu :
1. Keluar di jalan Allah menaikan iman
2. Maqomi memelihara iman
3. Dakwah membentuk iman
Inilah perbedaan antara yang sebenarnya (Realitas/Kenyataan) dengan yang mainan (Hanya Khayalan/Tidak Real). Agama ini adalah yang sebenarnya, nyata, maka mempunyai takaza yang harus dipenuhi agar kita dapat menggunakannya dan mengambil manfaatnya. Sedangkan takaza agama ini adalah Ilmu dan Amal. Kita tau ilmunya lalu langsung kita amalkan, baru kita bisa faham manfaatnya.
Hari ini banyak orang ke mesjid untuk minta hidayah setiap habis sholat, namun setelah pulang tidur, takazanya tidak dipenuhi. Agar do’a kita mempunyai kekuatan maka setelah do’a, takazanya harus dipenuhi yaitu usaha atas hidayah. Orang berdo’a agar musuh Islam dihancurkan, tetapi setelah do’a, takaza jihad tidak dipenuhi, dia hanya uring-uringan saja. Apakah dengan ini musuh Islam akan hancur. Cara seperti ini tidak akan merubah keadaan.
Agar kita bisa merasakan kenikmatan dari do’a kita maka asbab-asbabnya juga harus dipenuhi terlebih dahulu dengan keyakinan bahwa Allah tanpa asbab dapat memenuhi hajat kita dengan QudratNya. Penting kita sadari bahwa Allah membuat dunia ini dengan tertib dan ada sunnatullahnya. Tujuannya agar manusia mau berkorban, tidak hanya dengan duduk-duduk saja. Dunia ini membawa ketetapan Allah, hukum-hukum alam yang telah ditentukan Allah, sunnatullah. Namun orang beriman menjalankan hidup ini harus dengan keyakinan bahwa Allah tidak bergantung pada apapun dan tidak terikat pada apapun. Allah dapat melakukan segala sesuatu diluar aturan-aturan yang ada. Allah Mah Kuasa dan kekuasaan Allan tanpa batas. Seperti makan, Allah mamp[u memberi manusia makan tanpa kerja. Tetapi mencari Nafkah atau kerja ini adalah perintah Allah. Kita mencari nafkah ini harus dengan keyakinan bahwa Allah mampu memberi kita nafkah tanpa kerja, hanya saja ini perintah dan ketetapan Allah. Jika dilanggar ketetapan Allah ini akan ada konsekwensi atau akibat. Sebagaimana orang yang jatuh lalu berdarah, ini adalah akibat nya bila terjatuh. Jika orang terjatuh maka akan berdarah dan akan keluar rasa sakit. Jika kita hanya bermodalkan keyakinan tanpa buat usaha untuk memenuhi asbabnya terlebih dahulu, ini seperti seseorang yang do’a meminta anak tetapi tidak mau kawin.
Anbiya AS mereka kekuatannya terletak pada do’a dan usahanya. Apa yang di do’akan oleh Anbiya AS dan lalu apa yang diusahakan mereka yaitu hidayah untuk hati-hati manusia. Ini ketetapan Allah, bahkan Anbiya AS yang do’anya paling ijabah dibanding kita tetapi Allah perintahkan kepada mereka untuk buat usaha atas hidayah. Hidayah tidak akan turun hanya dengan sekedar duduk-duduk saja dengan berdo’a. Penuhi asbab dan takaza dari do’a itu, baru do’a ini mempunyai kekuatan. Lakukan apa yang kita mampu lakukan nanti Allah akan mengerjakan apa yang kita tidak mampu kerjakan.
Untuk memenuhi takaza agama diperlukan asbab-asbab. Asbab inilah yang dijadikan pengorbanan untuk kepentingan Agama. Seorang petani dia akan menanam benih, lalu dia akan melakukan pengairan, pemupukan, tetapi masalah panen ini adalah urusan Allah. Inilah yang dilakukan petani sebelum panen yaitu dengan memenuhi asbab-asbab pertaniannya seperti benih, air, pupuk, dan lain-lain. Hasil dari panen inilah yang digunakan sebagai asbab untuk memenuhi takaza agama. Jerih payah dunia yang dihasilkan lalu digunakan untuk memenuhi takaza agama bukan untuk kepentingan nafsu inilah yang dinamakan pengorbanan.
Pada dasarnya setiap kita melakukan usaha atau kegiatan, maka kita akan mendapatkan 2 hasil :
Benda yang diusahakan
Keyakinan terhadap benda tersebut
Seperti tukang minyak yang diusahakannya adalah membeli minyak untuk di jual. Jadi minyak adalah benda yang diusahakan. Si tukang minyak yakin bahwa minyaknya dapat menyelesaikan masalahnya dan dapat mendatangkan kebahagiaan. Asbab keyakinannya terhadap minyak maka jualan minyak menjadi kerjaannya yang utama. Jika meninggal pekerjaanya akan dilanjutkan oleh keluarganya. Jika menghasilkan maka orang-orang akan mengikutinya. Begitu juga kerja agama ini, jika benar dikerjakan maka hasilnya adalah hidayah dan keyakinan menjadikan usaha ini sebagai maksud hidup. Sehingga ketika kita meninggal keluarga kita akan meneruskannya dan orang lain akan mengikuti kita.
Fahami kerja Dakwah sebagaimana yang di fahami para sahabat
Yang terpenting di akhir hidup ini adalah bagaimana kita dapat mati dalam keadaan takut kepada Allah bukannya takut kepada mahluk. Seorang pemuda di India rela mati dibunuh oleh orang-orang hindu karena berani pergi ke mesjid setelah dilarang mereka. Sementara orang Islam yang lain tidak ada yang berani ke mesjid karena takut kepada orang hindu. Si pemuda ini lebih memilih mati dengan membawa rasa takut kepada Allah dibanding hidup tapi takut kepada mahluk dan mati dengan membawa rasa takut kepada selain Allah.
Iman akan datang melalui pengorbanan, dan Iman akan terbentuk melalui usaha atas Iman, seperti dengan berbicara kebesaran Allah, jaulah, taklim, dan sillaturrahmi. Apa yang dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, diucapkan oleh mulut, dan difikir dengan akal, ini dapat membentuk atau merubah kondisi Iman kita dalam hati. Jika fungsi ini digunakan untuk meningkatkan, memelihara, dan membentuk Iman dalam hati selama 24 jam, maka Iman ini akan terjaga dan terawat. Tanda-tanda orang yang merawat Imannya adalah dia akan memaksimalkan fasilitas yang Allah beri kepadanya hanya untuk menyenangkan Allah.
Dunia ini dan segala kepastian hukum alamnya dapat berubah-ubah, semata-mata dengan keyakinan yang benar dan keyakinan yang kuat kepada Allah Ta’ala. Jika kita mempunyai keyakinan ini seluruh hukum alam yang pasti ini dapat berubah-ubah tergantung kehendak kita. Hukum Alam dapat berubah dengan Qudratullah, sedangkan Qudratullah ini akan datang hanya dengan keyakinan yang kuat kepada Allah Ta’ala. Seperti hukum air yang menenggelamkan malah bisa dipakai buat berjalan oleh Sahabat RA. Fungsi api yang membakar malah menyejukkan buat Ibrahim AS. Ini semua dapat terjadi hanya dengan keyakinan yang benar dan keyakinan yang kuat terhadap Allah Ta’ala.
Dengan keyakinan yang benar, maka do’a ini dapat mendatangkan Qudratullah. Orang Islam akan kembali jaya bukan dengan teknologi, ekonomi, politik, kekuasaan, harta benda, atau status sosial, tetapi dengan Keimanan yang dapat mendatangkan Qudratullah. Jika Iman ini sudah sampai ke taraf keimanan para sahabat, nanti Allah yang akan hancurkan musuh-musuh Islam seperti Allah telah hancurkan Firaun dan Namrud. Dan Allah pulalah yang akan beri kejayaan dan kesuksesan seperti Sahabat ketika menguasai 2/3 dunia dengan kekuatan Iman dan Amal mereka
Islam dakwah bukan dengan pedang, tetapi dengan Akhlaq. Nabi SAW dibenci bukan karena Akhlaqnya tetapi apa yang Nabi SAW dakwahkan. Bahkan karena Akhlaq Nabi SAW, musuhpun menghormati Nabi SAW. Namun jika ada kepentingan Agama menggunakan pedang untuk berdakwah ini karena kondisi yang mengharuskan Islam untuk berperang. Sudah tidak ada jalan lain selain angkat pedang penyelesaiannya.
Dunia ini berubah karena ada orang-orang yang berkorban dengan jiwa dan harta mereka. Seperti seseorang yang hanya berjualan susu secara lokal tetapi karena ada korban untuk cari hubungan keluar negeri, maka bisnis susunya menjadi perdagangan Internasional. Asbab adanya perdagangan Internasional, bahasa lokal menjadi bahasa Internasional, seperti bahasa Inggris. Begitu juga agama jika ada pengorbanan dan usaha untuk agama, maka ini dapat merubah keadaan dunia.
Dakwah itu seperti tanah, Iman itu seperti benih dalam tanah, Taklim itu airnya, Qur’an dan dzikir adalah lingkungan suasananya, Rukun Islam adalah akar pohon, Ilmu itu adalah batang pohon, amal-amal agama adalah ranting-ranting pohon, Akhlaq adalah buahnya, sedangkan rasa manis dari buah adalah keikhlasannya. Amalan Maqomi dan intiqoli (Khuruj Fissabillillah) ini gunanya adalah untuk meningkatkan dan memelihara Iman. Sebagaimana petani memelihara pohon buah dengan datang ke kebunnya. Pulang pergi dari rumah ke kebun hanya untuk kerja atas kebun, baru kebun akan berkembang. Iman kita akan berkembang jika kita keluar di jalan Allah dan balik buat amal maqomi.
Perbedaan antara mainan dan perkara yang sebenarnya terletak pada takazanya atau kepentingannya. Seperti antara kapal mainan dan kapal yang sebenarnya. Kapal yang sebenarnya itu harus dipenuhi dulu takazanya. Apa takazanya: kapal yang sebenarnya itu memerlukan bensin, landasan udara, tower kontrol, pilot, mekanik pesawat dan karyawan pesawat. Tanpa ini semua, maka akan terjadi masalah atau kapal tidak akan bisa terbang. Kalau kapal mainan itu tidak perlu ada takaza seperti itu. Jadi agar kapal bisa terbang harus dipenuhi dulu takazanya.
Iman seperti itu juga, ada bedanya antara Iman yang sebenarnya dan Iman mainan. Kalau Iman yang sebenarnya, agar bisa digunakan dan dapat diambil manfaatnya, maka harus dipenuhi dulu takazanya.
Apa takaza Iman itu :
1. Keluar di jalan Allah menaikan iman
2. Maqomi memelihara iman
3. Dakwah membentuk iman
Inilah perbedaan antara yang sebenarnya (Realitas/Kenyataan) dengan yang mainan (Hanya Khayalan/Tidak Real). Agama ini adalah yang sebenarnya, nyata, maka mempunyai takaza yang harus dipenuhi agar kita dapat menggunakannya dan mengambil manfaatnya. Sedangkan takaza agama ini adalah Ilmu dan Amal. Kita tau ilmunya lalu langsung kita amalkan, baru kita bisa faham manfaatnya.
Hari ini banyak orang ke mesjid untuk minta hidayah setiap habis sholat, namun setelah pulang tidur, takazanya tidak dipenuhi. Agar do’a kita mempunyai kekuatan maka setelah do’a, takazanya harus dipenuhi yaitu usaha atas hidayah. Orang berdo’a agar musuh Islam dihancurkan, tetapi setelah do’a, takaza jihad tidak dipenuhi, dia hanya uring-uringan saja. Apakah dengan ini musuh Islam akan hancur. Cara seperti ini tidak akan merubah keadaan.
Agar kita bisa merasakan kenikmatan dari do’a kita maka asbab-asbabnya juga harus dipenuhi terlebih dahulu dengan keyakinan bahwa Allah tanpa asbab dapat memenuhi hajat kita dengan QudratNya. Penting kita sadari bahwa Allah membuat dunia ini dengan tertib dan ada sunnatullahnya. Tujuannya agar manusia mau berkorban, tidak hanya dengan duduk-duduk saja. Dunia ini membawa ketetapan Allah, hukum-hukum alam yang telah ditentukan Allah, sunnatullah. Namun orang beriman menjalankan hidup ini harus dengan keyakinan bahwa Allah tidak bergantung pada apapun dan tidak terikat pada apapun. Allah dapat melakukan segala sesuatu diluar aturan-aturan yang ada. Allah Mah Kuasa dan kekuasaan Allan tanpa batas. Seperti makan, Allah mamp[u memberi manusia makan tanpa kerja. Tetapi mencari Nafkah atau kerja ini adalah perintah Allah. Kita mencari nafkah ini harus dengan keyakinan bahwa Allah mampu memberi kita nafkah tanpa kerja, hanya saja ini perintah dan ketetapan Allah. Jika dilanggar ketetapan Allah ini akan ada konsekwensi atau akibat. Sebagaimana orang yang jatuh lalu berdarah, ini adalah akibat nya bila terjatuh. Jika orang terjatuh maka akan berdarah dan akan keluar rasa sakit. Jika kita hanya bermodalkan keyakinan tanpa buat usaha untuk memenuhi asbabnya terlebih dahulu, ini seperti seseorang yang do’a meminta anak tetapi tidak mau kawin.
Anbiya AS mereka kekuatannya terletak pada do’a dan usahanya. Apa yang di do’akan oleh Anbiya AS dan lalu apa yang diusahakan mereka yaitu hidayah untuk hati-hati manusia. Ini ketetapan Allah, bahkan Anbiya AS yang do’anya paling ijabah dibanding kita tetapi Allah perintahkan kepada mereka untuk buat usaha atas hidayah. Hidayah tidak akan turun hanya dengan sekedar duduk-duduk saja dengan berdo’a. Penuhi asbab dan takaza dari do’a itu, baru do’a ini mempunyai kekuatan. Lakukan apa yang kita mampu lakukan nanti Allah akan mengerjakan apa yang kita tidak mampu kerjakan.
Untuk memenuhi takaza agama diperlukan asbab-asbab. Asbab inilah yang dijadikan pengorbanan untuk kepentingan Agama. Seorang petani dia akan menanam benih, lalu dia akan melakukan pengairan, pemupukan, tetapi masalah panen ini adalah urusan Allah. Inilah yang dilakukan petani sebelum panen yaitu dengan memenuhi asbab-asbab pertaniannya seperti benih, air, pupuk, dan lain-lain. Hasil dari panen inilah yang digunakan sebagai asbab untuk memenuhi takaza agama. Jerih payah dunia yang dihasilkan lalu digunakan untuk memenuhi takaza agama bukan untuk kepentingan nafsu inilah yang dinamakan pengorbanan.
Pada dasarnya setiap kita melakukan usaha atau kegiatan, maka kita akan mendapatkan 2 hasil :
Benda yang diusahakan
Keyakinan terhadap benda tersebut
Seperti tukang minyak yang diusahakannya adalah membeli minyak untuk di jual. Jadi minyak adalah benda yang diusahakan. Si tukang minyak yakin bahwa minyaknya dapat menyelesaikan masalahnya dan dapat mendatangkan kebahagiaan. Asbab keyakinannya terhadap minyak maka jualan minyak menjadi kerjaannya yang utama. Jika meninggal pekerjaanya akan dilanjutkan oleh keluarganya. Jika menghasilkan maka orang-orang akan mengikutinya. Begitu juga kerja agama ini, jika benar dikerjakan maka hasilnya adalah hidayah dan keyakinan menjadikan usaha ini sebagai maksud hidup. Sehingga ketika kita meninggal keluarga kita akan meneruskannya dan orang lain akan mengikuti kita.
Fahami kerja Dakwah sebagaimana yang di fahami para sahabat
KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU
العلم أوله مر لكن آخره أحلى من العسل
Ilmu itu pada awalnya pahit kita pelajari, tapi pada akhirnya bila terus kita paksakan diri mempelajari nya maka menjadi manis bahkan belajar ilmu itu lebih manis dari MADU
Dalam kehidupan manusia ilmu adalah salah satu hal yang sangat penting dan hal tersebut bukan lagi merupakan suatu rahasia. Sedemikian pentingnya ilmu bagi manusia khususnya umat muslim, seseorang akan tidak senang jika ia disebut tidak memiliki ilmu atau bodoh. Ilmu dapat membuat seseorang menjadi mulia dan dihormati. Sebagaimana yang dikatakan Ali bin Abi Thalib bahwa seseorang yang memiliki cukup ilmu akan merasa dimuliakan
Menuntut ilmu hukumnya menjadi fardlu ‘ain atau wajib dilakukan oleh setiap muslim, terutama jika hal tersebut diperlukan agar umat muslim dapat menjalankan ibadah kepada Allah SWT. Misalnya ilmu tentang ibadah yang menyangkut cara menunanaikan shalat wajib
طلب العلم فريضة على كل مسلم ومسلمة
Menuntut ilmu hukumnya fardhu ain atas seluruh orang Islam laki-laki dan Islam perempuan
أطلب العلم من المهد إلى اللحد
Tuntutlah ilmu sejak lapas dari ayunan sampai masuk liang lahad/yakni Samapai masuk kubur
Ilmu tersebut menjadi wajib diketahui karena tanpa adanya pengetahuan dan ilmu tentang ibadah-ibadah tersebut, tidaklah sah ibadah seseorang
Orang berilmu atau ulama memiliki kedudukan mulia di sisi Allah SWT sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW :
“Saya mendengar Rasulullah _ berkata: “Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan menyiapkan jalan baginya menuju surga. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayapnya karena ridha kepada penuntut ilmu. Sesungguhnya orang yang berilmu itu dimintakan ampunan oleh apa saja yang ada di langit dan yang ada di bumi hingga ikan-ikan di laut yang terdalam. Kelebihan orang berilmu atas orang beribadah adalah seperti kelebihan bulan atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar juga tidak dirham namun mereka mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang mengambilnya, sungguh ia mendapatkan keberuntungan yang besar.”
Pentingnya menuntut ilmu juga disuratkan dalam QS Al-Qalam ayat 1 dan 2 dimana Allah SWT bersumpah demi pena. Ayat tersebut
ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ
Menganjurkan pada kita bahwa saat mencari dan menuntut ilmu, orang-orang beriman sebaiknya menuliskan ilmu tersebut dengan menggunakan pena agar ilmu tersebut tidaklah hilang dan dapat diteruskan bagi generasi selanjutnya untuk dipelajari dikemudian hari.
Maka pentingnya kita mencatat apa yang kita dengar agar tidak hilang begitu saja.
Imam Syafi’i telah menegaskan :
” قَالَ اْلإِمَامُ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ”
العِلْمُ صَيْدٌ وَاْلكِتَابَةُ قَيْدُهُ قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِاْلحِبَالِ اْلوَاثِقَ فَمِنَ اْلحَمَاقَةِ أَنْ تَصِيْدَ غَزَالَة وَ تَتْرُكُهَا بَيْنَ اْلخَلاَئِقِ طَالِقَةً
“Ilmu bagaikan hewan buruan, dan tulisan/pena adalah ibarat tali pengikatnya. Oleh karena itu ikatlah hewan buruanmu dengan tali yang kuat, Adalah tindakan bodoh ketika berburu rusa kemudian setelah rusa itu berhasil ditangkap, kamu biarkan saja dia tanpa diikat dikeramaian.”
Jadi termasuk tindakan kebodohan adalah menbiarkan ilmu tanpa kita mencatat.
Ilmu itu pada awalnya pahit kita pelajari, tapi pada akhirnya bila terus kita paksakan diri mempelajari nya maka menjadi manis bahkan belajar ilmu itu lebih manis dari MADU
Dalam kehidupan manusia ilmu adalah salah satu hal yang sangat penting dan hal tersebut bukan lagi merupakan suatu rahasia. Sedemikian pentingnya ilmu bagi manusia khususnya umat muslim, seseorang akan tidak senang jika ia disebut tidak memiliki ilmu atau bodoh. Ilmu dapat membuat seseorang menjadi mulia dan dihormati. Sebagaimana yang dikatakan Ali bin Abi Thalib bahwa seseorang yang memiliki cukup ilmu akan merasa dimuliakan
Menuntut ilmu hukumnya menjadi fardlu ‘ain atau wajib dilakukan oleh setiap muslim, terutama jika hal tersebut diperlukan agar umat muslim dapat menjalankan ibadah kepada Allah SWT. Misalnya ilmu tentang ibadah yang menyangkut cara menunanaikan shalat wajib
طلب العلم فريضة على كل مسلم ومسلمة
Menuntut ilmu hukumnya fardhu ain atas seluruh orang Islam laki-laki dan Islam perempuan
أطلب العلم من المهد إلى اللحد
Tuntutlah ilmu sejak lapas dari ayunan sampai masuk liang lahad/yakni Samapai masuk kubur
Ilmu tersebut menjadi wajib diketahui karena tanpa adanya pengetahuan dan ilmu tentang ibadah-ibadah tersebut, tidaklah sah ibadah seseorang
Orang berilmu atau ulama memiliki kedudukan mulia di sisi Allah SWT sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW :
“Saya mendengar Rasulullah _ berkata: “Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan menyiapkan jalan baginya menuju surga. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayapnya karena ridha kepada penuntut ilmu. Sesungguhnya orang yang berilmu itu dimintakan ampunan oleh apa saja yang ada di langit dan yang ada di bumi hingga ikan-ikan di laut yang terdalam. Kelebihan orang berilmu atas orang beribadah adalah seperti kelebihan bulan atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar juga tidak dirham namun mereka mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang mengambilnya, sungguh ia mendapatkan keberuntungan yang besar.”
Pentingnya menuntut ilmu juga disuratkan dalam QS Al-Qalam ayat 1 dan 2 dimana Allah SWT bersumpah demi pena. Ayat tersebut
ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ
Menganjurkan pada kita bahwa saat mencari dan menuntut ilmu, orang-orang beriman sebaiknya menuliskan ilmu tersebut dengan menggunakan pena agar ilmu tersebut tidaklah hilang dan dapat diteruskan bagi generasi selanjutnya untuk dipelajari dikemudian hari.
Maka pentingnya kita mencatat apa yang kita dengar agar tidak hilang begitu saja.
Imam Syafi’i telah menegaskan :
” قَالَ اْلإِمَامُ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ”
العِلْمُ صَيْدٌ وَاْلكِتَابَةُ قَيْدُهُ قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِاْلحِبَالِ اْلوَاثِقَ فَمِنَ اْلحَمَاقَةِ أَنْ تَصِيْدَ غَزَالَة وَ تَتْرُكُهَا بَيْنَ اْلخَلاَئِقِ طَالِقَةً
“Ilmu bagaikan hewan buruan, dan tulisan/pena adalah ibarat tali pengikatnya. Oleh karena itu ikatlah hewan buruanmu dengan tali yang kuat, Adalah tindakan bodoh ketika berburu rusa kemudian setelah rusa itu berhasil ditangkap, kamu biarkan saja dia tanpa diikat dikeramaian.”
Jadi termasuk tindakan kebodohan adalah menbiarkan ilmu tanpa kita mencatat.
DAKWAH, IMAN, DAN AMAL SHOLEH ☆ 1
Mengapa Kita harus berpartisipasi dalam pergerakan dakwah bersama jamaah dakwah yang bergerak di seluruh penjuru dunia ?
Yang perlu kita sadari adalah bahwa hampir lebih dari 80 % kandungan Al Qur’an itu isinya mengenai perjuangan para Nabi AS dalam berdakwah, kisah-kisah ummat yang menolak dakwah para Nabi AS. Tidak ada diterangkan di dalam Al Qur’an ini mengenai jumlah ibadah Nabi-Nabi, berapa banyak sholatnya ? berapa banyak dzikirnya ? berapa banyak puasanya ? tetapi justru yang diceritakan adalah kebanyakan daripada pengorbanan para Nabi. Ini karena Allah ingin kita belajar dari pada pengorbanan para Nabi-nabi ini. Napak tilas pengorbanan merekalah yang telah mendapatkan ridho Allah ini yang patut kita ikuti. Bahkan jantung daripada Al Qur’an itu sendiri yaitu surat yassin, isinya menjelaskan kisah seorang pemuda yang mengajak kaumnya untuk mengikuti daripada ajakan, dakwah, nabi-nabi yang telah datang kepada mereka. Sekarang caranya bagaimana kita mengikuti Napak Tilas mereka yang telah di ridhoi Allah ini.
Akherat adalah kehidupan yang terbentuk dari amal yang kita lakukan di dunia. Apakah orang itu ketika hidup di dunia memilih hidup cara kekasih Allah atau cara Musuh Allah. Jalan kehidupan Nabishallallahu ‘alaihi wasallam adalah satu-satunya jalan hidup yang dapat menghantarkan kita kepada SurgaNya Allah Ta’ala. Inilah yang namanya jalan keselamatan atau Darrussalam. Para Nabi dan sahabat mengajak manusia kepada jalan keselamatan, sedangkan musuh-musuh nabi mengajak manusia kepada jalan kebinasaan. Allah beri kita kebebasan untuk memilih jalan hidup, jalan mana yang mau kita ambil. Salah ambil keputusan akibatnya adalah kesengsaraan yang tidak ada batasnya. Seseorang menjelang sakratul maut, maka Allah akan tampakkan kepadanya Surga dan Neraka sebagai tempat dia kembali. Kehidupan yang wujud amal-amal agama akan mengantarkan seseorang ke surgaNya Allah. Kehidupan yang tidak wujud amal-amal agama akan mengantarkan orang tersebut ke Neraka JahannamNya Allah.
Iman ini mempunyai rasa, sama seperti rasa buah-buahan, ada yang manis, ada yang hambar, dan ada yang asam. Namun Iman ini hanya bisa dirasakan oleh kita sendiri bukan orang lain. Ketika seseorang suka terhadap suatu makanan, tanpa disuruhpun orang tersebut akan memakannya lagi dan lagi. Begitu juga orang yang merasakan manisnya usaha Iman. Iman ini akan terasa manis sejauh mana kita mengenal Allah. Di mulai dari Allah adalah Rabb kita, yaitu pemelihara tunggal. Jika kita telah mengenal dan meyakini bahwa Allah adalah Rabb kita, maka kita akan menyibukkan diri kita hanya dengan ketaatan kepada Allah. Namun hari ini asbab manusia tidak yakin Allah sebagai pemelihara mereka, yang rizkinya adalah Allah yang menanggung, sehingga hari ini banyak manusia yang lari mencari pertolongan dari selain Allah. Rizki manusia ini seluruhnya datangnya dari Allah, berapa jumlahnya dan kapan habisnya ini hanya Allah yang tau. Rizki ini tidak harus berupa makanan dan kebendaan, tetapi bisa juga berupa ketaatan. Nanti akan datang suatu masa dimana sengan dzikir saja Allah akan berikan orang itu kekenyangan.
Jika Iman lemah maka ibadah-ibadah lain akan lemah, dan do’apun akan melemah. Do’a kita akan mempunyai kekuatan jika Iman kita kuat. Iman yang kuat akan membuat do’a menjadi efektif. Saat ini yang paling penting buat kita adalah bagaimana selama 24 jam ini kita pelihara dan tingkatkan Iman kita. Jadikan usaha atas Iman ini seperti kita menghirup udara, tidak mungkin kita stop menghirup udara. Jika kita keluar 4 bulan setiap tahun, itu baru 1/3 dari udara yang kita perlukan. Mengapa hari ini kita tidak bisa menikmati yang namanya Iman, ini karena kita tidak ada usaha atas Iman. Rasa dari suatu usaha akan timbul dari pengorbanan kita atas usaha tersebut.
Iman akan terasa manis ketika kita mengetahui dan mengenal Allah sebagai Rabb kita. Ketika ini kita akan lupakan pekerjaan kita, kita akan lupakan, perdagangan kita, kita akan lupakan pertanian kita, yang kita mau lakukan hanya menyenangkan Allah. Kita harus mempunyai keyakinan bahwa Allah adalah Rabb kita satu-satunya, pemelihara tunggal. Dari yakin yang kuat akan menghasilkan amal yang kuat. Amal yang berkeyakinan inilah yang Allah mau. Sejauh mana kita menyenangkan tuan kita, sejauh itu tuan kita akan memelihara kita dengan baik, seperti inilah antara Allah dengan hambanya. Jika Allah tunjukkan dirinya pada kita, maka segalanya akan berubah bagi kita di dunia ini. Kita akan melupakan dunia dan hanya mengabdi pada Allah. Mudah saja bagi Allah membuat manusia ini beriman, tetapi yang Allah mau adalah melihat manusia ini berkorban untuk perkara Iman. Allah sudah punya malaikat sebagai ahli ibadah yang dapat mengetahui langsung Allah sebagai Rabb seluruh alam. Inilah yang menyebabkan iman manusia lebih afdhol dibanding iman para malaikat.
Manusia mempunyai tradisi, namun jika agama sudah siap kita ambil sebagai pedoman hidup, maka yang namanya tradisi ini harus ditinggalkan. Dan Agama juga bukan tradisi atau sekedar ibadah-ibadah formalitas. Kita membuat agama menjadi tradisi dan formalitas karena kita tidak mengenal agama kita sendiri. Agama ini adalah solusi bagi seluruh masalah kita jika kita yakini dan kita jalani dengan benar. Masalahnya hari ini karena kelemahan Iman kita, sehingga kita jalani agama ini sebatas rutinitas ibadah dan formalitas. Untuk dapat menghilangkan tradisi adat istiadat dan ibadah formalitas, kita harus yakin dulu pada perintah Allah dan apa yang diucapkan oleh Nabishallallahu ‘alaihi wasallam. Jika kita tidak mau meninggalkan tradisi demi perintah Allah dan sunnah Nabishallallahu ‘alaihi wasallam maka adzab Allah akan turun. Masalah akan datang jika kita tinggalkan perintah Allah dan Sunnah Nabishallallahu ‘alaihi wasallam. Sedangkan adzab Allah ini terjadi di dunia dan di akherat, di duniapun Allah akan adzab kita jika kita tidak mau taat.
Segala sesuatu yang kita lakukan ini di dunia telah tercatat oleh malaikat “Kiroman Katibin”, Malaikat pencatat.
Ini adalah suatu kenyataan yang tidak bisa di pungkiri oleh orang yang mempunyai Iman. Semua alat tubuh kita dari tangan, kaki, mata, telinga, perut, hati, dan fikiran adalah alat untuk mendapatkan Iman. Jika ini tidak kita gunakan untuk Allah, maka kita akn gunakan untuk selain Allah, dan ini akan Allah hisab. Semuanya akan menjadi saksi atas amal baik dan amal buruk yang kita kerjakan. Peralatan tubuh ini dapat menjadi alat untuk mendapatkan Iman atau merusak Iman, semuanya tergantung pada kita. Kita akan di hisab oleh Allah untuk setiap waktu yang di gunakan, nikmat yang telah di berikan,amal yang telah di kerjakan, dan keburukan yang telah kita lakukan. Segala hasil yang kita terima di kehidupan Akherat akan dinilai dari kebaikan dan keburukan yang kita lakukan di dunia.
Perbedaan antara orang kafir dan orang beriman terletak pada keyakinan terhadap kehidupan sesudah mati. Hari ini kenapa kehidupan kita tidak jauh seperti orang kafir. Ini karena keyakinan kita terhadap kehidupan sesudah mati sama seperti mereka. Kalau kita mempunyai keyakinan terhadap kehidupan sesudah mati, maka seluruh nikmat dunia kita akan terasa hambar dan kita hanya akan memikirkan kehidupan akherat kita saja
Dengan Dakwah maka akan tercipta suasana Imaniat dan suasana Amaliat. Jika suasana Agama terbentuk maka Iman kita akan terjaga dan terpelihara. Suasana Amal Madinah adalah salah satu sarana yang menyebabkan Iman para sahabat terpelihara dan terjaga
Iman sahabat adalah bukti Iman dan kehidupan yang sempurna. Kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah contoh kehidupan yang sempurna disisi Allah. Sahabat semuanya dapat mengikuti kehidupan yang telah di contohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Para kaum kafirin dengan siksaan yang telah mereka berikan kepada sahabat, berharap agar sahabat mau meninggalkan keimanan mereka. Namun apa yang terjadi, justru asbab penyiksaan para kaum kafirin, Iman sahabat jadi meningkat, tidak berkurang sedikitpun. Bilal radhiyallahu ‘anhupernah di tanya kapan masa dia paling bahagia, dia menjawab, “Ketika aku disiksa oleh majikanku dan Abu Jahal ketika itu, di panggang dibawah terik matahari dan di tindih dengan batu yang besarnya melebihi bobotku.” Inilah asbab keimanan sahabat yaitu dengan pengorbanan dan bersusah payah untuk Iman
Sahabat disiksa karena melakukan usaha atas Iman. Sahabat juga berdagang, hanya saja perdagangan mereka sering diganggu oleh kaum kafir asbab usaha dakwah yang mereka lakukan. Inilah pengorbanan sahabat buat agama. Untuk perkara ini kita perlu siapkan diri kita berkorban seperti Sahabatradhiyallahu ‘anhum ajma’in. Tahap pertama adalah belajar berkorban keluar di jalan Allah untuk mendapatkan Iman.
Insya Allah persiapkan diri untuk gerak bersama jamaah dakwah 4 bulan di jalan Allah……….
Yang perlu kita sadari adalah bahwa hampir lebih dari 80 % kandungan Al Qur’an itu isinya mengenai perjuangan para Nabi AS dalam berdakwah, kisah-kisah ummat yang menolak dakwah para Nabi AS. Tidak ada diterangkan di dalam Al Qur’an ini mengenai jumlah ibadah Nabi-Nabi, berapa banyak sholatnya ? berapa banyak dzikirnya ? berapa banyak puasanya ? tetapi justru yang diceritakan adalah kebanyakan daripada pengorbanan para Nabi. Ini karena Allah ingin kita belajar dari pada pengorbanan para Nabi-nabi ini. Napak tilas pengorbanan merekalah yang telah mendapatkan ridho Allah ini yang patut kita ikuti. Bahkan jantung daripada Al Qur’an itu sendiri yaitu surat yassin, isinya menjelaskan kisah seorang pemuda yang mengajak kaumnya untuk mengikuti daripada ajakan, dakwah, nabi-nabi yang telah datang kepada mereka. Sekarang caranya bagaimana kita mengikuti Napak Tilas mereka yang telah di ridhoi Allah ini.
Akherat adalah kehidupan yang terbentuk dari amal yang kita lakukan di dunia. Apakah orang itu ketika hidup di dunia memilih hidup cara kekasih Allah atau cara Musuh Allah. Jalan kehidupan Nabishallallahu ‘alaihi wasallam adalah satu-satunya jalan hidup yang dapat menghantarkan kita kepada SurgaNya Allah Ta’ala. Inilah yang namanya jalan keselamatan atau Darrussalam. Para Nabi dan sahabat mengajak manusia kepada jalan keselamatan, sedangkan musuh-musuh nabi mengajak manusia kepada jalan kebinasaan. Allah beri kita kebebasan untuk memilih jalan hidup, jalan mana yang mau kita ambil. Salah ambil keputusan akibatnya adalah kesengsaraan yang tidak ada batasnya. Seseorang menjelang sakratul maut, maka Allah akan tampakkan kepadanya Surga dan Neraka sebagai tempat dia kembali. Kehidupan yang wujud amal-amal agama akan mengantarkan seseorang ke surgaNya Allah. Kehidupan yang tidak wujud amal-amal agama akan mengantarkan orang tersebut ke Neraka JahannamNya Allah.
Iman ini mempunyai rasa, sama seperti rasa buah-buahan, ada yang manis, ada yang hambar, dan ada yang asam. Namun Iman ini hanya bisa dirasakan oleh kita sendiri bukan orang lain. Ketika seseorang suka terhadap suatu makanan, tanpa disuruhpun orang tersebut akan memakannya lagi dan lagi. Begitu juga orang yang merasakan manisnya usaha Iman. Iman ini akan terasa manis sejauh mana kita mengenal Allah. Di mulai dari Allah adalah Rabb kita, yaitu pemelihara tunggal. Jika kita telah mengenal dan meyakini bahwa Allah adalah Rabb kita, maka kita akan menyibukkan diri kita hanya dengan ketaatan kepada Allah. Namun hari ini asbab manusia tidak yakin Allah sebagai pemelihara mereka, yang rizkinya adalah Allah yang menanggung, sehingga hari ini banyak manusia yang lari mencari pertolongan dari selain Allah. Rizki manusia ini seluruhnya datangnya dari Allah, berapa jumlahnya dan kapan habisnya ini hanya Allah yang tau. Rizki ini tidak harus berupa makanan dan kebendaan, tetapi bisa juga berupa ketaatan. Nanti akan datang suatu masa dimana sengan dzikir saja Allah akan berikan orang itu kekenyangan.
Jika Iman lemah maka ibadah-ibadah lain akan lemah, dan do’apun akan melemah. Do’a kita akan mempunyai kekuatan jika Iman kita kuat. Iman yang kuat akan membuat do’a menjadi efektif. Saat ini yang paling penting buat kita adalah bagaimana selama 24 jam ini kita pelihara dan tingkatkan Iman kita. Jadikan usaha atas Iman ini seperti kita menghirup udara, tidak mungkin kita stop menghirup udara. Jika kita keluar 4 bulan setiap tahun, itu baru 1/3 dari udara yang kita perlukan. Mengapa hari ini kita tidak bisa menikmati yang namanya Iman, ini karena kita tidak ada usaha atas Iman. Rasa dari suatu usaha akan timbul dari pengorbanan kita atas usaha tersebut.
Iman akan terasa manis ketika kita mengetahui dan mengenal Allah sebagai Rabb kita. Ketika ini kita akan lupakan pekerjaan kita, kita akan lupakan, perdagangan kita, kita akan lupakan pertanian kita, yang kita mau lakukan hanya menyenangkan Allah. Kita harus mempunyai keyakinan bahwa Allah adalah Rabb kita satu-satunya, pemelihara tunggal. Dari yakin yang kuat akan menghasilkan amal yang kuat. Amal yang berkeyakinan inilah yang Allah mau. Sejauh mana kita menyenangkan tuan kita, sejauh itu tuan kita akan memelihara kita dengan baik, seperti inilah antara Allah dengan hambanya. Jika Allah tunjukkan dirinya pada kita, maka segalanya akan berubah bagi kita di dunia ini. Kita akan melupakan dunia dan hanya mengabdi pada Allah. Mudah saja bagi Allah membuat manusia ini beriman, tetapi yang Allah mau adalah melihat manusia ini berkorban untuk perkara Iman. Allah sudah punya malaikat sebagai ahli ibadah yang dapat mengetahui langsung Allah sebagai Rabb seluruh alam. Inilah yang menyebabkan iman manusia lebih afdhol dibanding iman para malaikat.
Manusia mempunyai tradisi, namun jika agama sudah siap kita ambil sebagai pedoman hidup, maka yang namanya tradisi ini harus ditinggalkan. Dan Agama juga bukan tradisi atau sekedar ibadah-ibadah formalitas. Kita membuat agama menjadi tradisi dan formalitas karena kita tidak mengenal agama kita sendiri. Agama ini adalah solusi bagi seluruh masalah kita jika kita yakini dan kita jalani dengan benar. Masalahnya hari ini karena kelemahan Iman kita, sehingga kita jalani agama ini sebatas rutinitas ibadah dan formalitas. Untuk dapat menghilangkan tradisi adat istiadat dan ibadah formalitas, kita harus yakin dulu pada perintah Allah dan apa yang diucapkan oleh Nabishallallahu ‘alaihi wasallam. Jika kita tidak mau meninggalkan tradisi demi perintah Allah dan sunnah Nabishallallahu ‘alaihi wasallam maka adzab Allah akan turun. Masalah akan datang jika kita tinggalkan perintah Allah dan Sunnah Nabishallallahu ‘alaihi wasallam. Sedangkan adzab Allah ini terjadi di dunia dan di akherat, di duniapun Allah akan adzab kita jika kita tidak mau taat.
Segala sesuatu yang kita lakukan ini di dunia telah tercatat oleh malaikat “Kiroman Katibin”, Malaikat pencatat.
Ini adalah suatu kenyataan yang tidak bisa di pungkiri oleh orang yang mempunyai Iman. Semua alat tubuh kita dari tangan, kaki, mata, telinga, perut, hati, dan fikiran adalah alat untuk mendapatkan Iman. Jika ini tidak kita gunakan untuk Allah, maka kita akn gunakan untuk selain Allah, dan ini akan Allah hisab. Semuanya akan menjadi saksi atas amal baik dan amal buruk yang kita kerjakan. Peralatan tubuh ini dapat menjadi alat untuk mendapatkan Iman atau merusak Iman, semuanya tergantung pada kita. Kita akan di hisab oleh Allah untuk setiap waktu yang di gunakan, nikmat yang telah di berikan,amal yang telah di kerjakan, dan keburukan yang telah kita lakukan. Segala hasil yang kita terima di kehidupan Akherat akan dinilai dari kebaikan dan keburukan yang kita lakukan di dunia.
Perbedaan antara orang kafir dan orang beriman terletak pada keyakinan terhadap kehidupan sesudah mati. Hari ini kenapa kehidupan kita tidak jauh seperti orang kafir. Ini karena keyakinan kita terhadap kehidupan sesudah mati sama seperti mereka. Kalau kita mempunyai keyakinan terhadap kehidupan sesudah mati, maka seluruh nikmat dunia kita akan terasa hambar dan kita hanya akan memikirkan kehidupan akherat kita saja
Dengan Dakwah maka akan tercipta suasana Imaniat dan suasana Amaliat. Jika suasana Agama terbentuk maka Iman kita akan terjaga dan terpelihara. Suasana Amal Madinah adalah salah satu sarana yang menyebabkan Iman para sahabat terpelihara dan terjaga
Iman sahabat adalah bukti Iman dan kehidupan yang sempurna. Kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah contoh kehidupan yang sempurna disisi Allah. Sahabat semuanya dapat mengikuti kehidupan yang telah di contohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Para kaum kafirin dengan siksaan yang telah mereka berikan kepada sahabat, berharap agar sahabat mau meninggalkan keimanan mereka. Namun apa yang terjadi, justru asbab penyiksaan para kaum kafirin, Iman sahabat jadi meningkat, tidak berkurang sedikitpun. Bilal radhiyallahu ‘anhupernah di tanya kapan masa dia paling bahagia, dia menjawab, “Ketika aku disiksa oleh majikanku dan Abu Jahal ketika itu, di panggang dibawah terik matahari dan di tindih dengan batu yang besarnya melebihi bobotku.” Inilah asbab keimanan sahabat yaitu dengan pengorbanan dan bersusah payah untuk Iman
Sahabat disiksa karena melakukan usaha atas Iman. Sahabat juga berdagang, hanya saja perdagangan mereka sering diganggu oleh kaum kafir asbab usaha dakwah yang mereka lakukan. Inilah pengorbanan sahabat buat agama. Untuk perkara ini kita perlu siapkan diri kita berkorban seperti Sahabatradhiyallahu ‘anhum ajma’in. Tahap pertama adalah belajar berkorban keluar di jalan Allah untuk mendapatkan Iman.
Insya Allah persiapkan diri untuk gerak bersama jamaah dakwah 4 bulan di jalan Allah……….
DUNIA SEMENTARA AKHIRAT SELAMA-LAMANYA ☆ 2
Setiap manusia yang mau hidup tenang, damai, dan bahagia mereka harus mempunyai Iman yang benar. Menurut para ulama Iman itu ada rasanya, seperti gula yang rasanya manis dan garam yang rasanya asin. Kalau Iman ini tidak ada rasanya, ini berarti palsu Imannya. Nabi SAW bertanya kepada sahabat, “Bagaimana rasanya Iman kamu hari ini.” Lalu sahabat menjawab, “Saya dalam merasa betul-betul beriman ya Rasullullah.” Nabi SAW bertanya, “apa buktinya ?” Sahabat menjawab, “Saya merasa dunia ini sudah tidak ada artinya.” Sahabat ketika malam, mereka Tahajjud semalam suntuk, dan ketika siang dalam keadaan berpuasa. Sahabat tidur malam tidak yakin dapat hidup hingga pagi, bangun pagi tidak yakin bisa hidup sampai malam. Ketika melangkahkan kaki kanan rasanya tidak yakin masih bisa hidup ketika melangkahkan kaki kiri. Ketika mengucapkan salam ke kanan dalam sholat rasanya tidak yakin masih bisa memberi salam ke kiri. Inilah keimanan para sahabat, dan rasa dari Iman mereka.
Hari ini setiap manusia hidup dalam ketakutan sehingga dia mati-matian usaha untuk menghilangkan rasa takutnya. Hari ini apa yang paling di takutkan manusia yaitu takut miskin dan takut susah. Sehingga asbab ketakutan ini, mereka mati-matian mengumpulkan harta. Padahal untuk menghilangkan rasa takut ini mudah saja, tidak perlu kerja mati-matian kerja, tidak perlu uang yang banyak, cukup dengan agama saja. Agama ini adalah solusi bagi seluruh rasa takut manusia. Dengan agama nanti Allah akan ganti rasa takut miskin dan rasa takut susah dengan rasa kaya dan rasa tenangnya penghuni Surga di dunia. Apa itu rasa cukup dan tenangnya penghuni surga, yaitu ketika Allah bertanya kepada mereka di surga, “Apa lagi yang kalian mau ?” maka para penghuni surga akan bingung mau apa lagi karena mereka sudah merasa mendapatkan semua yang mereka mau, sudah merasa cukup. Begitu pula dengan orang beriman yang telah Allah masukkan rasa cukup dan tenang kedalam hati mereka maka mereka akan bingung mau apa lagi. Lalu diakherat dia akan Allah jadikan orang yang kaya dan berkuasa. Allah akan buatkan istana untuknya, yang di dalam istana ini terdapat lagi 70 puluh istana, dan setiap istana mempunyai 70 kamar. Semuanya qualitas satu, dari wanita-wanitanya, makanan-makananya, pelayan-pelayannya, sampai pada kebendaannya. Dengan Agama, Allah jadikan kita manusia yang kaya di dunia dan akherat, tidak perlu susah-susah seperti di dunia.
Jadi Agama ini adalah solusi bagi seluruh rasa ketakutan dan masalah manusia. Untuk dapat mengamalkan agama ini perlu yang namanya Iman. Maulana Saad berkata, “Bagaimana Iman dan Agama bisa wujud dalam diri kita jika waktu kita sebagian besar masih digunakan untuk Dunia. Sementara waktu untuk agama hanya 2.5 Jam.” Orang memberi alasan tidak bisa mengamalkan agama karena keadaan dan lingkungan. Alasan-alasan ini tidak akan diterima di pengadilan Allah nanti
Kalau kita mau ikuti kehendak Allah nanti Allah akan bantu kita dan penuhi keinginan kita. Semua keadaan nanti akan Allah buat untuk memenuhi keinginan kita. Kita harus percaya dan yakin kalau Allah bisa buat apa saja. Jangan terlalu percaya pada akal, apa yang diakal belum tentu bener. Kini karena akal, kehebatan Allah jadi hilang. Kini mana ada orang yang percaya ada orang lahir tanpa ibu dan bapak, tapi Allah telah ciptakan Adam AS tanpa ibu dan bapak. Kini tak ada yang akan percaya kalau laki-laki bisa melahirkan perempuan, padahal Allah telah lahirkan Hawa AS dari Adam AS. Begitu juga tentang anak lahir tanpa bapak, seperti Isa AS. Jadi pertama kita perlu yakini dulu kalau Allah kuasa dan hanya Allah yang bisa selain Allah tidak bisa apa-apa. Jangan sampai salah bergantung dan jangan sampai tertipu. Semuanya tidak ada yang memberikan apa yang kita perlukan, yang bisa hanya Allah.
Kunci kesuksesan itu hanya ada pada Allah Ta’ala, jadi kini yang perlu kita lakukan adalah buat sambungan yang benar dengan Allah Ta’ala. Kalau kita ada hubungan baik dan sambungan yang benar dengan Allah Ta’ala maka semuanya akan beres, tidak ada masalah. Hanya dengan cara mempunyai sambungan yang benar dengan Allah baru Allah berikan kesuksesan. Kesuksesan itu tidak Allah letakkan pada keadaan-keadaan seperti miskin atau kaya, sakit atau sehat. Kesuksesan itu adalah ketika Sehat kita taat dan ketika sakit tetap taat, ini baru sukses. Ketika kaya taat dan ketika miskinpun tetap taat, ini baru sukses. Punya sambungan yang baik dengan Allah maka hidupnya akan baik. Tetapi jika tidak ada sambungan dengan Allah walaupun punya banyak harta dan kekuasaan yang luas maka hidupnya akan penuh masalah seperti Firaun dan Qorun.
Agar kita bisa nyambung dengan Allah Ta’ala makanya kita perlu Agama. Hanya dengan Agama kita bisa nyambung dengan Allah Ta’ala, karena Agama ini isinya adalah keinginan dan kehendak Allah. Nanti hanya Orang yang nyambung dan punya hubungan baik dengan Allah Ta’ala yang akan dimenangkan oleh Allah Ta’ala. Bagaimana Nabi Ibrahim punya sambungan yang benar dan hubungan baik dengan Allah Ta’ala sehingga api yang panas dibuat sejuk oleh Allah Ta’ala. Ini secara logika tidak kena dan tidak mungkin, tetapi bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin, semuanya mungkin2x aja, dan Allah masih banyak cara lagi yang kesannya tidak mungkin oleh akal. Bagaimana Nabi Yunus Allah Ta’ala pelihara dalam perut Ikan di kedalaman laut. Ini semua dapat terjadi karena mereka punya hubungan baik dan sambungan yang benar dengan Allah Ta’ala. Yang paling penting Iman dan Amal jika ini ada maka semuanya akan beres.
Saat ini, yang paling penting adalah bagaimana kita fikirkan diri kita agar bisa menjadi hamba yang baik. Jika kita bisa menjadi hamba yang baik maka nanti Allah akan berikan kita kebaikan-kebaikan yang banyak sekali, di dunia dan di akherat. Kini kita lihat anjing aja yang baik dengan tuannya, maka tuannya akan menyediakan segala kebutuhannya dan akan merawatnya. Dia akan dimandikan, di sediakan makanannya, sakit dibawa kedokter hewan, bahkan kini ada salon dan restoran untuk anjing agar anjing ini bisa senang. Beda dengan anjing liar, tidak patuh pada majikannya, maka dia akan dibiarkan, makan nyari sendiri susah-susah, dikejar-kejar orang mau dipukulin, tidak ada yang ngerawat, tidurnya tidak enak. Bagaimana dengan manusia jika dia mau jadi hamba yang baik, maka semuanya akan Allah bereskan kebutuhan dan masalahnya.
Yang paling baik adalah bagaimana kita ini jadi hamba saja yang baik dijamin tenang dan senang, Hayatun Thoyibah. Contohnya, seorang anak kecil ngtidak pernah pusing mikirin listrik, air, makan, baju baru, karena ia yakin orang tuanya akan menyelesaikan segala urusannya. Nah kalau kita punya keyakinan seperti ini maka Insya Allah kita bisa mendapatkan Hayatun Thoyibah. Nabi SAW pernah berkata :
“Allah lebih mencintai hambaNya melebihi seseorang Ibu kepada anaknya 70 kali lipat”
Seharusnya dengan hadist ini kita bisa lebih santai menghadapi hidup ini melebihi santainya seorang anak kecil. Karena kita yakin Allah akan menyelesaikan masalah-masalah kita sebagaimana seorang ibu menyelesaikan masalah anaknya.
Inilah yang diajak Nabi-nabi dari dulu dan ini yang Allah mau kita jaga. Sampai-sampai Allah kirim 124.000 nabi-nabi agar kita semua dapat selamat dan punya yakin yang benar. Selamat dari adzab Allah di dunia dan di akherat. Jangan sampai tertipu dan jangan sampai salah bergantung, inilah yang diajak nabi-nabi. Gantungkan diri kita hanya pada Allah karena dari dulu orang-orang yang menang, sukses, dan bahagia dunia dan akherat hanya orang-orang yang punya hubungan baik dengan Allah dan gantungan yang benar. Kalau ada perlu minta aja langsung pada Allah, Allah seneng diminta. Tidak usah takut, kita ada Allah yang semakin diminta semakin seneng. Allah hanya perlu kita yakin seperti yakinnya anak kecil, yaitu yakinnya anak pada orang tuanya. Uang tidak bisa buat apa-apa, kalau kita dikejar anjing apakah anjing dapat disogok ? Laa Illaha Illallah.
Orang yang beragama, baik ibadahnya, ini tidak otomatis dia jadi kaya, atau pangkat naik. Tetapi agama ini adalah memberikan keberkahan yaitu menghilangkan ketakutan dan kesusahan walapun miskin. Dengan agama ini Allah akan masukkan rasa kaya walaupun dia hidup miskin. Sekarang masalahnya adalah hati yang miskin, hati yang selalu merasa kurang, tidak pernah cukup, selalu was-was. Inilah masalah semua orang hari ini. Tapi karena Allah ini Maha Baik maka Allah berikan kita agama. Jadi agama itu adalah keberkahan dan ketenangan bukan untuk mendatangkan kekayaan atau kenaikan pangkat. Modal hidup yang terbaik adalah bagaimana kita dapat hadirkan Allah dalam hati ini dengan Agama. Agama adalah tertib hidup yang Allah kasih untuk manusia. Kalau matahari tidak mau ikut tertib yang Allah kasih, bintang tidak mau ikut tertib yang Allah kasih, maka yang ada kerusakan. Begitu juga kita jika kita tidak mau ikut tertib yang Allah kasih maka kita akan rusak dan merusaki. Karena tanpa agama hati orang ini akan rusak walaupun hatinya dipenuhi seluruh isi langit dan bumi, tetap aja tidak akan pernah merasa tercukupi atau terpuasi, selalu merasa kurang. Kalau hati udah rusak maka rusaklah seluruhnya. Hidupnya akan rusak dan merusaki. Banyak orang yang kelihatan sukses dari kebendaan dan pangkat tetapi susah hatinya. Ini karena tidak nyambung dengan Agama. Tetapi kalau ada Agama hati orang ini akan baik. Jika baik hatinya maka akan baik badannya, dan kehidupannya. Hati ini akan tenang, tidak stress, tidak merasa susah dan sedih. Tenang aja, kan ada Allah. Laa Illaha Illallah.
Dunia ini hanya tempat untuk persiapan untuk kehidupan yang abadi, tempat untuk usaha. Sedangkan akherat adalah tempat untuk menerima hasil atau gaji. Sukses dan gagalnya seseorang nanti di akherat bukan di dunia. Banyak orang kelihatan dari segi kebendaan sukses ternyata susah. Firaun dan Qorun dari segi kebendaan dan kekuasaan kelihatannya sukses tetapi ternyata didunianya saja sudah menderita, apalagi setiap ketemu Musa AS, selalu keluh kesah. Kehidupan yang sukses sebenarnya adalah kehidupan yang dapat mengantarkan kita ke surganya Allah. Daripada hidup terkenal, kaya raya, dan berkuasa tetapi ujungnya masuk neraka, ini namanya kegagalan.
Dunia ini bukannya tempat untuk memenuhi kemauan kita, tapi tempat untuk bersabar atas keinginan-keingan kita. Sekarang ini adalah tempat untuk ikuti maunya Allah, nanti Allah baru penuhi maunya kita di surga. Nanti akan ada satu kesempatan Allah akan sempurnakan seluruh kemauan kita, sesuka kita. Tapi sekarang kita sempurnakan dulu maunya Allah. Dunia ini hanya tempat ujian dan penjara bagi orang beriman. Tidak ada kebebasan bagi orang beriman selama di dunia. Semuanya harus ikut aturan seperti dalam penjara. Bebas nanti kalau masuk surganya Allah. Didunia ini kita di uji untuk ikuti perintah Allah yang kelihatan hasilnya. Kalau dilihatin hasil dari 27 derajat sholat maka kontan mesjid akan ramai jadi tempat antrian. Bahkan kini yang taat terlihat susah dan yang tidak taat telihat senang. Ini karena dunia ini adalah tempat untuk bersabar bagi orang beriman, senangnya nanti di akherat.
Hari ini setiap manusia hidup dalam ketakutan sehingga dia mati-matian usaha untuk menghilangkan rasa takutnya. Hari ini apa yang paling di takutkan manusia yaitu takut miskin dan takut susah. Sehingga asbab ketakutan ini, mereka mati-matian mengumpulkan harta. Padahal untuk menghilangkan rasa takut ini mudah saja, tidak perlu kerja mati-matian kerja, tidak perlu uang yang banyak, cukup dengan agama saja. Agama ini adalah solusi bagi seluruh rasa takut manusia. Dengan agama nanti Allah akan ganti rasa takut miskin dan rasa takut susah dengan rasa kaya dan rasa tenangnya penghuni Surga di dunia. Apa itu rasa cukup dan tenangnya penghuni surga, yaitu ketika Allah bertanya kepada mereka di surga, “Apa lagi yang kalian mau ?” maka para penghuni surga akan bingung mau apa lagi karena mereka sudah merasa mendapatkan semua yang mereka mau, sudah merasa cukup. Begitu pula dengan orang beriman yang telah Allah masukkan rasa cukup dan tenang kedalam hati mereka maka mereka akan bingung mau apa lagi. Lalu diakherat dia akan Allah jadikan orang yang kaya dan berkuasa. Allah akan buatkan istana untuknya, yang di dalam istana ini terdapat lagi 70 puluh istana, dan setiap istana mempunyai 70 kamar. Semuanya qualitas satu, dari wanita-wanitanya, makanan-makananya, pelayan-pelayannya, sampai pada kebendaannya. Dengan Agama, Allah jadikan kita manusia yang kaya di dunia dan akherat, tidak perlu susah-susah seperti di dunia.
Jadi Agama ini adalah solusi bagi seluruh rasa ketakutan dan masalah manusia. Untuk dapat mengamalkan agama ini perlu yang namanya Iman. Maulana Saad berkata, “Bagaimana Iman dan Agama bisa wujud dalam diri kita jika waktu kita sebagian besar masih digunakan untuk Dunia. Sementara waktu untuk agama hanya 2.5 Jam.” Orang memberi alasan tidak bisa mengamalkan agama karena keadaan dan lingkungan. Alasan-alasan ini tidak akan diterima di pengadilan Allah nanti
Kalau kita mau ikuti kehendak Allah nanti Allah akan bantu kita dan penuhi keinginan kita. Semua keadaan nanti akan Allah buat untuk memenuhi keinginan kita. Kita harus percaya dan yakin kalau Allah bisa buat apa saja. Jangan terlalu percaya pada akal, apa yang diakal belum tentu bener. Kini karena akal, kehebatan Allah jadi hilang. Kini mana ada orang yang percaya ada orang lahir tanpa ibu dan bapak, tapi Allah telah ciptakan Adam AS tanpa ibu dan bapak. Kini tak ada yang akan percaya kalau laki-laki bisa melahirkan perempuan, padahal Allah telah lahirkan Hawa AS dari Adam AS. Begitu juga tentang anak lahir tanpa bapak, seperti Isa AS. Jadi pertama kita perlu yakini dulu kalau Allah kuasa dan hanya Allah yang bisa selain Allah tidak bisa apa-apa. Jangan sampai salah bergantung dan jangan sampai tertipu. Semuanya tidak ada yang memberikan apa yang kita perlukan, yang bisa hanya Allah.
Kunci kesuksesan itu hanya ada pada Allah Ta’ala, jadi kini yang perlu kita lakukan adalah buat sambungan yang benar dengan Allah Ta’ala. Kalau kita ada hubungan baik dan sambungan yang benar dengan Allah Ta’ala maka semuanya akan beres, tidak ada masalah. Hanya dengan cara mempunyai sambungan yang benar dengan Allah baru Allah berikan kesuksesan. Kesuksesan itu tidak Allah letakkan pada keadaan-keadaan seperti miskin atau kaya, sakit atau sehat. Kesuksesan itu adalah ketika Sehat kita taat dan ketika sakit tetap taat, ini baru sukses. Ketika kaya taat dan ketika miskinpun tetap taat, ini baru sukses. Punya sambungan yang baik dengan Allah maka hidupnya akan baik. Tetapi jika tidak ada sambungan dengan Allah walaupun punya banyak harta dan kekuasaan yang luas maka hidupnya akan penuh masalah seperti Firaun dan Qorun.
Agar kita bisa nyambung dengan Allah Ta’ala makanya kita perlu Agama. Hanya dengan Agama kita bisa nyambung dengan Allah Ta’ala, karena Agama ini isinya adalah keinginan dan kehendak Allah. Nanti hanya Orang yang nyambung dan punya hubungan baik dengan Allah Ta’ala yang akan dimenangkan oleh Allah Ta’ala. Bagaimana Nabi Ibrahim punya sambungan yang benar dan hubungan baik dengan Allah Ta’ala sehingga api yang panas dibuat sejuk oleh Allah Ta’ala. Ini secara logika tidak kena dan tidak mungkin, tetapi bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin, semuanya mungkin2x aja, dan Allah masih banyak cara lagi yang kesannya tidak mungkin oleh akal. Bagaimana Nabi Yunus Allah Ta’ala pelihara dalam perut Ikan di kedalaman laut. Ini semua dapat terjadi karena mereka punya hubungan baik dan sambungan yang benar dengan Allah Ta’ala. Yang paling penting Iman dan Amal jika ini ada maka semuanya akan beres.
Saat ini, yang paling penting adalah bagaimana kita fikirkan diri kita agar bisa menjadi hamba yang baik. Jika kita bisa menjadi hamba yang baik maka nanti Allah akan berikan kita kebaikan-kebaikan yang banyak sekali, di dunia dan di akherat. Kini kita lihat anjing aja yang baik dengan tuannya, maka tuannya akan menyediakan segala kebutuhannya dan akan merawatnya. Dia akan dimandikan, di sediakan makanannya, sakit dibawa kedokter hewan, bahkan kini ada salon dan restoran untuk anjing agar anjing ini bisa senang. Beda dengan anjing liar, tidak patuh pada majikannya, maka dia akan dibiarkan, makan nyari sendiri susah-susah, dikejar-kejar orang mau dipukulin, tidak ada yang ngerawat, tidurnya tidak enak. Bagaimana dengan manusia jika dia mau jadi hamba yang baik, maka semuanya akan Allah bereskan kebutuhan dan masalahnya.
Yang paling baik adalah bagaimana kita ini jadi hamba saja yang baik dijamin tenang dan senang, Hayatun Thoyibah. Contohnya, seorang anak kecil ngtidak pernah pusing mikirin listrik, air, makan, baju baru, karena ia yakin orang tuanya akan menyelesaikan segala urusannya. Nah kalau kita punya keyakinan seperti ini maka Insya Allah kita bisa mendapatkan Hayatun Thoyibah. Nabi SAW pernah berkata :
“Allah lebih mencintai hambaNya melebihi seseorang Ibu kepada anaknya 70 kali lipat”
Seharusnya dengan hadist ini kita bisa lebih santai menghadapi hidup ini melebihi santainya seorang anak kecil. Karena kita yakin Allah akan menyelesaikan masalah-masalah kita sebagaimana seorang ibu menyelesaikan masalah anaknya.
Inilah yang diajak Nabi-nabi dari dulu dan ini yang Allah mau kita jaga. Sampai-sampai Allah kirim 124.000 nabi-nabi agar kita semua dapat selamat dan punya yakin yang benar. Selamat dari adzab Allah di dunia dan di akherat. Jangan sampai tertipu dan jangan sampai salah bergantung, inilah yang diajak nabi-nabi. Gantungkan diri kita hanya pada Allah karena dari dulu orang-orang yang menang, sukses, dan bahagia dunia dan akherat hanya orang-orang yang punya hubungan baik dengan Allah dan gantungan yang benar. Kalau ada perlu minta aja langsung pada Allah, Allah seneng diminta. Tidak usah takut, kita ada Allah yang semakin diminta semakin seneng. Allah hanya perlu kita yakin seperti yakinnya anak kecil, yaitu yakinnya anak pada orang tuanya. Uang tidak bisa buat apa-apa, kalau kita dikejar anjing apakah anjing dapat disogok ? Laa Illaha Illallah.
Orang yang beragama, baik ibadahnya, ini tidak otomatis dia jadi kaya, atau pangkat naik. Tetapi agama ini adalah memberikan keberkahan yaitu menghilangkan ketakutan dan kesusahan walapun miskin. Dengan agama ini Allah akan masukkan rasa kaya walaupun dia hidup miskin. Sekarang masalahnya adalah hati yang miskin, hati yang selalu merasa kurang, tidak pernah cukup, selalu was-was. Inilah masalah semua orang hari ini. Tapi karena Allah ini Maha Baik maka Allah berikan kita agama. Jadi agama itu adalah keberkahan dan ketenangan bukan untuk mendatangkan kekayaan atau kenaikan pangkat. Modal hidup yang terbaik adalah bagaimana kita dapat hadirkan Allah dalam hati ini dengan Agama. Agama adalah tertib hidup yang Allah kasih untuk manusia. Kalau matahari tidak mau ikut tertib yang Allah kasih, bintang tidak mau ikut tertib yang Allah kasih, maka yang ada kerusakan. Begitu juga kita jika kita tidak mau ikut tertib yang Allah kasih maka kita akan rusak dan merusaki. Karena tanpa agama hati orang ini akan rusak walaupun hatinya dipenuhi seluruh isi langit dan bumi, tetap aja tidak akan pernah merasa tercukupi atau terpuasi, selalu merasa kurang. Kalau hati udah rusak maka rusaklah seluruhnya. Hidupnya akan rusak dan merusaki. Banyak orang yang kelihatan sukses dari kebendaan dan pangkat tetapi susah hatinya. Ini karena tidak nyambung dengan Agama. Tetapi kalau ada Agama hati orang ini akan baik. Jika baik hatinya maka akan baik badannya, dan kehidupannya. Hati ini akan tenang, tidak stress, tidak merasa susah dan sedih. Tenang aja, kan ada Allah. Laa Illaha Illallah.
Dunia ini hanya tempat untuk persiapan untuk kehidupan yang abadi, tempat untuk usaha. Sedangkan akherat adalah tempat untuk menerima hasil atau gaji. Sukses dan gagalnya seseorang nanti di akherat bukan di dunia. Banyak orang kelihatan dari segi kebendaan sukses ternyata susah. Firaun dan Qorun dari segi kebendaan dan kekuasaan kelihatannya sukses tetapi ternyata didunianya saja sudah menderita, apalagi setiap ketemu Musa AS, selalu keluh kesah. Kehidupan yang sukses sebenarnya adalah kehidupan yang dapat mengantarkan kita ke surganya Allah. Daripada hidup terkenal, kaya raya, dan berkuasa tetapi ujungnya masuk neraka, ini namanya kegagalan.
Dunia ini bukannya tempat untuk memenuhi kemauan kita, tapi tempat untuk bersabar atas keinginan-keingan kita. Sekarang ini adalah tempat untuk ikuti maunya Allah, nanti Allah baru penuhi maunya kita di surga. Nanti akan ada satu kesempatan Allah akan sempurnakan seluruh kemauan kita, sesuka kita. Tapi sekarang kita sempurnakan dulu maunya Allah. Dunia ini hanya tempat ujian dan penjara bagi orang beriman. Tidak ada kebebasan bagi orang beriman selama di dunia. Semuanya harus ikut aturan seperti dalam penjara. Bebas nanti kalau masuk surganya Allah. Didunia ini kita di uji untuk ikuti perintah Allah yang kelihatan hasilnya. Kalau dilihatin hasil dari 27 derajat sholat maka kontan mesjid akan ramai jadi tempat antrian. Bahkan kini yang taat terlihat susah dan yang tidak taat telihat senang. Ini karena dunia ini adalah tempat untuk bersabar bagi orang beriman, senangnya nanti di akherat.
Langganan:
Postingan (Atom)
